web analytics
  

Mendaki Tangkuban Parahu Juli 1804

Rabu, 12 Agustus 2020 11:11 WIB Netizen ATEP KURNIA
Netizen, Mendaki Tangkuban Parahu Juli 1804, Gunung Tangkuban Parahu,Thomas Horsfield,Mendaki Gunung,Bandung Baheula

Litografi Dr Thomas Horsfield (1773-1859) karya J. Erxleben. (J. Bastin dan D. T. Moore (1982))

ATEP KURNIA

Peminat literasi dan budaya Sunda.

AYOBANDUNG.COM -- Justru orang Amerika Serikat yang pertama kali mendaki lagi Gunung Tangkuban Parahu pada awal abad ke-19. Dialah Thomas Horsfield (1773-1859), dokter dan naturalis kelahiran Pennsylvania, Amerika Serikat.

Menurut J. Bastin dan D. T. Moore (“Geological Researches of Thomas Horsfield” dalam Bulletin of the British Museum [Natural History] Vol 10, 1982), Thomas Horsfield lahir pada 12 Mei 1773. Ia belajar farmasi di bawah Dr B. Otto (1711-1787) dan farmakologi sekaligus cabang-cabang ilmu alam berkembang saat dia kuliah di University of Pennsylvania. Dia lulus pada bidang pengobatan tahun 1798, dengan tesis bertajuk An experimental dissertation on Rhus vernix, Rhus radicans and Rhus glabrum. Setahun kemudian, Thomas bekerja sebagai dokter pada saudagar, seorang Tionghoa, di Pulau Jawa.

Kepergiannya dimulai pada 22 Desember 1799 dari Sungai Delaware dan tiba di Batavia pada 15 April 1800. Karena menyaksikan betapa kayanya tumbuhan tropis dan produksi alam dari Jawa, dia tertarik untuk menyelidikinya. Untuk itu, dia kembali ke Philadelphia, dan menuju lagi Pulau Jawa pada Oktober 1801. Agar dapat bepergian dan melakukan penyelidikan ilmu alam, Thomas mendaftar sebagai ahli bedah pada dinas ketentaraan Belanda. Tempatnya tetap di Batavia. Namun, karena kota yang sekarang menjadi Jakarta itu tidak sehat sehingga menyebabkan Thomas sakit, dia pindah ke pedalaman.

Letusan Gunung Guntur pada 6-7 April 1803 menyebabkan perhatian Thomas terbetot ke arah vulkanologi dan geologi. Karena tidak kuat menahan hasratnya untuk menjelajah, dia mengajukan permohonan untuk melakukan analisis kimia terhadap jatuhan dari gunung api yang ada di Garut itu. 

Pada tahun-tahun berikutnya, akan banyak lagi kegiatan Thomas yang berkisar di sekitar kegunungapian. Ini terbukti, setahun setelah letusan Gunung Guntur, dia menjelajahi punggungan tenggara Gunung Ciremai dan mengunjungi sumber air panas yang ada di sekitarnya (1804). Di Sumedang dia menemukan adanya batugamping yang ada di pegunungan tengah Jawa. Di bagian selatan Kabupaten Parakanmuncang dia menguji sumur yang mengandung air-zelzer. Dia kemudian mendaki sisi timur Gunung Guntur untuk memeriksa aliran lava yang baru. Sepulang dari Garut, Thomas ke Bandung untuk mengunjungi Gunung Tangkuban Parahu dan turun ke dinding kawah serta mengumpulkan percontoh air sebagai bahan analisis kimia. Kembali ke Cirebon, dia sempat menjejaki Gunung Tampomas dan bukit-bukit di utara Gunung Ciremai.

Bukan hanya gunung-gunung di Priangan saja yang dijelajahinya. Ia juga melanjutkan perjalanannya menjelajahi gunung-gunung api di Jawa Tengah dan Jawa Timur, antara 1804-1816. Selama masa tinggalnya di Pulau Jawa hingga 1819 itu, Thomas Horsfield banyak menulis catatan perjalanannya. Catatan kepergiannya ke Batavia dimuat dalam Philadelphia Medical Museum (1805) dengan judul “An account of a voyage to Batavia, in the year 1800”. Pengujian kimia atas material jatuhan dari letusan Gunung Guntur pada 1803 didedahkannya dalam makalah “Scheikundige ontleding van een vulkaansch zand en een ijzer-erts” (VBG 7 No. III, 1814) dan pemeriksaan air sumur di Parakanmuncang (“Berigt, van eene met vaste-lucht bezwangerde bronwel. in het regentschap Parakan-Moentjan”, VBG 7 No. IV, 1814).

Catatan pendakian ke Gunung Tangkuban Parahu berikut uraiannya saat turun ke dinding kawah serta mengumpulkan percontoh air didedahkan pada tulisan “On the mineralogy of Java. Essay I. Account of the island from its western extremity to the mountain of Sumbing, situated near the longitude of Samarang” (VBG 8 No. V, 1816 halaman 18-25). Berikut ini saya terjemahkan cuplikan pengalaman Thomas Horsfield saat mengamati Tangkuban Parahu:

Akar-akar dari Gunung Gede meluas ke arah timur hingga bertemu dengan dua gunung yang mempertalikan rantai ganda dua gunung api Pulau Jawa, yakni Buang-rang (baca: Burangrang) di utara, Baduwa di selatan.

Saya mula-mula akan merinci uraian yang saya buat pada bagian utara – yakni pada jarak dekat ke timur Buang-rang (yang bentuk dan lingkungannya cukup membuktikan keadaan vulkaniknya), kita bertemu dengan gunung yang dinamakan Tankuban-prau (baca: Tangkuban Parahu).

Namanya berasal dari tampilannya yang terlihat dari kejauhan, yakni menyerupai sebuah prau atau perahu terbalik.

Gunung ini membentuk kerucut besar yang terpotong pucuknya: dasarnya melebar sangat luas, dan menjadi pegunungan terbesar di Pulau Jawa.

Gunung Tangkuban Parahu dari Bandung memang tampak seperti perahu terbalik. (Atep Kurnia)

Saya mendaki gunung ini pada bulan Juli 1804. Setelah meninggalkan desa Chiratton (baca: Cirateun), jalan ke puncak melalui hutan rapat berpohon besar-besar dan subur, tumbuh pada tanah sangat subur dan merangsang pertumbuhan. Pendakiannya sangat bertahap. Gunung ini merupakan salah satu gunung api paling menarik di pulau ini. Meski Tangkuban Parahu lama tidak tercatat meletus besar, yang terbukti dari berkembangnya vegetasi dan kedalaman lubang lava hitam yang menutupi sisi-sisinya, bagian dalamnya tetap dalam keadaan demikian.

Kawahnya termasuk salah satu yang terbesar, barangkali bahkan yang terbesar di Jawa. Secara umum, kawahnya berbentuk corong, tetapi tepi-tepinya sangat tidak teratur. Pinggir pembatasnya di puncak serta derajat ketinggiannya berbeda, menaik dan menurun di seluruh kelilingnya.

Garis tegak lurus pada sisi di tempat saya mendaki (yakni di selatan) paling tidak dalamnya 250 kaki (=76,2 meter). Pada garis tepi barat menaik agak tinggi.

Keliling kawahnya, saya kira mencapai hampir satu setengah mil Inggris (=2,4 kilometer).

Sisi selatan dari kawah dalam, di dekat puncaknya, sangat curam: Saya tidak mungkin menuruninya tanpa tali terikat pada belukar di pinggirnya; di sini terdiri dari pecahan-pecahan kecil lava – sekitar sepertiga kedalamannya mencong atau melereng, dan bagian lebih rendahnya terdiri dari onggokan besar bebatuan, yang melaluinya aliran air yang menurun itu menyebabkan adanya saluran yang melilit.

Sisi timurnya menurun secara bertahap sekitar satu setengah dari kedalamannya, yang diakhiri secara tiba-tiba dengan bongkah-bongkah besar bebatuan tegak lurus dan menerus hingga ke dasarnya. Sisi utaranya secara bertahap lebih dapat ditangguhkan dibandingkan dengan yang lainnya, dan sebagian di antaranya tertutupi vegetasi. Sisi baratnya merupakan bongkah-bongkah bebatuan tegak lurus.

Dasar gunung terdiri dari batuan basal sangat banyak, tempat terjadinya proses vulanik; sisi-sisinya menampilkan bongkah dan lapisan batuan pada setiap aneka susunannya. Di beberapa tempat bebatuan nampak membentuk dinding teratur, yang segera ditingkahi pecahan besar, yang jelas tertangguhkan oleh dasarnya yang kecil, dan sewaktu-waktu terancam jatuh. Kadang-kadang menaik dengan cara melereng dan nampak diatur dengan sentuhan seni; tetapi saya tidak akan mencoba membuat deskripsi tentang tempat bebatuan dan lapisannya yang membentuk dinding-dinding kawah dalam, yang tanpa gambar cermat akan boyak dan tidak jelas. Permukaan bebatuan yang menggarisi bagian dalam kawah seluruhnya terkalsinasi, umumnya berwarna putih, kadang-kadang cenderung abu atau kuning. Di banyak tempat, pecahan-pecahan kecil lava menempel dan meliputi bebatuan basal; ukurannya berbeda-beda, bentuk serta warnanya beragam, tetapi kebanyakannya terkalsinasi atau terbakar di permukaan seperti bebatuan itu sendiri.

Di banyak tempat, sisi-sisi lain kawah dalam tergali oleh galur-galur yang disebabkan oleh air menurun yang menembus kedalaman dan menyingkapkan secara lebih lengkap komposisi basaltik bagian dalamnya.

Dasar kawahnya berdiameter 300 yard (=274 meter), tetapi tidak sepenuhnya teratur; bentuknya bergantung kepada pertemuan menerus dari sisi-sisinya di bawah. Permukaannya sangat beragam; bertebaran seperti sisi-sisinya dengan bongkah-bongkah besar batuan basal, celah-celah di antaranya tergali dengan cara yang sama oleh aliran air yang menurun.

Di dekat pusat, agak ke sisi barat, berisi danau lonjong tidak beraturan atau himpunan air, yang diameter paling maksimalnya hampir 100 yard (=91,44 meter); danau itu meluas ke beberapa tempat. Airnya putih dan memperlihatkan tampilan susu, mendidih dengan pelepasan sinambung gelembung-gelembung besar, yang naik dengan kekuatan sangat besar dari sisi timur. Panasnya mencapai 112 derajat Fahrenheit: didihannya timbul dari perkembangan udara yang tetap demikian.

Airnya mengandung aroma belerang, rasanya mengandung zat menciutkan, agak asin. Bila digoyang-goyang dalam botol, meletuplah udara sangat keras. Sisi-sisi danau pada beberapa jarak digarisi tanah mengandung tawas putih, yang sangat halus dan lepas, sehingga sangat sulit untuk mendekati air. Saat mencoba memeriksa suhu dan mengumpulkannya untuk bahan analisis, saya terbenam ke dalam tanah, sehingga perlu terlebih dulu menyingkirkan pecahan-pecahan besar batuan basal sebelum saya mampu melewatinya.

Tanahnya terdiri dari lempung (alumina) lava, yang larut oleh uap belerang di dasar kawah. Ini termasuk jenis sangat murni dan berderajat hampir di luar perkiraan. Abu yang sangat besar pernah beberapa kali terhempas dari kawah-kawah lama gunung api di Jawa; letusan zat ini terjadi pada 1761 dari Gunung Gede, sebagaimana yang telah dikemukakan. Letusan ini dianggap sebagai letusan abu.

Saya adalah saksi letusan yang sama yang terjadi dari Gunung Kelut pada bulan Juni tahun lalu; tanahnya sangat menyerupai abu dan sangat halus dan ringan sehingga angin sepoi-sepoi musim hujan dapat membawanya dari gunung ini, yang terletak pada garis bujur Surabaya, ke Batavia hingga jauh ke arah barat. Abu tersebut mengandung lempung murni, bercampur air, menjadi lekat dan dapat dibentuk – sangat mudah menjadi bejana dan bila bisa didapat dalam jumlah yang banyak mungkin dapat digunakan untuk kerajinan. Semua sifatnya menandakan bahwa alumina dari lava terpecah dalam derajat sangat ekstrem oleh sebab-sebab yang telah dikemukakan.  Orang Jawa tidak seluruhnya mengenal sifat-sifat tanah ini; yang menjadi kebiasaan di antara pandai besi adalah mengumpulkan abu lontaran dari letusan-letusan yang sama itu, untuk membuat cetakan karya-karya pandainya yang halus.

Ke arah timur, bagian kaki dan tangan danau adalah saluran keluar bagi api dari dalam tanah; saluran tersebut terdiri dari beberapa lubang dari mana lontaran menerus uap belerang terjadi. Dua saluran di antaranya lebih besar dibandingkan yang lainnya; masing-masing jaraknya terpisah beberapa kaki. Lubang-lubangnya berbentuk bujur tidak beraturan, dan tertutupi kristal-kristal belerang tidak murni, yang terbentuk dari uap lontaran, dan  menempel pada karang pelapis dari tanah tawas, dan membentuk dirinya sendiri dalam ragam konfigurasi berbeda (cekung, pipa, dan lain-lain) di dekat lubang-lubang tersebut. Uap terdorong keluar oleh kekuatan dahsyat, dengan suara keras, menyerupai mendidihnya ketel besar dalam isi perut gunung ini. Warnanya putih, seperti uap air mendidih.

Lubang-lubang itu tidak dapat didekati karena bisa menimbulkan bahaya, sebab luas sejati lubang-lubangnya tidak dapat ditemukan: lubang-lubangnya dikelilingi karang pelapis belerang yang melekat pada pelat tipis tanah tawas, yang sangat rapuh. Diameter terbesar pembukaan besar ini hampir 12 inci.

Untuk memberikan gambaran memadai ihwal bagian dalam kawah ini akan melengkapi orang yang menulisnya: Kekuatan kesannya meningkat, barangkali, karena ingatan pada bahaya yang teratasi saat turun ke dasar kawah. Setiap hal di sini berkontribusi untuk mengisi benak dengan kepuasan paling hebat. Pasti ini merupakan salah satu adegan paling hebat dan dahsyat yang dihasilkan oleh alam, dan dalam contoh ini luas kawah, demikian pula bekas-bekas letusan sebelumnya, menampilkan pandangan dan kegembiraan yang tak kuasa saya gambarkan.

Itulah sekelumit catatan Thomas Horsfield saat mengunjungi Gunung Tangkuban Parahu pada Juni 1804. Seperti umumnya naturalis, dengan keragaman minat ilmiahnya yang luas, ia dapat dibilang sebagai perintis penyelidikan geologi Pulau Jawa, terutama pemetaan geologi (empat dasawarsa sebelum F.W. Junghuhn), mineralogi dan vulkanologi. Pengetahuannya mengenai ihwal kegunungapiannya di Pulau Jawa mula-mula ditimbanya dari gunung-gunung api di Priangan, termasuk tentu saja Tangkuban Parahu.***

Tulisan adalah kiriman netizen, isi tulisan di luar tanggung jawab redaksi.

Ayo Menulis klik di sini

Editor: M. Naufal Hafizh

artikel terkait

dewanpers