web analytics
  

Film Brothers, Saat Perang Merenggut Normalitas Hidup Pejuang

Senin, 10 Agustus 2020 17:13 WIB M. Naufal Hafizh
Umum - Artis, Film Brothers, Saat Perang Merenggut Normalitas Hidup Pejuang, Film Review,film veteran,Brother,Tobey Maguire,Natalie Portman

Brothers menceritakan luka mental veteran perang dapat menghancurkan bukan hanya hidupnya sendiri, melainkan juga hidup orang-orang di sekitarnya. (Dokumentasi rogerebert.com)

LENGKONG, AYOBANDUNG.COM – Di Hari Veteran Nasional ini, kita tidak bisa melepas pengorbanan dari identifikasi para pejuang. Tidak jarang, demi menyelesaikan tugas, para pejuang harus mengorbankan berbagai hal miliknya.

Kebahagiaan dalam normalitas hidup adalah salah satunya.

Post-traumatic stress disorder (PTSD), gangguan mental yang diakibatkan oleh trauma berat, merupakan hal yang lazim diderita para veteran. Instabilitas akibat hantu dosa-dosa dan trauma semasa perang membuat para veteran kerap menderita saat pulang ke rumah.

Film Brothers menceritakan tentang itu.

Film tragis ini mendepiksikan sebuah keluarga penuh cinta kasih tercerai-berai saat sang kepala keluarga harus pergi berperang.

Bagi Anda penggemar film, pasti sudah tidak asing lagi pada 3 aktor utama yang menghiasi film tahun 2009 ini.

Tobey Maguire, sang aktor yang paling dikenal akan peran Spiderman, memerankan Sam Cahill. Sam adalah seorang kapten Angkatan Laut Amerika Serikat, juga suami dari Grace Cahill. Grace diperankan oleh Natalie Portman, pemenang Oscar 2010 akan perannya di Black Swan.

Pemeran utama ketiga jatuh pada Jake Gyllenhaal yang memerankan adik Sam, Tommy. Saat Sam berangkat berperang, Tommy baru dilepaskan dari penjara dan tidak memiliki impresi baik untuk keluarga Sam.

Sayangnya, setelah Sam berangkat memimpin pasukannya ke Afghanistan, ia diasumsikan tewas saat helikopternya jatuh. Padahal, Sam ditangkap oleh Taliban untuk disiksa bersama salah satu kawannya.

Selama penahanan, Sam harus mengalami berbagai siksaan yang menggoyahkan mentalnya. Puncaknya, Sam terpaksa harus membunuh kawannya sendiri dengan sebuah pipa apabila ia tidak ingin mati dibunuh Taliban.

Sam membunuh untuk kembali keluarganya. Namun, keluarganya sendiri sudah “tidak sama” lagi karena telah mengarungi proses berkabung akan “kematiannya”. Selain itu, Tommy dan Grace pernah bercumbu di tengah duka masing-masing akan kematian Sam.

Obsesi akan pengkhianatan adik dan istrinya merebak dalam pikiran Sam di tengah instabilitas mentalnya. Ia masih tidak bisa memaafkan diri karena membunuh kawannya sendiri.

Film berakhir dengan bittersweet. Sam harus dikirim ke rumah sakit jiwa untuk menyembuhkan PTSD yang membuatnya menghancurkan dapur rumah dan hampir bunuh diri.

Saat dia hampir menembak diri sendiri akibat putus asa, ia berteriak pada polisi yang mengepungnya, “I’m no hero! You know what I’ve done?!”

Kutipan itu mendeskripsikan tidak semua veteran merasa bahagia saat pulang ke rumah. Tidak semua veteran merasa bahagia saat mereka dijadikan pahlawan. Mereka hanya ingin “pertolongan”, agar bisa berdamai dengan apa yang mereka hadapi saat perang.

Ira Hayes adalah salah satu contoh nyata veteran yang membenci popularitas kepahlawanannya. Prajurit Angkatan Laut Amerika Serikat pada Perang Dunia II itu terkenal sebagai salah satu yang mengibarkan bendera Amerika Serikat di Iwo Jiwa.

Namun, dia justru stres akibat PTSD kematian teman-temannya juga berbagai tragedi di medan perang. Dia menjadi pemabuk di tengah tur setelah perangnya hingga akhirnya dia mati muda oleh hipotermia di tengah pikiran mabuknya.

Sam pun mengimplikasikan dambaannya akan kehidupan lamanya untuk kembali di akhir film. Dia mengatakan, dia sudah melihat akhir dari suatu perang dan mempertanyakan apakah ia bisa “hidup” kembali.

Selain itu, "Brothers" juga menunjukkan realita pahit perang: bukan hanya sang prajurit yang terkena dampaknya, melainkan seluruh keluarganya, hingga tetangganya.

Setelah perang, veteran kerap ditelantarkan dari proses penyembuhan yang benar. Bukan hanya kebutuhan sosial ekonomi, luka-luka mental perang pun harus diperhatikan.

Namun, satu hal yang bisa diajarkan film "Brothers"; perang adalah sesuatu yang bisa menghancurkan umat manusia, baik fisik maupun mental. (Farah Tifa Aghnia)

Editor: M. Naufal Hafizh
dewanpers