web analytics
  

Ridwan Kamil Duga Klaster Covid-19 Perkantoran Jabar Berasal dari Mobilitas Pegawai

Sabtu, 15 Agustus 2020 19:44 WIB Nur Khansa Ranawati
Bandung Raya - Bandung, Ridwan Kamil Duga Klaster Covid-19 Perkantoran Jabar Berasal dari Mobilitas Pegawai, Gubernur Jabar,Ridwan Kamil,COVID-19,dprd jabar

Gubernur Jabar Ridwan Kamil (Ayobandung.com/Nur Khansa)

LENGKONG, AYOBANDUNG.COM--Saat ini, penyebaran Covid-19 di Jawa Barat sudah mulai merambah ke area perkantoran. Setelah sebelumnya Gedung Sate Bandung dinyatakan tertutup selama 14 hari akibat 40 pegawainya yang positif Covid-19, baru-baru ini sebanyak 38 pegawai DPRD Jabar juga dinyatakan positif Covid-19.

Menanggapi hal ini, Gubernur Jawa Barat sekaligus Ketua Gugus Tugas Percepatan Penanggulangan Covid-19 Jabar Ridwan Kamil mengatakan munculnya klaster perkantoran diduga berasal dari mobilitas pegawai di luar aktivitas kantor. Sebagaimana diketahui, selepas diberlakukannya masa adaptasi kebiasaan baru (AKB), aktivitas warga di berbagai sektor kembali meningkat.

"Jadi kami mendapati kesimpulan bukan gedungnya sebagai sumber penyebaran Covid-19. Lebih kepada di masa AKB ini mobilitas tidak dibatasi, sehingga mau pegawai Gedung Sate atau DPRD, sepulang kantor punya pola kegiatan yang tidak bisa dikontrol (oleh kantor)," ucap Emil, sapaan Ridwan Kamil dalam konferensi pers di Gedung Pakuan, Kota Bandung, Sabtu (15/8/2020).

Ia mengatakan, klaster perkantoran ini berbeda dengan klaster-klaster penyebaran virus di awal-awal masa pandemi. Dimana sumber kemunculan virus dan pergerakannya masih dapat dipantau secara spesifik.

"Lebih bijak disebut klaster perkantoran karena tidak spesifik sumber datangnya (virus). Bisa dari satu orang, bisa dari banyak orang. Ini berbeda ketimbang awal (pandemi) Covid-19 di mana klasternya spesifik," jelasnya.

Dengan sulitnya memantau aktivitas para pegawai di luar jam kantor, ia mengatakan pihaknya hanya bisa menekankan pentingnya protokol kesehatan 3M. Yaitu memakai masker, menjaga jarak, dan mencuci tangan dengan sabun kepada para pegawai.

Selain itu, kepada para anggota dewan Jabar, Emil juga berpesan agar mereka tidak mendatangi atau mendekati daerah Zona Merah (Risiko Tinggi) dalam agenda kunjungan kerja DPRD.

"Saya sudah diskusi dengan Ketua DPRD, agar diberi panduan kepada anggota dewan untuk tidak mendatangi lokasi kerja yang dekat Zona Merah," ungkapnya.

Sesuai prosedur tetap (protap) Gugus Tugas Jabar, suatu tempat harus ditutup selama 14 hari jika ditemukan kasus terkonfirmasi positif COVID-19. Aturan tersebut juga berlaku di Gedung Sate dan DPRD Jabar.

"Tapi produktivitas tidak boleh berhenti, artinya yang tidak terpapar dikondisikan kerja dari rumah, sudah diatur termasuk di gedung dewan," ungkap Emil.

Ia juga menjelaskan, mayoritas kasus terkonfirmasi positif Covid-19 di Gedung Sate merupakan Orang Tanpa Gejala (OTG) atau kasus asimptomatik. Kepada para OTG tersebut, Emil memfasilitasi tempat isolasi mandiri di Kantor BPSDM Jabar di Kota Cimahi sebagai Pusat Isolasi Mandiri.

"Kami ada infrastruktur yang cukup dibanggakan, (yaitu) BPSDM di Kota Cimahi sebagai pusat isolasi yang dimonitor secara baik untuk OTG di Jabar," ungkapnya. 

Editor: Adi Ginanjar Maulana

artikel terkait

dewanpers