web analytics
  

Pasangan Lansia Warga Miskin KBB Pilih Tinggal di Gubuk Lahan Garapan

Senin, 10 Agustus 2020 16:42 WIB Tri Junari
Bandung Raya - Ngamprah, Pasangan Lansia Warga Miskin KBB Pilih Tinggal di Gubuk Lahan Garapan, Warga Miskin,kesenjangan ekonomi,batujajar,Gubuk

Rukandi (50), Mastuti (50), dan anak bungsunya ang berusia 12 tahun, warga Kampung Babakan Pari, RT 02 RW 04, Desa Batujajar Timur, Kecamatan Batujajar, Kabupaten Bandung Barat (KBB) sudah seminggu ini tinggal di gubuk bambu kaki gunung batu. (Ayobandung.com/Tri Junari)

BATUJAJAR, AYOBANDUNG.COM -- Jelang peringatan hari kemerdekaan ke-75 Indonesia , pemerintah masih memiliki pekerjaan rumah soal pemerataan pembangunan. Pemenuhan kebutuhan dasar sandang, pangan, dan papan belum merata dinikmati warga miskin

Rukandi (50) dan Mastuti (50) salah satunya, pasangan lansia warga Kampung Babakan Pari, RT 02 RW 04, Desa Batujajar Timur, Kecamatan Batujajar, Kabupaten Bandung Barat (KBB) sudah seminggu ini tinggal di gubuk bambu kaki gunung batu.

Gubuk reyot berukuran 1,5 x 1,5 meter itu berdiri di lahan garapan milik perusahaan tambang tempat Rukandi sebelumnya menjadi buruh angkut batu. Bersama istri dan anak bungsunya, Kiki Ahmad (12), Rukandi memilih tinggal di gubuk setelah diusir pemilik kamar kontrakan.

"Kalau saya memang suka tidur di saung, sambil jaga tanaman. Yang tinggal di kontrakan istri sama anak bungsu, baru seminggu ini semua tinggal di sini," ungkap Rukandi saat Ayobandung.com menyambangi gubuknya, Senin (10/8/2020).

Pria asli Cipatat ini menuturkan, sudah sebulan terakhir dia tak lagi bekerja sebagai buruh panggul batu. Kakinya terasa sakit dan divonis asam urat oleh dokter. Istrinya juga kini berjalan menggunakan tongkat karena menderita gejala stroke. 

Untuk mencapai gubuk yang berada di punggungan bukit ini, akses jalan masuk melalui perusahaan tambang batu sekitar 4 kilometer. Jalanan berdebu dan menanjak selalu dilalui jika ingin ke kampung sekadar membeli beras. 

Rukandi berkilah, dia lebih nyaman tinggal di lahan garapan karena bisa menjaga tanaman seperti singkong, ubi, kacang tanah, dan cabai rawit yang digarapnya. Namun, seminggu terakhir dia terpaksa membawa serta istri dan anaknya karena tak mampu membayar sewa rumah.

"Sebulan Rp350.000, enggak ngusir cuma katanya mau ditempati," ucapnya. 

Sejak saat itu, meski dalam kondisi kurang sehat, dia terpaksa mengajak serta istri dan anaknya tinggal di gubuk. Barang rumah tangga seperti kasur tipis, selimut, televisi jadul, dan peralatan dapur diboyong ke gubuk

Dia juga enggan berpangku tangan meski aparat pemerintahan setempat beberapa kali menyambanginya sekadar mengobrol tanpa memberi solusi atau bantuan pangan. 

"Dari seminggu ini banyak yang datang, nanya-nanya, ngambil foto sama video tapi enggak ada yang ngasih bantuan," katanya. 

Dia hanya ingin tetap tinggal di gubuk itu karena lahan garapannya berada di situ. Rukandi juga tidak berharap banyak pada bantuan yang dijanjikan datang kepadanya. 

"Sekarang jadi banyak yang nanya, padahal ya saya enggak minta apa-apa," katanya.

Anak bungsunya, Kiki Ahmad, mengaku harus turun gunung saat nebeng belajar online kepada temannya. Dia tidak memiliki ponsel pintar untuk melapor pembelajaran jarak jauh.

"Ikut ke teman di kampung, kalau sudah selesai pulang lagi ke sini," kata Kiki berseragam putih merah dengan keringat yang masih mengucur di tubuhnya.

Dia terpaksa turun naik dari gubuk ke perkampungan berjarak 2 kilometer.

"Setiap hari kalau belajar online ikut ke teman," ucap anak yang bercita-cita menjadi pemain sepak bola ini.

Editor: M. Naufal Hafizh
dewanpers