web analytics
  

36 Pegawai Dikarantina, KCD Disdikbud Jabar Lumpuh 14 Hari

Selasa, 11 Agustus 2020 18:35 WIB Muhammad Ikhsan
Umum - Regional, 36 Pegawai Dikarantina, KCD Disdikbud Jabar Lumpuh 14 Hari, KCD Disdikbud Jabar,Positif Covid-19

Ilustrasi evakuasi pasien positif covid-19. (Kavin Faza)

CIANJUR, AYOBANDUNG.COM -- Kantor Cabang Dinas (KCD) Pendidikan dan Kebudayaan Provinsi Jawa Barat Wilayah VI lumpuh selama 14 hari. Sebab, sebanyak 36 pegawai harus dikarantina pasca swab menyusul terkonfirmasi positifnya satu orang pegawai di lingkungan instansi tersebut.

Juru Bicara Gugus Tugas Covid-19 Kabupaten Cianjur, Yusman Faisal, mengatakan hasil pemeriksaan swab biasanya akan keluar selama 1-2 pekan. Sambil menunggu keluarnya hasil pemeriksaan swab, semua pegawai di KCD Disdikbud Provinsi Jawa Barat VI harus menjalani karantina mandiri. 

"Kita karantina semua. Kita sudah melihat tempatnya dan memungkinkan untuk dikarantina di kantor tersebut," terang Yusman kepada Ayobanudng.com saat dihubungi melalui telepon, Selasa (11/8/2020).

Jumlah pegawai yang saat ini tengah menjalani karantina mandiri sebanyak 36 orang. Mereka pun diinstruksikan tidak beraktivitas ke luar kantor karena dikhawatirkan akan terjadi kontak dengan yang lainnya. “Mereka juga tidak boleh melayani publik," ucapnya.

Kasus baru terkonfirmasi positif covid-19 yang dialami salah seorang pegawai KCD Disdikbud Provinsi Jawa Barat Wilayah VI berinisial NN itu diduga terpapar dari menantunya. Tim Gugus Tugas Covid-19 pun melakukan tracing dan tracking untuk menelusuri kontak erat yang bersangkutan.

"Kita membuat rangking dari 1 sampai 36 orang yang ada di lingkungan KCD Disdikbud itu. Yang paling kontak erat dengan Ny NN ini kita telusuri,termasuk keluarganya. Tapi kalau tidak (ada kontak erat), tidak kita telusuri," ungkapnya. 

Kabupaten Cianjur merupakan salah satu daerah yang dinilai pemerintah pusat cukup baik menangani covid-19. Pemkab Cianjur melalui Gugus Tugas Covid-19 terus berupaya menangkal indikasi penyebaran virus korona dengan berbagai langkah. 

"Saat ini kita terus menjaga. Kalau ada indikasi kasus positif, kita berupaya cepat putus mata rantainya. Jadi tidak menyebar menjadi klaster," jelasnya. 

Memasuki fase adaptasi kebiasaan baru atau new normal, sebut Yusman, bisa jadi sebuah dilema. Sebab, di saat pandemi covid-19, berbagai aktivitas mulai dibuka sehingga memicu potensi penyebaran.

"Dalam kondisi saat ini yang sudah tidak ada lagi penyekatan-penyekatan, sudah bebaslah, tidak ada sekat lagi. Tindakan yang dilakukan hanya bisa itu (memutus cepat mata rantai potensi penyebaran)," pungkasnya. 

Editor: Dadi Haryadi

artikel terkait

dewanpers