web analytics
  

Kehidupan Warga Kampung Naga yang Tak Terguncang Corona

Rabu, 12 Agustus 2020 06:25 WIB Irpan Wahab Muslim
Umum - Regional, Kehidupan Warga Kampung Naga yang Tak Terguncang Corona, Kampung Naga Tasik,Kampung Naga,Warga Kampung Naga,Kehidupan warga kampung naga,Pandemi Covid-19

Warga kampung naga (Ayotasik.com/Irpan Wahab)

TASIKMALAYA, AYOBANDUNG.COM -- Pandemi Covid-19 yang melumpuhkan sektor pariwisata Kampung Naga Desa Neglasari, Kecamatan Salawu, Kabupaten Tasikmalaya tidak berdampak besar terhadap kehidupan masyarakat adat kampung Naga. Meskipun memukul sektor pariwisata, namun warga adat kampung naga tetap bisa hidup dengan damai dan tenang.

Juru pelihara Kampung Naga Ucu Suherlin menuturkan, di kampung adat naga setidaknya ada 101 Kepala Keluarga. Selama pandemi Covid-19, mereka tidak kesusahan dalam mengisi dan memenuhi kebutuhan hidup. Hal itu karena setiap kepala keluarga, mempunyai cadangan pangan sendiri.

"Warga kampung naga itu berdaulat secara pengan. Disaat terjadi pandemi Corona itu tidak kesulitan karena cadangan pangan aman," ucap Ucu, Selasa (11/8/2020).

Kampung Naga, lanjut Ucu, sudah menjadi adat dan kebiasaan jika dalam menjalani kehidupan sehari-hari diterapkan pola kesederhanaan. Artinya, hidup seadanya dan tidak banyak menuntut hal-hal mewah.

"Untuk kebutuhan primer seperti makan mereka aman, karena kesederhanaan. Kehidupan hanya mengandalkan bertani dan membuat kerajinan," kata Ucu.

Enah (80) warga kampung adat Naga mengakui, selama pandemi Corona kampung naga yang mempunyai luas 1,5, hektare sepi dari aktivitas kunjungan. Namun hal itu tidak berdampak besar bagi kehidupan warga di dalamnya.

Warga tetap beraktivitas bertani maupun membuat kerajinan dalam pola hidup sederhana. Hal itu lantaran, dalam menjalani kehidupan mereka selalu berpegang teguh pada ajaran leluhur.

"Saaya-aya we jang kanggo tuang mah. Teu aya rencang nya daun sampeu sareng sambel we da tos biasa kitu, " ucap Enah.

Enah yang sehari-hari mengisi kegiatan dengan bertani dan membuat kerajinan pengki atau tengkor menambahkan, virus corona hanya melumpuhkan aktivitas kunjungan tidak menggerus kehidupan masyarakat adat.

"Pedah waktos corona mah sepi, sepi we teu aya hiji-hiji acan anu sumping. Tapi da ema sareng anu sanesna tetap we tiasa tuang, tiasa ngajalanan hirup," ujar Enah.

Editor: Rizma Riyandi

artikel terkait

dewanpers