web analytics
  

Warung Kopi Purnama dan Budaya Kopitiam di Kota Bandung

Rabu, 19 Agustus 2020 09:38 WIB M. Naufal Hafizh
Gaya Hidup - Kuliner, Warung Kopi Purnama dan Budaya Kopitiam di Kota Bandung, Kopitiam,Warung Kopi Purnama,kedai kopi legendaris,heritage,Dr Dewi Turgarini, S.S., MM.Par,komunitas pedagang Tionghoa,Akulturasi budaya

Keberadaan Warung Kopi Purnama merupakan jejak pertama budaya dan tradisi kopitiam di Kota Bandung, tempat yang menyajikan kopi dan sarapan serta wadah interaksi masyarakat Tionghoa di daerah Pasar Baru pada saat itu. (Instagram/@warungkopipurnama)

SUMUR BANDUNG, AYOBANDUNG.COM -- Warung Kopi Purnama dikenal sebagai salah satu kedai kopi legendaris dan ikon wisata heritage di Kota Bandung. Warung Kopi ini sudah ada sejak tahun 1930, dinobatkan sebagai kedai kopi tertua di kota ini.

Sebelum tahun 1960-an, kedai kopi ini bernama Tjhiang Shong Shi yang artinya “silakan mencicipi”. Dr Dewi Turgarini, S.S., MM.Par, Kaprodi Manajemen Industri Katering FPIPS UPI sekaligus pengamat food heritage mengatakan, munculnya Warung Kopi Purnama ini dimulai sebagai tempat bersosialisasinya komunitas pedagang Tionghoa yang berjualan di Pasar Baru, pasar tertua di Kota Bandung yang sudah berdiri sejak tahun 1842.

Selain merupakan wadah interaksi sosial para pedagang terutama masyarakat Tionghoa saat itu, kedai kopi ini juga merupakan jejak pertama tradisi kopitiam di Kota Bandung. Pendiri Warung Kopi Purnama Jong A Tong diketahui berasal dari Kota Medan yang merupakan sumber tradisi dan budaya kopitiam di Indonesia.

“Istilah kopitiam yang dikenal umum di masyarakat Indonesia adalah sebuah kedai atau warung kopi yang menyajikan kopi dan menu sarapan. Istilah ini berasal dari budaya Tionghoa, terutama etnis Hokkien,” ujar Dewi.

Tradisi kopitiam banyak ditemukan di Kota Banda Aceh yang berdekatan dengan Kota Medan, menurut Dewi. Lebih luas lagi, budaya ini awalnya mulai berkembang pada akhir abad ke-19 sebagai kedai kopi khas imigran Tionghoa di Singapura, Malaysia, Sumatera bagian utara, dan Kalimantan Barat.

Dewi menambahkan, kopitiam mengandalkan penggunaan alat tradisional berupa teko berukuran panjang, dilengkapi saringan tradisional untuk menyaring ampas kopi. Dengan kepindahan Jong A Tong ke Bandung, hal tersebut mengawali perkembangan budaya kedai kopi di Kota Bandung.

Di Kota Bandung sendiri, Warung Kopi Purnama dengan asal-usul budaya kopitiam yang dibawa pendirinya tersebut, mengalami akulturasi beberapa budaya lain yang ada di Bandung. Akulturasi budaya tersebut terlihat dari inovasi beberapa hidangan pendamping kopi dan menu sarapan yang ada di kedai ini.

Warung Kopi Purnama memiliki menu yang menarik karena menyajikan hidangan sarapan dan juga hidangan lainnya yang dipengaruhi oleh budaya Belanda, seperti Bitterballen, roti bakar dengan selai srikaya homemade, dan minuman bersoda Sarsaparilla. Selain itu ada juga menu akulturasi Tionghoa lain seperti lumpia dan bakso,” kata Dewi.

Seiring perkembangan zaman, Warung Kopi Purnama merambah teknik pemasarannya menggunakan media sosial. Menurut Dewi, terdapat hasil penelitian yang menunjukkan promosi menggunakan media sosial berpengaruh signifikan terhadap penjualan kedai kopi tersebut.

“Terdapat hasil penelitian bahwa faktor promosi Instagram berpengaruh positif terhadap keputusan pembelian. Promosi Instagram berkontribusi sebesar 51,9% terhadap keputusan pembelian konsumen di Warung Kopi Purnama Bandung,” tutur Dewi. (Fariza Rizky Ananda)

ayo baca

Editor: M. Naufal Hafizh
dewanpers