web analytics
  

Cerita Siswa Miskin Belajar Jarak Jauh. 'Nebeng' HP dan Jalan Kaki 2 Kilometer

Selasa, 11 Agustus 2020 17:04 WIB Tri Junari
Bandung Raya - Ngamprah, Cerita Siswa Miskin Belajar Jarak Jauh. 'Nebeng' HP dan Jalan Kaki 2 Kilometer, nebeng hp,hp,siswa miskin,Belajar Daring,online,KBB,Persib

iki Ahmad, anak bungsu dari pasangan Rukandi (50) dan Mastuti (50) warga Kampung Babakan Pari RT 02 RW 04, Desa Batujajar Timur, Kecamatan Batujajar, KBB.  (Ayobandung.com/Tri Junari)

BATUJAJAR, AYOBANDUNG.COM -- Pembelajaran Jarak Jauh (PJJ) secara online belum sepenuhnya bisa dilakukan oleh siswa di Kabupaten Bandung Barat (KBB) khususnya mereka yang berasal dari keluarga miskin.

Seperti yang dialami oleh Kiki Ahmad, anak bungsu dari pasangan Rukandi (50) dan Mastuti (50) warga Kampung Babakan Pari RT 02 RW 04, Desa Batujajar Timur, Kecamatan Batujajar, KBB

Kiki harus berpeluh keringat jalan kaki sejauh 2 kilometer dari gubuk tempatnya tinggal ke rumah temannya. Menyusuri perbukitan terjal dan perusahaan tambang batu, Kiki 'nebeng' ponsel teman sekelasnya di perkampungan terdekat. 

"Enggak punya HP, jadi kalau belajar ikut ke teman," kata Kiki saat ditemui Ayobandung.com, Selasa (11/8/2020) 

Keringat mengucur deras bukan halangan bagi siswa kelas VI SDN Babakan Pari ini, 'nebeng' menjadi pilihan terakhir agar tugas yang diberikan guru tuntas dikerjakan. 

Bukan tak ingin dirinya memiliki ponsel pintar, namun dengan melihat kondisi orang tuanya yang hanya seorang petani penggarap. Kiki enggan menambah kemiskinan keluarganya.

"Kasian abah juga enggak punya HP, yang penting masih ada yang ngasih pinjam," cetusnya

Hidup sebagai siswa miskin tak menyurutkan harapan besar Kiki untuk mengangkat derajat ekonomi keluarganya. Siswa murah senyum ini bercita-cita menjadi pemain sepak bola profesional dan masuk klub besar semacam Persib.

"Mau jadi pemain bola, seneng nonton Persib," ucapnya.

Orang tua Kiki, Rukandi mengaku, sudah seminggu tinggal di gubuk berukuran 1,5 x 2 meter di kaki Gunung Batu. Jangankan memikirkan membeli HP belajar online anaknya, untuk kebutuhan hidup keluarganya sehari-hari juga sangat berat. 

Bahkan karena keterbatasan ekonomi, membuatnya harus angkat kaki dari kontrakan seharga Rp350.000 dan kini tinggal di gubuk bambu tengah hutan.

"Dulu saya kerja jadi buruh angkut batu tapi sekarang udah enggak, jadi enggak punya penghasilan. Kaki saya enggak kuat, sakit, kata dokter asam urat," terangnya. 

Sementara dirinya lebih suka tinggal di gubuk yang dibangun di lahan garapan milik perusahaan tambang tempat Rukandi sebelumnya menjadi buruh angkut batu. 

Itu dilakukan agar dapat sambil menjaga tanaman seperti singkong, ubi, kacang tanah, dan cabai rawit yang digarapnya.

"Baru seminggu anak dan istri tinggal di sini karena tak bisa bayar kontrakan. Ya memang kalau ke kampung sebelah lumayan jauh, kasihan juga anak saya," imbuhnya.

Editor: Adi Ginanjar Maulana

artikel terkait

dewanpers