web analytics
  

Ngopi Cantik di Shelter Galunggung

Rabu, 12 Agustus 2020 10:55 WIB Netizen Siska Hermayaningsih
Netizen, Ngopi Cantik di Shelter Galunggung, Kopi,Shelter Galunggung,Kuliner

Galunggung Primitive Shelter (Facebook Galunggung Primitive Shelter)

Siska Hermayaningsih

Entrepreneur, Penyuka travelling.

AYOBANDUNG.COM -- Menurut legenda, kopi pertama kali ditemukan seorang pengembala Kambing bernama Khaldi. Ketika ia sedang mengembalakan kambingnya, ia melihat kambingnya sering kali terlihat gembira dan bersemangat setelah menggigit biji dan daun dari tanaman hijau. Karena penasaran, ia mencoba biji tanaman tersebut dan merasa gembira dan bersemangat setelahnya. Akhirnya penemuan ini menyebar dari mulut ke mulut. Sehingga kopi menjadi salah satu komoditas dunia seperti saat ini.

Di Indonesia sendiri, bibit kopi dibawa oleh Belanda pada tahun 1699 (dikutip dari kumpulan.info.sehat/kopi-minuman-nikmat). Pada saat itu jenis kopi yang dibawa adalah jenis arabika. Pada tahun 1700-an, ekspor kopi Indonesia (saat itu bernama Hindia Belanda) meledak hingga melebihi ekspor kopi dari Mocha, Yaman.

Saat ini, Indonesia menjadi produsen kopi terbesar ke tiga setelah Brasil dan Kolombia. Kopi masa kini tidak lagi identik dengan bapak-bapak, berkumis atau petugas ronda. Kopi telah naik kelas. Segmen pasarnya pun semakin melebar. Tidak hanya kaum pria, kaum wanita pun telah menjadi penikmat trend ini. Tidak hanya generasi X dan Y, generasi Z (generasi millennial) pun ramai mengisi kedai kopi.

Menjamurnya kedai kopi di Indonesia membuat bisnis kedai kopi semakin bervariasi. Selain pada menu yang ditawarkan, konsep kedai pun menjadi strategi para pemilik kedai untuk menarik pembeli. Ada kedai kopi yang mengusung konsep tempo dulu,(jadul) hingga modern. Ada kedai kopi yang mengkhususkan untuk pecinta kopi yang suka dengan kesendirian. Ada juga kedai kopi yang memposisikan dirinya sebagai tempat nongkrong bersama teman atau keluarga.

Rata-rata kedai kopi berada di tengah kota atau mall, dengan pertimbangan kemudahan akses. Tapi jika anda bosan dengan suasana ngopi di tengah kota, anda bisa mencoba suasana baru di kedai kopi Shelter Galunggung.

Kedai kopi yang berada di Kawasan wisata gunung Galunggung ini menawarkan konsep ngopi di tengah hutan. Tersedia indoor dan outdoor. Indoor dari Shelter Galunggung terlalu kecil, menurut saya. Menyatu dengan dapur dan tempat memesan/membayar. Karena memang kedai ini dikonsepkan untuk ngopi di tengah hutan (outdoor). Tapi karena kecil, justru terlihat unik dan menjadi latar selfie yang menarik.

Lokasinya yang tak jauh dari gerbang masuk, semakin memudahkan pembeli untuk mengaksesnya. Udara hutan yang sejuk karena dikelilingi pohon pinus, pembangunan kedai yang tidak merusak hutan dan tata letak tempat duduk membuat anda merasa nyaman dan betah berlama-lama di sini.

Dengan harga makanan dan minuman yang berkisar antara 15K-20K, tentu ini menjadi nilai tambah. Tak perlu keluar banyak uang untuk mendapatkan ketenangan, keindahan alam dan kopi yang nikmat. Tempatnya yang berada di ketinggian, membuat anda bisa melihat city light di malam hari. Tapi karena adanya pandemi Covid-19 ini, Shelter Galunggung hanya buka sampai pukul 4 sore. Jam buka sendiri dimulai dari jam 7 pagi.

Bagi Anda yang bukan penyuka kopi, di sini tersedia juga minuman-minuman nonkopi. Makanan yang ditawarkan rata-rata adalah cemilan seperti roti bakar, pisang goreng, cimol, cireng dan beberapa cemilan lainnya. Ada juga paket nasi liwet dadakan dengan harga 150K.

Satu-satunya kekurangan tempat ini adalah tidak tersedia colokan di setiap meja. Maka Shelter Galunggung bukanlah kedai kopi untuk anda menyelesaikan tugas kantor/kuliah. Shelter Galunggung memposisikan dirinya sebagai kedai kopi untuk anda menghabiskan waktu bersama teman/keluarga dan bersantai. Benar-benar santai.

Tulisan adalah kiriman netizen, isi tulisan di luar tanggung jawab redaksi.

Ayo Menulis klik di sini

Editor: M. Naufal Hafizh

artikel terkait

dewanpers