web analytics
  

Segel Bakal Makam Sepuh Masyarakat Akur Sunda Wiwitan Dibuka

Sabtu, 15 Agustus 2020 17:30 WIB Erika Lia
Umum - Regional, Segel Bakal Makam Sepuh Masyarakat Akur Sunda Wiwitan Dibuka, Pemkab Kuningan,Berita Kuningan,Masyarakat Akur Sunda Wiwitan

Dikelilingi bendera merah putih, bakal makam sesepuh masyarakat Akur Sunda Wiwitan dilanjutkan setelah pelepasan segel oleh Satpol PP Kabupaten Kuninga. (Ayocirebon.com/Erika Lia)

KUNINGAN, AYOBANDUNG.COM -- Bakal makam sesepuh masyarakat Adat Karuhun Urang (Akur) Sunda Wiwitan kembali dibangun. Pemkab Kuningan telah melepas segel yang sebelumnya melingkari Batu Satangtung sebagai penanda makam.

Kepala Satpol PP Kabupaten Kuningan Indra Purwantoro memastikan pelepasan segel telah dilakukan karena masyarakat Akur Sunda Wiwitan sudah mengantongi Izin Mendirikan Bangunan (IMB).

"(Pelepasan segel) karena sudah ada IMB," katanya.

IMB atas Tugu Batu Satangtung diterbitkan Dinas Penanaman Modal dan Pelayanan Terpadu Satu Pintu Kabupaten Kuningan bertanggal 12 Agustus 2020.

Girang Pangaping Adat masyarakat Akur Sunda Wiwitan, Okki Satria Djati menyebut, setelah segel pembangunan dilepas bakal makam pun dilanjutkan.

"Kami mulai gotong royong untuk membangun kembali," katanya, Sabtu (15/8/2020).

Pembangunan tak hanya dilakukan masyarakat Akur Sunda Wiwitan, melainkan pula dibantu warga sekitar dari beragam agama.

Perkembangan situasi itu sendiri menggembirakan warga Akur Sunda Wiwitan. Pihaknya berharap, kejadian kali ini bisa menjadi pelajaran bagi semua pihak tentang kehidupan berbangsa yang berbhineka tunggal ika.

"Bahwa dalam Negara Bhineka Tunggal Ika dan dasar Pancasila tidak ada mayoritas dan minoritas. Semua golongan dan agama kedudukannya sama di depan hukum," tuturnya.

Meski begitu, kejadian tersebut tak serta merta dianggap sebagai hadiah Hari Kemerdekaan bagi pihaknya. Menurut Okki, masyarakat Akur Sunda Wiwitan masih harus memperjuangan 2 hal, salah satunya Penetapan Masyarakat Adat sesuai Permendagri Nomor 52 Tahun 2014 Tentang Pedoman Pengakuan dan Perlindungan Masyarakat Hukum Adat.

Selain itu, melakukan registrasi cagar budaya dan aset-aset adat secara komunal.

"Baru kami bisa menyebut diri telah mengalami Kemerdekaan sebagai bagian bangsa ini," ujarnya.

Sementara itu, sejumlah warga yang ditemui Ayocirebon.com di lokasi bakal makam menyatakan, sejatinya kehidupan yang toleran di Desa Cisantana telah berlangsung sejak dahulu.

Masyarakat yang membantu pembangunan bakal makam pun bersifat sukarela karena mereka menganggap Pangeran Djatikusumah sebagai sesepuh masyarakat Kabupaten Kuningan.

Sumber: Ayocirebon.com
Editor: Ananda Muhammad Firdaus
dewanpers