web analytics
  

Ini Sosok Pak Ogah di Pusdai yang Selalu Energik dan Murah Senyum

Selasa, 11 Agustus 2020 17:59 WIB Fichri Hakiim
Bandung Raya - Bandung, Ini Sosok Pak Ogah di Pusdai yang Selalu Energik dan Murah Senyum, Pak Ogah,Pusdai, bandung hari ini,Unik

Akim (30), 'Pak Ogah di sekitaran Pusdai Bandung' yang ramah senyum dan energik saat bekerja. (Ayobandung.com/Fichri Hakiim)

CIBEUNYING KALER, AYOBANDUNG.COM -- Warga Bandung yang sering melintasi Masjid Pusat Dakwah Islam (Pusdai) Kota Bandung pasti sudah tak asing dengan sosok “Pak Ogah” yang kerap berada di pertigaan jalan sekitar Pusdai. Sosok Pak Ogah yang unik tersebut kerap bersorak dan berkata "Ayoo..hati-hati di jalan, Kakak."

Ayobandung.com berkesempatan mengulik lebih dalam kisah hidup "Pak Ogah Pusdai" yang ternyata bernama Akim (30).

Akim bercerita, dia menjadi Pak Ogah sejak 2009. Sebagai Pak Ogah, Akim mendapatkan penghasilan sebesar Rp150.000 dalam kurun waktu 4 jam. "Dari tahun 2009 aku jadi Pak Ogah di pertigaan Pusdai ini," ujarnya.

Ketika ditanya mengenai persoalan pribadinya menjadi Pak Ogah, Akim menjelaskan dirinya selalu bekerja dengan ikhlas.

"Prinsip aku itu bekerja selalu pakai hati, murah senyum, dan jangan mudah emosi. Semangat kerja adalah hal yang paling penting untuk aku," katanya.

Pria yang khas dengan kaus yang digulung di bagian lengannya itu mengatakan, semua rezeki sudah diatur Yang Maha Kuasa. "Kalau kita sedang bekerja itu jangan diambil pusing, nikmati aja kerjaan kita. Insyaallah diberikan kelancaran," tutur Akim.

Ketika sedang bertugas, Akim selalu menebar senyuman kepada pengendara. Hal itu dilakukan semata-mata agar pengendara nyaman terhadap keberadaan Pak Ogah.

"Pak Ogah itu tidak semuanya buruk. Aku juga tidak pernah memaksa kepada pengendara. Kalau dikasih ya aku bilang terima kasih, kalau tidak dikasih ya aku tetap senyum ke mereka," tuturnya.

Akim adalah anak ke-13 dari 17 bersaudara. Dia tinggal di Cikutra bersama Ibu dan saudara lainnya. Ayah Akim meninggal dunia 4 tahun lalu.

"Aku punya adik 4 orang. Adik aku juga ada yang jadi Pak Ogah sama seperti aku. Maklum aku cuma lulusan SD dan aku tidak bisa baca," guraunya.

Orang tua Akim lahir di Jawa, namun Akim lahir dan besar di Bandung. Di usianya yang memasuki kepala 3, Akim masih lajang. "Kalau untuk saat ini belum menikah. Aku sadar dengan kondisi aku cuman sebagai Pak Ogah. Sekarang aku fokus untuk jaga dan ngurusin Ibu aku di rumah, kasian beliau udah tua," ujarnya.

Akim juga berpesan kepada pengendara bermotor untuk bersabar jika dirinya memberhentikan atau meminta jalan.

"Untuk pengendara supaya tetap berhati-hati. Kalau saya berhentikan, mohon untuk bersabar dan saya jangan ditabrak. Kadang ada beberapa pengendara yang tidak sabar dan akhirnya menabrak saya. Tapi saya tidak pernah marah karena itu risiko kerja di jalanan," ujar Akim sambil tersenyum.

Editor: M. Naufal Hafizh

artikel terkait

dewanpers