web analytics
  

Santri Ikut Lawan Penjajahan, Perlawanan Sukamanah di Tasikmalaya Jadi Buktinya 

Jumat, 14 Agustus 2020 19:08 WIB Irpan Wahab Muslim
Umum - Regional, Santri Ikut Lawan Penjajahan, Perlawanan Sukamanah di Tasikmalaya Jadi Buktinya , Santri Lawan Penjajahan

Pedang Santri Lawan Penjajah. (Irpan Wahab)

TASIKMALAYA, AYOBANDUNG.COM -- Pada masa penjajahan Belanda dan Jepang, keberadaan pesantren bukan hanya tempat menimba ilmu agama. Namun lebih kepada wadah pergerakan nasional dan perlawanan terhadap kesewenang-wenangan penjajah. 

Ilmu agama yang diberikan oleh ulama dan Kyainya, menumbuhkan rasa patriotisme dan nasionalisme di jiwa para santri. Bukti itu terjadi pada Santri pesantren Sukamanah Kabupaten Tasikmalaya yang dengah penuh keberanian. Mereka angkat senjata melawan kejamnya penjajah Jepang.

Pemerhati sejarah, Ridwan Abdul Malik (46) menuturkan, gencarnya perlawanan terhadap penjajah dari kalangan santri di dorong oleh penilainya bahwa penjajahan adalah kemungkaran, dan kemungkaran harus dilawan. Terlebih lagi, dibawah komando sang kyai, keberanian santri itu tidak dapat dibendung lagi.

“Melihat pada perlawanan santri Sukamanah, selain sikap Takdim kepada sang Kyai yakni Kyai Zaenal Mustofa, juga sebagai kewajiban melawan kemungkinan,” ucap Ridwan, Jumat (14/8/2020).

Di bawah komando dan pekik takbir yang diucapkan pimpinan Pesantren Sukamanah kala itu KH. Zaenal Mustofa, santri melawan canggihnya persenjataan Jepang yang serba otomatis dengan sebilah bambu yang dibentuk menyerupai pedang.

Perlawanan terhadap penjajahan Jepang itu dimulai ketika, KH. Zaenal Mustofa menolak melakukan perintah Saikerai atau penghormatan kepada Kaisar Jepang dengan membukukan badan ke arah Matahari. Beliau menilai, itu merupakan bertentangan dengan Tauhid.

Perlawanan dengan sikap perang pun direncanakan. Namun rencana itu tercium Jepang pada tanggal 25 Januari 1944. Jepang pun mengirim pasukan untuk berdialog, namun upaya itu ditolak mentah-mentah. Akhirnya pada bulan Februari pasukan Jepang menyerang Pesantren Sukamanah.

Dengan persenjataan sederhana berupa golok, pedang, bambu runcing dan pedang bambu, KH Zaenal Mustofa dan santri melayani pertempuran dengan heroik. Dalam pertempuran itu, 89 Santri gugur sebagai syuhada dan KH Zaenal Mustofa ditangkap dan dibawa ke Bandung.

“Dari perlawanan Sukamanah itu pula bahwa, keberadaan santri dalam memperjuangkan kemerdekaan sangat besar. Nah di dalam suasana kemerdekaan ini, santri juga harus ikut dalam mengisi pembangunan," ucap Ridwan.

Editor: Dadi Haryadi
dewanpers