web analytics
  

Gelombang 2 Covid-19 Hantam Kota Cirebon

Kamis, 13 Agustus 2020 17:37 WIB Erika Lia
Umum - Regional, Gelombang 2 Covid-19 Hantam Kota Cirebon, COVID-19,Kota Cirebon

Ilustrasi (Pixabay)

CIREBON, AYOBANDUNG.COM -- Kota Cirebon dihantam gelombang 2 Covid-19. Puncak kasus telah terlewati dan terus meningkat hingga nyaris 'menghabiskan' ketersediaan tempat tidur di rumah sakit.

Gugus Tugas Percepatan Penanganan Covid-19 Kota Cirebon mencatat 49 kasus positif hingga Kamis (13/8/2020). Dari jumlah itu, 6 orang di antaranya merupakan tenaga kesehatan yang berdinas di Kota Cirebon.

"Gelombang 2 (Covid-19) di kota Cirebon sudah terjadi. Bergerak cepat dengan peningkatan kasus 2-3 kali lipat," ungkap Kepala Dinas Kesehatan Kota Cirebon, Edy Sugiarto, hari ini.

Kondisi itu pula diperlihatkan dengan keterisian tempat tidur di 7 rumah sakit di Kota Cirebon. Dari total 84 tempat tidur di ke-7 rumah sakit itu, dia menyebutkan, nyaris 90% tempat tidur telah terisi pasien.

"Rata-rata cuma 1-2 tempat tidur di rumah sakit yang sekarang kosong," ujarnya.

Saat ini, lanjutnya, dinamika perubahan jumlah kasus terjadi secara masif akibat serangan yang sporadis dan di semua lini. Kondisi saat ini menyebabkan peluang terjadinya transmisi luar biasa besar.

Hantaman gelombang 2 di Kota Cirebon tersebut, menurutnya, tak lepas dari pergerakan bebas masyarakat selama fase adaptasi kebiasaan baru (AKB). Sayangnya, kondisi itu tak dibarengi kedisiplinan dalam penerapan protokol kesehatan pencegahan Covid-19.

Dampak itu pun turut dirasakan nakes. Dari 6 nakes yang terkonfirmasi positif, 3 orang di antaranya berasal dari Kota Cirebon, sedangkan 3 lainnya asal Kabupaten Cirebon.

Dia tak menampik nakes menjadi salah satu kalangan yang paling rentan terpapar Covid-19. Setidaknya terdapat 3 faktor penyebab seseorang berpotensi terpapar virus, masing-masing viral load (beban virus), frekuensi, dan durasi.

Viral load sendiri berarti loading (muatan) virus yang masuk tubuh ke seseorang. Sementara, frekuensi virus berkaitan dengan seberapa sering seseorang berinteraksi dengan orang tanpa gejala dan pasien positif.

Terakhir, durasi berkaitan dengan lama waktu seseorang berinteraksi dengan orang tanpa gejala dan pasien positif. Seseorang yang memenuhi ke-3 faktor tersebut memperlebar potensi terjadinya transmisi virus.

Dia menampik paparan virus pada nakes berkaitan dengan rendahnya keamanan alat pelindung diri (APD). Dia meyakinkan kesiapan dan keamanan APD.

"Problemnya terletak pada AKB yang membuat nakes bersinggungan dengan siapapun dan di mana pun. Interaksi nakes dengan banyak orang itu besar sekali di masa ini," paparnya.

Meski begitu, dia memastikan pelayanan publik tak terganggu. Nakes telah disiapkan untuk pelayanan yang multilayer atau berlapis.

Saat ini, imbuhnya, yang wajib dikerjakan mereka berupa penguatan tes PCR maupun penguatan fasilitas pelayanan kesehatan.

Pihaknya pula mengajak semua kalangan bersama melawan Covid-19 dengan menerapkan protokol kesehatan, mulai dari mengenakan masker, mencuci tangan, hingga menjaga jarak.

"Hindari kerumunan, ini hukumnya wajib karena untuk melindungi diri, keluarga, dan lingkungan kita sendiri," tegasnya.

Editor: Adi Ginanjar Maulana

artikel terkait

dewanpers