web analytics
  

Menelusuri Gaya Hidup Eropa di Braga

Selasa, 18 Agustus 2020 02:26 WIB M. Naufal Hafizh
Bandung Baheula - Baheula, Menelusuri Gaya Hidup Eropa di Braga, Braga,Sejarah,Hindia Belanda,Bandung Baheula,Bioskop

Braga, pusat hiburan Eropa. (Pixabay/YukiZR)

LENGKONG, AYOBANDUNG.COM — Setelah Bandung berubah status menjadi gementee atau dalam kotamadya dalam Bahasa Indonesia, tidak langsung terlihat perubahan berarti dalam jumlah penduduk. Pada tahun 1920 barulah terjadi peningkatan besar-besaran, terutama dari jumlah penduduk Eropa. Hal ini tercantum dalam buku Prof. Dr. Reiza D. Dienaputra, Profesor Ilmu Sejarah Universitas Padjadjaran yang berjudul Sunda: Sejarah, Budaya, dan Politik.

Dalam buku tersebut dituliskan peningkatan bahkan hingga mencapai hampir 5 kali lipat dalam 14 tahun. Penduduk Eropa yang mulanya berjumlah lebih sedikit dari penduduk Cina, meningkat drastis.

Banyaknya populasi penduduk Eropa turut membuat munculnya gaya hidup Eropa di Bandung. Prof. Reiza menuliskan dalam bukunya, “Sentra dari sebagian besar denyut kehidupan gaya Eropa di Bandung pada dasarnya berada di sekitar Jalan Braga.” Braga menjadi tempat dijualnya pakaian-pakaian dari Prancis di Au Bon Marche, kendaraan roda empat di Fuchs en Rens, serta tempat makan dan  minum selagi belanja. Menjelang libur kerja, orang-orang Eropa ini biasa menghabiskan waktu di Societeit Concordia.

Melansir dari historia.id, biasanya Societeit Concordia menggelar pertunjukan musik, sandiwara, serta dansa setiap Sabtu hingga sore. Sementara malam harinya, mereka minum minuman keras dan mengakhirinya dengan pesta dansa.

Tak hanya itu, masih dalam tulisan berjudul Berpesta di Braga di laman historia.idSocieteit Concordia juga menggelar pertunjukan musik dan tari setiap tiga bulan sekali. Acara itu bertajuk Bragabal. Saat pergantian tahun juga Societeit Cooncordia menyelenggarakan perayaan. Societeit ini memang rutin mengadakan acara sehingga disebut-sebut sebagai societeit terbaik di Hindia Belanda.

Selain itu, masih ada tempat lain yang digunakan penduduk Eropa untuk memenuhi gaya hidupnya. "Sarana hiburan lain yang sering didatangi orang-orang Eropa untuk memanjakan gaya hidupnya adalah gedung-gedung bioskop serta feestterrein,” tulis Reiza D. Dienaputra dalam bukunya. Setidaknya ada tiga bioskop yang digunakan hingga akhir masa kekuasaan Hindia Belanda. Tiga bioskop tersebut adalah Elita, Oriental, dan Apollo.

Sementara feestterrein adalah tempat untuk menampilkan pertunjukan hiburan seperti sandiwara, ketuk tilu, pencak silat, dan opera. Tempat ini terletak di sekitar daerah Kebonjati (Orion), Suniaraja (Empires), dan Cikakak (Orange).

Tempat rekreasi lainnya adalah, tulis Reiza D. Dienaputra, bursa tahunan (jaarbeurs), taman-taman kota seperti Mollukenpark, Ijzermanpark, Orenje Plein, dan Citarum Plein serta Bandoengsch Zoologisch Park (sekarang Kebun Binatang Bandung) pada tahun 1930.

Hingga kini, tempat-tempat tersebut masih menyisakan nuansa Eropa. Terutama Braga dengan arsitektur Eropanya. (Putri Shaina)

Editor: M. Naufal Hafizh

artikel terkait

dewanpers