web analytics
  

Tugu Cidolog Tasikmalaya, Tanda Patriotisme yang Kini Lusuh dan Nyaris Roboh

Selasa, 11 Agustus 2020 19:29 WIB Irpan Wahab Muslim
Umum - Regional, Tugu Cidolog Tasikmalaya, Tanda Patriotisme yang Kini Lusuh dan Nyaris Roboh, Tugu Cidolog,Patriotisme,Tasikmalaya,Singaparna

Tugu Cidolog Tasikmalaya kini terlihat lusuh dan nyaris roboh. (Irpan Wahab)

TASIKMALAYA, AYOBANDUNG.COM -- Kondisi tugu Cidolog di Desa Salebu, Kecamatan Mangunreja, Kabupaten Tasikmalaya sungguh memprihatinkan. Bukan hanya lusuh dan warna yang memudar, tugu sebagai tanda patriotisme dan heroisme warga Singaparna dan Divisi Siliwangi itupun nyaris roboh.

Pantauan Ayotasik.com, Selasa (11/8/2020) kondisi tugu sudah  sangat memprihatinkan. Bagian bawah tugu sebagai menyangga sudah dalam kondisi rusak. Hal ini membuat tugu miring dan nyaris roboh. Padahal, satu tahun lalu kondisi Tugu masih tegak berdiri meskipun warna sudah memudar.

Tugu Cidolog sendiri merupakan tugu bersejarah. Di tugu km setinggi 2x1 meter itu terpatri lambang maung dibagian atas. 

Di bawahnya tertulis beberapa kalimat yang menyimpan heroisme yang berbunyi "Dijalan tikungan Cidolog, Salebu, Singaparna pada medio September 1947 Kompi Lukito (Bat. S.L Tobing) mengadakan penghadangan terhadap iringan konvoi yang membawa Jenderal Baurman Van Vreeden kepala staf umum tentara belanda bisa dikacaukan sehingga dokumen-dokumennya termasuk stempel jatuh di tangan kita". Dalam tugu itu pula ada ukiran tanda tangan Panglima Divisi Siliwangi Pertama Dr. A.H. Nasution.

Kondisi semakin rusaknya Tugu Cidolog itu pun diakui Erik, salah seorang pedagang tungku yang berada tepat di belakang tugu. Erik mengatakan, wajar jiga kondisi tugu dalam kondisi memprihatinkan karena kurangnya perawatan.

"Kalau miringnya kemungkinan diseruduk kendaraan, saya tiap hari disini berjualan tidak melihat ada seseorang yang merawat tugu," ucap Erik.

Salah seorang anggota Legiun Veteran Republik Indonesia (LVRI) Kecamatan Salawu, Hamid (85) mengaku merasa sakit hati melihat tugu sebagai penanda perjuangan dirinya dan rekan rekannya tidak terawat dan nyaris roboh.

Dalam ingatan Hamid, kisah heroisme warga Singaparna dan Devisi Siliwangi itu dengan melakukan perusakan jalan serta barikade dengan pohon dengan maksud menghadang iring-iringan pasukan Belanda.

"Waktu dulu, jalur ini ditakuti oleh Belanda," ucap Hamid dengan suara serak.

Upaya penghadangan oleh warga dan pasukan Siliwangi itu membuat pasukan Belanda berang. Belanda melampiaskan kekesalan dengan meluluh lantakan kampung Tanjaknangsi, Desa Neglasari, Kecamatan Salawu.

Penghadangan dan blokade terhadap Belanda itu bukan hanya dilakukan oleh TNI dari devisi siliwangi, tapi juga dibantu warga satu kampung. Mereka dikomando lima pasukan Siliwangi bersenjatakan bambu runcing dan senjata sederhana lainnya.

"Orang sekampung ikut berjuang. Semua kompak menunggu komando dari tentara (TNI)," ucap Hamid.

Hamid yang sudah berjuang mengusir penjajah Belanda itu hanya bisa berharap, generasi muda dan pemerintah bisa merawat setiap tugu bersejarah di Tasikmalaya. Hal itu sebagai bagian dari menghargai jasa para pahlawan yang gugur di medan pertempuran.

Editor: Dadi Haryadi

artikel terkait

dewanpers