web analytics
  

Kisah Getir Pelaku Usaha di Curug Cijalu Subang Selama Covid-19

Sabtu, 8 Agustus 2020 20:20 WIB Dede Nurhasanudin
Gaya Hidup - Wisata, Kisah Getir Pelaku Usaha di Curug Cijalu Subang Selama Covid-19, curug cijalu,subang,COVID-19

Curug Cijalu di Kabupaten Subang (Ayobandung.com/Dede Nurhasanudin)

SUBANG, AYOBANDUNG.COM--Senyum bahagia terpancar dari wajah Kurnia setelah kembali berjualan di Curug Cijalu Kabupaten Subang.

Perempuan berusia 45 tahun itu bisa berjualan telah pemerintah berlakukan adaptasi kebiasaan baru (AKB) atau new normal di masa pandemi Covid-19.

Kebahagiaan Kurnia bertambah ketika banyak pengunjung menyempatkan diri mampir ke lapak berjualannya meski hanya sekadar membeli segelas kopi atau camilan.

Kurnia adalah salah seorang pemilik warung di wisata alam Curug Cijalu Kabupaten Subang yang merasakan merebaknya wabah virus Corona.

"Saya baru kembali berjualan sekitar satu bulan setelah pemerintah memperbolehkan tempat keramaian buka, termasuk Curug Cijalu," ujar dia, Sabtu (1/8/2020).

Beban hidupnya saat ini terasa ringan karena kembali mendapat penghasilan untuk memenuhi kebutuhan keluarga, hasil dari berjualan memanfaatkan keramaian wisatawan berkunjung ke Curug Cijalu, meski penghasilan diakuinya menurun namun ia tetap bersyukur atas kondisi saat ini.

"Kalau sebelum ada corona pada hari libur dapet Rp1 juta, sekarang yah dapat setengahnya," kata dia.

Dampak wabah virus Corona sangat dirasakan Kurnia, selain tidak bisa berjualan, suaminya juga tak bisa berangkat bekerja ke luar kota karena pemerintah berlakukan pembatasan pada waktu itu.

Bahkan anak pertamanya yang diharapkan bisa membantu perekonomian keluarga malah diberhentikan sementara tempat dimana dia bekerja.

Meski kembali bekerja di tempat yang sama namun perusahaan memberlakukan satu shif sehingga berdampak terhadap penghasilan yang diterima.

"Belum lagi harus membeli kuota untuk penunjang proses kegiatan belajar secara online anak kedua saya, pengeluaran otomatis bertambah," ujar dia bercerita.

Untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari Kurnia mengaku menjalani profesi sebagai buruh tani di Kampungnya di Desa Cipancar Kecamatan Serangpanjang, Kabupaten Subang.

Namun, mata pencahariannya itu diakui tidak bisa diandalkan setiap hari karena belum tentu mereka (pemilik lahan) memakai jasanya.

"Yah, kalau lagi ada yang nyuruh saya dapet. Masa sulit itu tak kurang dari tiga bulan, alhamdulilah sekarang sudah bisa berjualan lagi, Curug Cijalu mulai ramah dikunjungi wisatawan dari berbagai daerah, suami dan anak pertama saja juga sudah bekerja seperti sebelumnya," ucap dia.

Tak hanya Kurnia, petugas kebersihan di Curug Cijalu, Ijuh (65)  juga merasakan hal serupa selama menutupan sementara dampak wabah virus corona.

Ia mengaku penutupan selama tiga bulan pendapatan sebagai petugas kebersihan berkurang karena tidak setiap hari bekerja.

Dalam satu minggu paling tiga sampai empat hari, berbeda jika objek wisata buka bekerja selama enam hari.

"Perhari dikasih upah kerja Rp40.000 mulai pukul 07.00-13.00 WIB. Jika hari kerja berkurang otomatis berkurang juga pendapatan kami, tapi alhamdulilah ketika lebaran kemarin dapat THR, dan sekarang objek wisata sudah normal kembali, kerja juga sudah normal lagi," ujar warga Desa Cipancar Kecamatan Serangpanjang, Kabupaten Subang itu.

Selama membersihkan sekitar objek wisata Ijuh tak sendiri, melainkan bersama rekan satu profesinya Oyok (49) dan Iis (45).

Mereka menyapu membersihkan sekitar objek wisata dari dedaunan jatuh dan sampah lainnya. Maka tak heran jika Curug Cijalu tampak bersih.

"Kami bersihkan mulai dari pintu masuk utama hingga curug, setiap hari seperti itu," kata Oyok menambahkan.

Sementara Penanggung Jawab Lapangan Curug Cijalu Kabupaten Subang, Abdul Sulaeman mengakui jika Curug Cijalu sempat ditutup sementara untuk menghindari kerumunan sebagai upaya pencegahan penyebaran wabah virus corona.

"Iya tutup sekitar tiga bulan. Buka kembali awal Juli kemarin," kata dia.

Ia mengkalim setelah kembali dibuka pihaknya selain menerapkan protokol kesehatan juga memberlakukan pembatasan jumlah wisatawan sebagai upaya pencegahan penyebaran virus.

"Wisatawan sebelum masuk cek suhu tubuh dan wajib menggunakan masker. Selain itu, jumlah wisatawan kami batasi 50% dari daya tampung sebanyak 1.000 orang," ujar Abdul Sulaeman.

Wahana Wisata Curug Cijalu berada dalam kawasan cagar alam Gunung Burangrang. Curug Cijalu memiliki ketinggian sekitar 75 meter.

Tumpahan air mengalir deras membelah bukit di kawasan Gunung Burangrang dan jatuh ke kolam yang berada di dasar curug.

Para wisatawan biasanya berenang di kolam tersebut. Namun, karena suhu airnya yang sangat dingin pengunjung biasanya tak berlama-lama bermain air.

Hanya dengan Rp17.500 wisatawan sudah bisa menikmati keindahan Curug Cijalu dan pemandangan alam sekitar yang mampu memanjakan mata.

Suana dingin dan sejuk menjadi daya tarik tersendiri bagi masyarakat yang suka berkemah.

"Kalau yang berkemah tiket masuknya ditambah Rp3.000. Wisatawan yang datang ke sini dari daerah tetangga seperti Purwakarta, Karawang, Bandung bahkan Jakarta juga ada," ujar Abdul Sulaeman.

Editor: Adi Ginanjar Maulana

artikel terkait

dewanpers