web analytics
  

Bolehkah Orang Tua Marahi hingga Pukul Anak?

Kamis, 13 Agustus 2020 07:45 WIB
Gaya Hidup - Sehat, Bolehkah Orang Tua Marahi hingga Pukul Anak?, anak nakal,berkata keras,melarangnya dengan keras,memukul anak

[Ilustrasi] Anak dimarahi orang tua. (Pixabay/Gerd Altmann)

JAKARTA, AYOBANDUNG.COM – Ketika anak nakal, bolehkah orang tua memarahi dan memukulnya?

"Pada dasarnya kekerasan membuat orang lain tidak nyaman. Kalau pukul membuat sakit fisik. Kalau bentak dengan keras membuat sakit di hati. Jadi dua hal ini sebaiknya tidak jadi sesuatu yang rutin dilakukan," kata psikolog keluarga Nessi Purnomo dalam siaran langsung Instagram bersama Ayah & Bunda.

Menurut Nessi, orang tua sebaiknya hanya berkata keras atau mungkin memukul anak saat situasi yang benar-benar berbahaya. Artinya, jika anak bermain dengan benda atau di tempat yang bisa membahayakan dirinya, orang tua bisa langsung melarangnya dengan keras.

"Kalau kita bicara keras hanya saat situasi genting, anak juga akan terbiasa. Tapi kalau orang tua terbiasa bicara keras, maka anak juga akan terbiasa dengar suara keras," katanya.

Jika anak sudah terbiasa mendengar suara keras dari orang tuanya, kata Nessi, akibatnya anak akan cenderung cuek dengan peringatan apa pun yang disampaikan.

"Tidak lagi aware dengan urgensi yang diberikan. Jadi kalau kita bilang setop dia akan cuek aja karena biasanya juga bicara keras. Dalam kondisi genting itu bahaya sekali buat anak," tuturnya.

Sementara itu, jika harus perlu memukul anak, Nessi mengingatkan agar orang tua menjelaskan maksud dari pukulan tersebut. Tujuannya, agar mengerti dengan kesalahan yang diperbuatnya.

"Nanti si anak berpikir, 'kalau saya melakukan itu nanti dipukul dan dipukul itu sakit. Ketika dipukul juga saya akan melihat ekspresi tidak menyenangkan dari orang tua saya'. Jadi dipukul itu tindakan yang mengerikan tapi dia gak tahu kenapa gak boleh," katanya.

Berita ini merupakan hasil kerja sama antara Ayo Media Network dan Suara.com.

Isi tulisan di luar tanggung jawab Ayo Media Network.

Editor: M. Naufal Hafizh
dewanpers