web analytics
  

Penyaluran Beras Minim, Stok Menumpuk di Gudang Bulog Indramayu

Selasa, 11 Agustus 2020 13:26 WIB Erika Lia
Umum - Regional, Penyaluran Beras Minim, Stok Menumpuk di Gudang Bulog Indramayu, Bulog Indramayu,Bulog,Gudang Bulog,Beras,Beras Indramayu

Ilustrasi--Beras (Ayobandung.com)

INDRAMAYU, AYOBANDUNG.COM -- Penyaluran beras di Kabupaten Indramayu terbilang minim di tengah penyerapan yang tengah berjalan. Akibatnya stok beras menumpuk di gudang.

Kepala Bulog Indramayu, Dadan Irawan menyebutkan, sampai kini stok beras di gudang mencapai 42.000 ton. Keberadaannya sebagai persiapan memenuhi kebutuhan ketahanan pangan.

"Stok beras di gudang ada 42.000 ton, itu untuk kebutuhan ketahanan pangan, misalnya dalam kondisi darurat atau bantuan pemerintah bagi masyarakat selama 6-8 bulan ke depan," jelasnya.

Dia mengungkapkan, stok tersebut dari pengadaan beras sejak 2018 sampai sekarang. Penumpukan dipicu tersendatnya penyaluran beras setelah program raskin dihapus.

Selama program itu digelar, lanjutnya, penyerapan beras berlangsung rutin. Berbeda dengan sekarang ketika penyaluran rendah, di sisi lain penyerapan terus berjalan.

"Penyaluran rutin sekarang paling untuk kegiatan KPSH (ketersediaan pasokan dan stabilisasi pasar) bagi pedagang ritel," cetusnya.

Hanya, itu pun jumlahnya tak sebesar penyaluran raskin. Sementara, baik movreg dan movnas tahun ini dari Bulog Indramayu belum ada.

Stok beras itu sendiri tersimpan di 8 gudang milik Bulog Indramayu. Saat ini, tersisa kapasitas 10.000 ton dari keseluruhan kemampuan penyimpanan beras di gudang tersebut.

Jumlah stok pun dipastikan terus bertambah, mengingat para petani di Indramayu kini baru mulai panen untuk musim tanam gadu 2020. 

Meski begitu, sebutnya, stok beras yang tersimpan di gudang kini sesungguhnya belumlah mencapai target. Khusus tahun ini, pihaknya menargetkan penyerapan 46.000 ton setara beras.

"Target tahun ini 46.000 ton setara beras, tapi jumlah yang terealisasi baru 12.500 ton setara beras," ujarnya.

Rendahnya realisasi penyerapan tahun ini sendiri, menurutnya, terhambat kebijakan pemerintah. Semula, pemerintah memutuskan penyerapan berupa gabah.

Sayangnya, harga gabah di pasaran saat itu lebih tinggi ketimbang harga pembelian pemerintah (HPP). Lantas, kebijakan penyerapan diubah menjadi beras.

Hanya, optimalisasi penyerapan beras juga terkendala sebab mutu beras petani kurang baik akibat masa panen bersamaan dengan musim hujan. Padi terendam air sehingga mutu beras tak sesuai kriteria beras Bulog.

"Sekarang, kebijakan penyerapan kembali pada gabah. Harga gabah di tingkat petani sendiri naik turun," tuturnya.

Dia tak menampik penumpukan beras di gudang berpotensi memunculkan hama. Dia bahkan mengakui, tak sedikit beras yang sudah berdebu.

Karena itu, pihaknya telah rutin melakukan perawatan berupa fumigasi dan sprying. Khusus beras yang kualitasnya berkurang, pihaknya mengajukan kepada pusat guna pengolahan lebih lanjut, sebelum disalurkan dalam kondisi baik.

Wakil Ketua Kontak Tani Nelayan Andalan (KTNA) Kabupaten Indramayu, Sutatang mengatakan, harga GKP (Gabah Kering Panen) di tingkat petani kini berkisar Rp4.500-Rp4.800 per kilogram.

"Petani jadi lebih milih jual gabah ke pasaran dibanding ke Bulog karena harganya lebih mahal daripada HPP, jadi lebih untung," ungkapnya.

Peraturan Menteri Perdagangan Republik Indonesia Nomor 24 Tahun 2020 tentang Penetapan HPP untuk Gabah atau Beras, diketahui GKP di tingkat petani seharga Rp4.200/kg dan di penggilingan Rp 4.250/kg.

Sementara, HPP gabah kering giling (GKG) seharga Rp5.250/kg di penggilingan dan Rp5.300/kg di gudang Perum Bulog.

Editor: Rizma Riyandi

artikel terkait

dewanpers