web analytics
  

SBMPTN 2020, Prodi Komunikasi dan Informatika Banyak Diincar

Jumat, 14 Agustus 2020 23:23 WIB
Umum - Nasional, SBMPTN 2020, Prodi Komunikasi dan Informatika Banyak Diincar, SBMPTN,Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud)

Ujian Seleksi Bersama Masuk Perguruan Tinggi Negeri (SBMPTN) 2017 di Universitas Negeri Jakarta, Selasa (16/5/2017). (Suara.com)

JAKARTA, AYOBANDUNG.COM -- Merujuk statitiska pendaftaran Seleksi Bersama Masuk Perguruan Tinggi Negeri (SBMPTN) 2020, program studi (prodi) komunikasi dan informatika yang paling diincar para calon mahasiswa.

Dalam lansiran Lembaga Tes Masuk Perguruan Tinggi (LTMPT) Jumat (14/8/2020), tercatat jumlah peserta yang dinyatakan lulus seleksi pada 85 Perguruan Tinggi Negeri (PTN) se-Indonesia sebanyak 167.653 orang. Jumlah peserta yang dinyatakan lulus tersebut merupakan hasil seleksi dari pendaftar UTBK-SBMPTN 2020 sebanyak 702.420 orang.

Rinciannya, pendaftar non-KIP Kuliah sejumlah 546.370 orang dan pendaftar pemilik nomor pendaftaran KIP Kuliah sebanyak 156.050 orang. Sedangkan peserta yang dinyatakan lulus terdiri atas peserta non-KIP Kuliah sebanyak 123.099 orang dan peserta pemilik nomor pendaftaran KIP Kuliah sebanyak 44.554 orang.

Dari rangkuman data pendaftaran lalu, Teknik Informatika Universitas Padjajaran dengan keketatan 1 banding 77 menjadi prodi paling diperebutkan di golongan sains dan teknologi. Menyusul kemudian Kedokteran Gigi Universitas Diponegoro (1:58);  Kedokteran UGM (1:58);  Pendidikan Dokter Universitas Indonesia (1:56);  Ilmu Komputer UGM (1:51);  Teknik Biomedis UGM (1:50);  Teknologi Informasi UGM (1:50);  Arsitektur UI (1:45); Farmasi UI (1:44);  dan Arsitektur UGM (1:42).  

Sementara di golongan sosial humaniora (soshum), prodi komunikasi mendominasi yang paling diminati. Rinciannya, Ilmu Komunikasi UI  dengan keketatan 1:125;  Ilmu Hubungan Internasional UI (1:90);  Ilmu Komunikasi Unpad (1:87);  Manajemen Unpad (1:86);  Ilmu Komunikasi UNY (1:83);  Ilmu Komunikasi UGM (1:82); Psikologi UNY (1:74);  Ilmu Hubungan Internasional UGM (1:68); dan Manajemen UGM (1:66).

Yang menarik dari penerimaan tahun ini, prodi Bahasa dan Kebudayaan Korea UI juga tergolong yang paling diperebutkan dengan keketatan 1 banding 79. Di antara sepuluh besar terfavorit, hanya prodi tersebut yang mewakili jurusan sastra dan bahasa.

Statistika tersebut seiring dengan penetrasi kebudayaan populer Korea Selatan seperti K-Pop, Drama Korea, dan sinema Negeri Ginseng tersebut di Indonesia beberapa waktu belakangan.

LTMPT juga mencatat 10 PTN dengan peminat terbanyak. Di antaranya UGM Yogyakarta (62.507 pendaftar)); Universitas Brawijaya (61.743); Unpad (56.446);  Universitas Indonesia (54.897);  Universitas Sebelas Maret (51.974); Universitas Diponegoro (51.418);  Universitas Pendidikan Indonesia (45.767); Universitas Negeri Yogyakarta (42.592); 9. Universitas Sumatera Utara (41.907); dan Universitas Negeri Jakarta (39.524).

Direktur Jenderal Pendidikan Tinggi (Dikti) Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan, Nizam, menyampaikan selamat kepada peserta yang dinyatakan diterima di perguruan tinggi yang dituju. “Yang belum diterima jangan patah semangat karena jalur SBMPTN bukan satu satunya jalur masuk perguruan tinggi," ujar Nizam dalam konferensi pers daring pengumuman hasil seleksi jalur SBMPTN, Jumat (14/8).

Ia mengatakan, masih ada jalur seleksi lainnya yang bisa diikuti untuk masuk perguruan tinggi baik negeri maupun swasta. "Jangan patah semangat karena upaya meraih cita cita itu pintu selalu terbuka lebar, kalau sekarang belum berhasil, itu batu ujian, bisa untuk di kesempatan berikutnya, semangat dan optimistis dan terus belajar dan menjaga kesehatan," kata dia.

Dalam kesempatan itu, ia juga menyampaikan apresiasi kepada kinerja LTMPT sejak awal hingga saat ini. Apalagi di tengah situasi pandemi Covid-19 ini tidak menyurutkan semangat panitia.

"Kerja pasukan di lapangan luar biasa, siang malam kerja tanpa lelah, tanpa mengenal akhir pekan, luar biasa termasuk di lapangan, termasuk tempat-tempat ujian, memastikan ruangan aman bersih, membersihkan komputer disinfektan, memastikan peserta dlm kondisi sehat, kita bersyukur tidak ada insiden yang mengkhawatirkan," katanya.

Hal serupa disampaikan Sekjen Kemendikbud Ainun Na'im, bahwa hasil seleksi jalur SBMPTN ini tidak menghentikan langkah pelajar pelajar yang ingin meneruskan pendidikan. "Semua sukses tapi dengan cara yang beda beda, bagi yang ikuti seleksi namun belum diterima, masih ada kesempatan lebih lanjut tidak hanya di perguruan tinggi negeri, tapi juga perguruan tinggi swasta, kementerian juga memastikan kualitas di PTN maupun PTS," ungkapnya.

Ia juga mengimbau perguruan tinggi negeri lain yang akan melaksanakan proses seleksi mahasiwa jalur lain agar tetap memperhatikan efisien, efektifitas serta keselamatan. Karena itu, ia menyarankan pelaksanaan seleksi jalur SBMPTN ni bisa menjadikan acuan. "Sehingga skor UTBK masih bisa memungkinkan bersama dengan variabel lain," ujarnya.

Ketua Ketua Tim Pelaksana Lembaga Tes Masuk Perguruan Tinggi (LTMPT) Mohammad Nasih mengatakan, berdasarkan catatan panitia, selisih deviasi nilai para peserta ujian tahun ini terbilang cukup tipis yang hanya berada pada angka desimal. Bahkan, tidak jarang ada nilai yang sama di antara para peserta. "Artinya ada homogenitas dari nilai para peserta dalam arti nilai mereka kurang lebih sama, selisih nol koma sekian saja," katanya.

Dia mengatakan, minimnya deviasi nilai itu mengindikasikan bahwa kualitas dari lulusan SLTA dan tes yang telah dijalankan berlangsung valid dan reliabel. Hanya saja, sambung dia, tentu ada beberapa peserta yang kurang beruntung dan tidak lolos seleksi.

Dia menjelaskan, peserta yang tidak lulus bukan sesungguhnya tidak pintar mengingat tipisnya selisih nilai di antara mereka. Dia menekankan bahwa peserta yang tidak lolos seleksi dikarenakan daya tampung perguruan tinggi yang terbatas.

Kendati, dia meminta setiap peserta juga bisa memahami hasil ujian tersebut. Dia mengatakan, peserta yang tidak lolos tetap bisa melanjutkan studi baik di jalur seleksi lain maupun kampus swasta. Dia menegaskan bahwa perguruan tinggi tidak menentukan suksesnya para peserta didik. "Karena semua kembali bergantung pada setiap calon mahasiswa," katanya. 

Berita ini merupakan hasil kerja sama antara Ayo Media Network dan Republika.co.id.

Isi tulisan di luar tanggung jawab Ayo Media Network.

Sumber: Republika
Editor: Ananda Muhammad Firdaus

artikel terkait

dewanpers