web analytics
  

Stres kala Pandemi Corona Bisa Bikin Kamu Mimpi Buruk, Mengapa?

Jumat, 14 Agustus 2020 12:58 WIB M. Naufal Hafizh
Gaya Hidup - Sehat, Stres kala Pandemi Corona Bisa Bikin Kamu Mimpi Buruk, Mengapa?, stres,mimpi,Pandemi Corona,Kurang tidur,mimpi buruk

Sering mimpi buruk baru-baru ini? Kemungkinan itu semua diakibatkan oleh stres akibat pandemi Covid-19. (Shutterstock/g-stockstudio)

LENGKONG, AYOBANDUNG.COM – Studi dari Inggris mencatat rentannya masyarakat akan berbagai gangguan mental di tengah pandemi.

Gangguan mental ini diakibatkan perubahan rutinitas yang drastis dan begitu cepat. Seorang wanita karier yang pulang kerja pukul 4 sore tiba-tiba harus diam di rumah berbulan-bulan. Bukan klien atau komputer yang dia temui, melainkan kewajiban mengurus anak dan memasak.

Terdengar sepele, namun perubahan gaya hidup di tengah pola pikir yang belum siap justru memicu stres.

Selain itu, ketakutan terhadap pandemi yang hingga kini belum ada solusinya bisa memicu stres. Apakah dunia bisa berakhir karena Covid-19? Apakah ini proses “pembersihan” populasi manusia?

Pertanyaan-pertanyaan liar yang muncul akibat ketakutan tidak bisa disepelekan.

Di saat yang sama, stres dapat bertambah akibat kurang tidur. Kurang tidur pun disebabkan stres.

Secara spesifik, seseorang akan kesulitan tidur nyenyak apabila dia stres karena kemungkinan besar dia akan bermimpi buruk.

Mimpi yang Disetir Pandemi

“Saya bermimpi sedang disekap dan ditodong pistol namun satu-satunya hal yang dikhawatirkan keluarga saya adalah saya belum masak makan malam,” kisah salah seorang pemimpi.

“Saya sedang terdampar di laut dengan beribu-ribu pesawat meledak di atas saya, di langit berwarna merah, dan puing-puingnya menghujani saya,” kata salah seorang lain.

“Saya bertualang di daerah-daerah terpencil, bertemu orang-orang baru. Kemudian saya bangun dan langsung merasa sedih karena saya tidak akan melihat mereka lagi,” kisah pemimpi lainnya.

Berdasarkan survei 3.700 orang dengan 9.000 mimpi, orang-orang melaporkan mimpi mereka lebih intens dan aneh.

“Di tengah pandemi ini, mimpi-mimpi para partisipan cenderung menonjolkan ketakutan dan kecemasan, trauma, pencarian solusi, serta skenario-skenario setelah kiamat atau pandemi,” tutur asisten profesor psikologi Harvard Medical School, Deirdre Barrett.

Sejumlah kategori akan mimpi yang berhubungan dengan Covid-19 pun muncul dari survei tersebut.

Ada yang bermimpi benar-benar menderita Covid-19, ada yang bermimpi secara metafora. Contohnya, dikerubungi serangga atau diserang badai, tsunami, api, dan dikeroyok.

Ada pula yang bermimpi buruk tentang Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB). Mereka bermimpi sedang keluar lalu sadar lupa memakai masker. Ada yang bermimpi terlalu dekat dengan orang lain lalu kena batuk.

Namun, tidak semua mimpi berakhir buruk akibat pandemi ini.

“Ada pula yang bermimpi dia sembuh dari Covid-19 atau menemukan vaksinnya,” kata Deirdre.

Para petugas kesehatan memiliki mimpi-mimpi buruk tipikal pascatrauma. Para penderita Covid-19 memiliki fever dreams.

Mimpi adalah Sisa Pikiran

Stres yang dirasakan dapat dengan mudah memengaruhi mimpi.

Dalam riset Deirdre setelag serangan bom 9/11, orang-orang bermimpi dengan jauh lebih intens juga jelas. Tidak hanya mimpi pascatrauma yang dialami saksi 9/11, namun masyarakat awam pun bermimpi berdasarkan kecemasan masing-masing.

“Itu namanya ‘sisa pikiran siang hari’,” kata peneliti di Fakultas Psikologi Universitas Adelaide, Denholm Aspy. “Apa yang kita rasakan dan pikirkan sebelum tidur, apalagi pikiran yang intens, akan terbawa dalam mimpi.”

Bukan hanya peristiwa pahit di siang hari yang bisa membawa mimpi buruk saat tidur. Apabila Anda sedang bahagia di siang hari, Anda bisa bermimpi baik saat tidur.

Apakah Anda juga merasa mimpi Anda semakin intens dan aneh sejak pandemi? (Farah Tifa Aghnia)

Sumber: Medical News Today
Editor: M. Naufal Hafizh

artikel terkait

dewanpers