web analytics
  

Bermedia Sosial dengan Dewasa dan Bijaksana

Sabtu, 15 Agustus 2020 11:30 WIB Netizen Sam Edy Yuswanto
Netizen, Bermedia Sosial dengan Dewasa dan Bijaksana , Media Sosial,facebook,Twitter,Instagram

Media sosial (Unsplash/Merakist)

Sam Edy Yuswanto

Penulis lepas, tulisannya tersebar di berbagai media, lokal hingga nasional.

AYOBANDUNG.COM--Bermedia sosial di era sekarang menjadi sesuatu hal yang seolah tak bisa dipisahkan dalam kehidupan sehari-hari.

Keberadaan akun-akun media sosial seperti Facebook, Twitter, Instagram, dan lain sebagainya, menjadi cara termudah sekaligus termurah bagi kita untuk berinteraksi dengan sesama.

Bahkan, keberadaan media sosial kini tak hanya sekadar untuk menjalin pertemanan, tapi juga difungsikan untuk berbisnis, berdakwah, dan seterusnya.  

Namun, yang menjadi persoalan selanjutnya adalah dalam bermedia sosial kerap terjadi persinggungan yang membuat sebagian orang merasa tak nyaman dan akhirnya memutuskan untuk memblokir orang-orang yang berseberangan pendapat dengannya.

Dari sinilah maka kita jadi tahu bahwa dalam bermedia sosial diperlukan sikap dewasa dan bijaksana.

Artinya, kita harus berusaha ekstra hati-hati dalam bergaul dengan orang-orang dari berbagai daerah yang pastinya memiliki beragam sifat (karakter).

Pandai-pandailah mencermati budaya dan karakter orang lain. Misalnya, jangan seenaknya sendiri saat kita menulis komentar di status atau postingan orang lain.

Jangan mencandai (apalagi dengan candaan kelewatan) orang-orang yang memiliki karakter serius dan mudah tersinggung.

Begitu pula, jangan mudah tersinggung dengan komentar atau postingan orang lain. Disadari atau tidak, terkadang kita mudah merasa baper lalu tersinggung saat ada status orang lain yang seolah-olah sedang menyindir privasi kita.

Padahal, bisa jadi orang tersebut tidak sedang menyinggung kita. Kesimpulannya adalah, tak perlu menanggapi dengan serius status dan postingan apa pun yang berseliweran setiap hari di beranda media sosial kita.

Hal yang juga tak kalah penting adalah; tak perlu merasa emosi dan marah-marah bila tiba-tiba ada orang yang memblokir akun media sosial kita. Mungkin orang yang memblokir kita merasa sudah tidak nyaman berinteraksi dengan kita di media sosial, makanya dia memblokir akun media sosial kita.

Jujur saya pun pernah memblokir seseorang (sebut saja si A) karena merasa sudah tak nyaman berinteraksi dengannya secara online.

Waktu itu saya memang ada persoalan dengan si A dan saya sudah berusaha menyelesaikannya dengan baik-baik tetapi sayangnya dia tetap sulit diajak komunikasi dengan baik.

Si A tampak selalu emosi saat membalas komentar atau penjelasan dari saya. Saya sudah beriktikad baik menyelesaikan persoalan yang ada, tapi dia tak mau menyambutnya dengan baik.  

Akhirnya, untuk mengantisipasi hal-hal yang tak menyenangkan, saya terpaksa memblokirnya. Namun, memblokir di sini bukan berarti saya tak mau lagi berteman dengannya. Sama sekali tidak seperti itu.

Saya tetap ingin menjalin pertemanan dengannya, misalnya saat suatu hari nanti bertemu dengan si A, tentu saya akan berusaha menyapa dan mengajaknya mengobrol (meskipun sudah tak bisa seakrab saat sebelum terjadi perselisihan). Intinya, saya menginginkan tetap berteman dengannya tapi secara offline saja, tidak lagi secara online (lewat media sosial) karena takut terjadi persinggungan lagi.   

Disadari atau tidak, dalam bermedia sosial memang terkadang ada persoalan yang sulit diselesaikan (dipaparkan secara gamblang) dan bisa jadi akan terus menimbulkan ketegangan.

Hal ini sangat jauh berbeda ketika kita bergaul langsung (secara tatap muka) dengan orang lain; sepelik apa pun persoalan bisa segera diselesaikan dengan baik-baik dengan cara duduk bersama.

Sementara dalam bermedia sosial, ketika muncul persoalan, meskipun sudah berusaha diselesaikan baik-baik tapi terkadang masih belum bisa berakhir baik karena kita hanya berhubungan secara online, tidak bisa bertemu langsung agar semua persoalan clear dengan cepat dan tuntas. Tentu saja tak semua orang seperti itu.

Karena saya yakin masih jauh lebih banyak orang-orang yang tetap bisa menjalin hubungan (komunikasi) dengan baik melalui media sosial dan tetap bisa menyelesaikan setiap persoalan dengan dewasa dan bijaksana. Mudah-mudahan tulisan sederhana ini bermanfaat.

Tulisan adalah kiriman netizen, isi tulisan di luar tanggung jawab redaksi.

Ayo Menulis klik di sini

Editor: Adi Ginanjar Maulana

artikel terkait

dewanpers