web analytics
  

Semangat Lautan Api yang Mulai Padam

Senin, 17 Agustus 2020 07:10 WIB Netizen Siska Hermayaningsih
Netizen, Semangat Lautan Api yang Mulai Padam, sumbangan,HUT ke-75 Republik Indonesia,Soekarno,Mohammad Toha,Mohamad Ramdan

Para pemuda yang meminta sumbangan di jalan. (Siska Hermayaningsih)

Siska Hermayaningsih

Entrepreneur, Penyuka travelling.

AYOBANDUNG.COM -- Menjelang 17 Agustus, hampir setiap jalanan dipenuhi bendera dan umbul-umbul. Merah-putih berjejer di sepanjang jalan. Tegak berdiri, gagah tertiup angin. Bahkan di beberapa kampung, terlihat pagar rumah warga pun kompak dicat dengan warna serupa. Membuat semakin indah dipandang. Selain itu, dengan nuansa merah putih, diharapkan mampu memupuk rasa nasionalisme dan patriotisme warga.

Beragam lomba dan perayaan diselenggarakan untuk memeriahkan HUT RI setiap tahunnya. Namun dewasa ini, sayangnya, dengan berdalil butuh dana untuk menyelenggarakan lomba berbagai modus pengumpulan dana berlangsung. Ada yang datang ke rumah-rumah warga dengan membawa map. Ada juga yang bergerombol di pinggir (tengah) jalan, membawa dus bertuliskan “untuk perayaan HUT RI” meminta sumbangan pada kendaraan yang lewat.

Bukan tidak ingin berpartisipasi (mengeluarkan uang) untuk perayaan HUT RI. Tapi yang menjadi miris bagi saya adalah kemerdekaan tidak kita peroleh dengan meminta-minta. Para pendahulu kita merebut kemerdekaan ini dengan darah, keringat dan air mata. Bahkan nyawa pun dipertaruhkan. Tidak hanya kaum intelektual yang berjuang di meja runding. Para panglima, pemuka adat, bahkan rakyat jelata pun bersatu, saling membantu untuk mengusir penjajah.

Tidak hanya untuk merebut kemerdekaan. Tapi juga ketika mempertahankan kemerdekaan. Sejarah mencatat, pada 23 Maret 1946 terjadi satu peristiwa kebarakan besar yang masih kita kenang hingga saat ini. Peristiwa itu kita kenal sebagai peristiwa Bandung lautan api. Dalam kurun waktu kurang lebih tujuh jam, api membakar kota Bandung. Sekitar 200.000 penduduk Bandung membakar rumah mereka sendiri lalu meninggalkan kota dengan berjalan kaki ke arah pegunungan.

Hal ini dilakukan sebagai responS warga Bandung atas ultimatum sekutu yang memerintahkan warga untuk mengosongkan Kota Bandung. Sekutu yang tengah dibutakan amarah karena sebelumnya kalah telak pada pertempuran di Bandung dan Sukabumi, memerintahkan agar warga menyerahkan seluruh senjata yang dilucuti dari tentara Jepang dan mengosongkan kota dengan alasan keamanan.

Menanggapi ultimatum tersebut, Sutan Syahrir selaku perdana menteri memerintahkan para pejuang Bandung untuk menuruti ultimatum Sekutu dengan alasan militer Sekutu lebih kuat dibandingkan TKR (Tentara Keamanan Rakyat) pada saat itu. Akan tetapi, para pejuang Bandung yang sudah mengadakan rapat di kediaman Wali Kota Bandung saat itu, Syamsurizal, menolak perintah tersebut.

Para pejuang Bandung memilih membakar Bandung lalu meninggalkannya dengan alasan mencegah Sekutu dan NICA memakai kota Bandung sebagai markas strategis militer dalam perang kemerdekaan Indonesia. Banyak sekali kerugian akibat peristiwa ini. Namun yang paling merugi adalah Sekutu karena sekalipun berhasil menguasai Bandung tapi Bandung telah menjadi abu. Berbagai fasilitas pemerintah telah lumpuh akibat peristiwa ini.

Istilah Bandung lautan api sendiri pertama kali muncul di harian Suara Merdeka, pada tanggal 26 Maret 1946. Peristiwa ini ditulis oleh Atje Bastaman, seorang wartawan muda, yang pada saat kejadian dia menyaksikan Bandung berubah menjadi lautan merah dari bukit Leutik di daerah Pamengpeuk, Garut. Begitu dia tiba di Tasikmalaya, ia lalu menuliskan berita tersebut dengan judul “Bandoeng Laoetan Api”.

Berkaca pada peristiwa tersebut, sungguh memalukan jika untuk merayakan kemerdekaan kita harus meminta-minta. Para generasi pendahulu merelakan segala harta benda mereka untuk mempertahankan kemerdekaan. Dan kita saat ini hanya menengadahkan tangan, menunggu sumbangan dana untuk merayakan kemerdekaan.

Padahal pemuda adalah agent of changes (agen perubahan). Pemuda adalah pelaku sejarah, penulis masa depan. Banyak sekali sejarah besar yang diciptakan oleh para pemuda. Indonesia merdeka karena percikan semangat tiga serangkai (dr. Tjipto Mangunkusumo, dr. Douwes Dekker, dan Suwardi Suryoningrat) yang mendirikan Boedi Oetomo pada tahun 1908. Sumpah Pemuda, sebagai ikrar persatuan Indonesia diikrarkan oleh para pemuda dan menjadi bara dalam semangat perjuangan kemerdekaan Indonesia.

Peristiwa Bandung lautan api pun tak lepas dari nama dua pemuda asal Bandung yang namanya diabadikan menjadi nama jalan di Bandung, yakni Mohamad Toha dan Mohamad Ramdan. Pentingnya peran pemuda perlu disadari oleh generasi muda saat ini. Melalui momentum peringatan HUT ke-75 RI ini, mari kita bangkitkan lagi semangat lautan api yang hampir padam. Mari kita bangkit dan bersatu untuk mengguncang dunia. Seperti kata founder father kita, Soekarno, “berikan aku 100 orang tua akan ku cabut Semeru dari akarnya. Berikan aku 10 pemuda, akan ku guncangkan dunia”. Merdeka!

Tulisan adalah kiriman netizen, isi tulisan di luar tanggung jawab redaksi.

Ayo Menulis klik di sini

Editor: M. Naufal Hafizh

artikel terkait

dewanpers