web analytics
  

Komunitas Bandung Trail, Kenalkan Sejarah dan Warisan Budaya Bandung

Senin, 10 Agustus 2020 10:26 WIB M. Naufal Hafizh
Gaya Hidup - Komunitas, Komunitas Bandung Trail, Kenalkan Sejarah dan Warisan Budaya Bandung, Komunitas,Bandung Trail,Sejarah,Warisan Budaya,Bandung,Wisata Bandung

Bertujuan mengenalkan situs sejarah dan warisan budaya Bandung, Komunitas Bandung Trail menyelenggarakan kegiatan tur keliling situs sejarah dan budaya di Bandung sejak tahun 2003, yang bisa diikuti oleh semua peminat sejarah dan cagar budaya dari semua kalangan. (Dokumentasi pribadi/Teguh Amor Patria)

LENGKONG, AYOBANDUNG.COM -- Kota Bandung menjadi salah satu tujuan liburan akhir pekan yang sangat diminati masyarakat, terutama karena kekayaan kuliner, pusat perbelanjaan, kesenian, hingga objek wisata alam yang melimpah.

Bandung juga terkenal sebagai salah satu kota yang kaya akan warisan budaya sejarahnya. Banyak sekali bangunan peninggalan zaman kolonial yang masih tersisa di sudut-sudut Kota Bandung, bahkan masih digunakan hingga kini. Objek wisata sejarah tersebut menjadi daya tarik yang eksotis bagi wisatawan.

Oleh karena itu, wisata sejarah di Bandung menjadi potensi yang sangat besar bagi bidang pariwisata di Bandung secara keseluruhan. Potensi tersebut tentunya harus dimanfaatkan sebaik mungkin agar berdaya guna, salah satunya oleh Komunitas Bandung Trail.

Komunitas ini mewadahi minat masyarakat terhadap situs sejarah dan cagar budaya di Bandung dan sekitarnya dengan mengadakan kegiatan jalan-jalan atau walking tour bertema sejarah mengunjungi berbagai situs warisan budaya.

Teguh Amor Patria, pendiri komunitas ini mengatakan, awalnya dia mencetuskan ide kegiatan jalan-jalan bertema sejarah dan warisan budaya Bandung ini sejak tahun 2003. Amor sendiri yang memiliki latar belakang pendidikan pariwisata memiliki keinginan untuk berbagi dan menularkan rasa ketertarikan terhadap bangunan cagar budaya kepada masyarakat Bandung.

“Kegiatan rutin kita kurang lebih seperti walking tour, berarti tur yang dilakukan jalan kaki menyusuri rute-rute dengan tema sejarah Bandung. Misalnya tema sejarah berdirinya Kota Bandung, biasanya dimulai dari titik 0 kilometer di jalan Asia Afrika dan berakhir di Balai Kota,” ucap Amor.

Kegiatan tur sejarah tersebut juga dilandasi karena keresahan Amor terhadap situs cagar budaya yang semakin berkurang, padahal jika dilihat dari sisi pariwisata, bagunan unik tersebut bisa dijadikan objek wisata yang menarik.

“Saya akhirnya menggabungkan latar pendidikan saya dari tourism dan ketertarikan terhadap arsitektur melalui satu kegiatan di tahun 2003, beberapa tahun setelah saya lulus,” kata Amor.

Kegiatan pertama Bandung Trail dilaksanakan pada Oktober 2003. Saat itu pesertanya masih sekitar 16 orang dari kalangan dan latar belakang yang bermacam-macam. Karena akses teknologi dan informasi masih belum secanggih sekarang, Amor menyebarkan informasi kegiatannya melalui email atau mailing list, terkadang dia juga menyebarkan poster kegiatan ke berbagai tempat seperti kampus.

Setelah berlangsungnya kegiatan pertama tersebut, ternyata dia mendapatkan respons yang sangat besar dan mulai banyak peminat yang ingin mengikuti kegiatan Bandung Trail. Akhirnya Amor melangsungkan kegiatan serupa pada Desember 2003 dan pesertanya melonjak dari kegiatan pertama.

“Setelah itu, kabar kegiatan ini semakin berkembang luas, mereka jadi minta lagi kegiatan ini dan akhirnya saya bikin lagi pada Desember 2003 dengan persiapan yang lebih matang. Jumlah yang ikut menjadi 150-an orang,” tutur Amor.

Tahun-tahun berikutnya, Amor mengadakan kegiatan Bandung Trail ini secara periodik dan rutin, tiap tahunnya ada sekitar 3-5 kali kegiatan tur.

Selain bertemakan sejarah Kota Bandung pada umumnya, biasanya Amor juga mengadakan tema-tema lain yang lebih menarik. Salah satu yang terkenal adalah tur malam dengan tema urban legend yang pertama kali diselenggarakan tahun 2008.

Saking banyaknya peminat, jumlahnya bisa mencapai 240 orang dalam sekali kegiatan, “Kita mendatangi bangunan-bangunan mistis seperti SMA 5 Bandung, rumah kentang di jalan Banda, ambulans Bahureksa, dan lain-lain. Intinya sih pesannya untuk mengenalkan bangunan cagar budaya, hanya dibalut dengan tema-tema yang lebih menarik,” katanya.

Komunitas tersebut mengalami perkembangan yang cukup pesat. “Ternyata saya melihat banyak peminatnya dari warga bandung dan akhirnya beberapa tahun kemudian, seiring berjalannya waktu mulai dapat respons dari wisatawan mancanegara, khususnya yang tertarik terhadap bangunan cagar budaya,” ujar alumni STP Bandung ini.

Dengan perkembangan teknologi dan informasi, Komunitas Bandung Trail juga mulai memperluas jangkauan publikasinya, seperti menggunakan media sosial Facebook. Walaupun tidak ada pengurus dan organisasi tetap, aktivitas di Bandung Trail dibantu oleh tim penggerak yang melibatkan mahasiswa, relawan, dan interpreter profesional untuk memandu wisatawan mancanegara.

Sampai akhirnya pada tahun 2013, Amor harus bekerja di Jakarta dan melanjutkan studi S3. Kegiatan dan aktivitas Bandung Trail pun sementara vakum sampai saat ini.

“Kegiatan di Bandung Trail ini saya vakumkan terlebih dahulu sejak 2013 karena saya sedang menyelesaikan studi sampai saat ini. Semoga saya bisa aktifkan kembali ketika saya lulus nanti,” kata Amor. (Fariza Rizky Ananda)

Editor: M. Naufal Hafizh

artikel terkait

dewanpers