web analytics
  

5 Bangunan Sekolah dengan Arsitektur Bersejarah di Kota Bandung

Sabtu, 8 Agustus 2020 17:17 WIB Nur Khansa Ranawati
Bandung Baheula - Baheula, 5 Bangunan Sekolah dengan Arsitektur Bersejarah di Kota Bandung, bangunan sejarah bandung,SMAN 5 Kota Bandung,SMAN 3 Kota Bandung,Bandung Baheula,Sejarah Bandung,ITB

SMAN 3 dan 5 Bandung (Ayobandung.com/Nur Khansa)

LENGKONG, AYOBANDUNG.COM--Kota Bandung memiliki segudang bangunan bersejarah yang didirikan pada era kolonial Belanda. Termasuk sejumlah sekolah dan kampus yang berusia lebih dari satu abad, dan masih berdiri kokoh hingga saat ini.

Gedung-gedung sekolah tua tersebut memiliki gaya arsitektur khas, yang mungkin jarang ditemui lagi pada bangunan-bangunan modern.

Berikut 5  sekolah bersejarah yang didirikan pada era kolonial Belanda di Kota Bandung  :

1. SMAN 3 dan SMAN 5

Kedua sekolah yang berada di dalam satu bangunan yang sama ini menempati gedung bersejarah di Jalan Belitung. Sebelum menjadi SMAN 3 dan 5 Bandung, gedung tersebut awalnya merupakan Gouvernements Hogere Burger School (HBS).

HBS adalah sekolah menengah lanjutan dari Europeesche Logere School (ELS) untuk para anak-anak Eropa dan bangsawan pribumi. Pendidikannya menggunakan Bahasa Belanda dalam pembelajaran sehari-hari.

Berdasarkan pemaparan Sudarsono Katam dalam buku Album Bandung Tempo Doeloe, bangunan sekolah ini diarsiteki oleh arsitek terkemuka C.P Wolff Schoemaker pada 1916. Schoemaker juga merupakan pendiri sejumlah bagunan bersejarah lainnya di berbagai sudut kota.

Bangunan sekolah ini disebut sudah mulai mengadopsi unsur-unsur lokal, yang tercermin dari atap model arsitektur tropis. Gaya atap tersebut dikombinasikan dengan unsur Barat, berupa lantern atau banguna kecil di atap utama, yang saat ini sudah tidak berdiri.

2. ST. Angela

Sekolah SMP dan SMA Katolik ST. Angela yang terletak di Jalan Merdeka Bandung dulunya juga merupakan HBS. Pendidikan lanjutan tingkat menengah ini disebut HBS van de Zuster Ursulinen.

Perancang bangunan sekolah yang kini dicat dengan dominasi warna krem tersebut adalah  Biro Arsitek Hulswit Fermont & Cuypers Dikstaal pada 1922. Model gedungnya tidak berbeda jauh dengan desain yang dimiliki SMAN 3 dan SMAN 5, yakni beratap dua tumpuk dan memiliki pintu masuk di tengah bangunan.

3. ST. Aloysius

Sekolah ini sekarang terletak di Jalan Sultan Agung dengan bentuk bangunan yang masih mengadopsi gaya bangunan lama. Dulunya, sekolah ini merupakan Meer Uitgebreid Lager Onderwijs (MULO) atau sekolah lanjutan tingkat pertama di sistem pendidikan Belanda.

Gedung sekolah ini dirancang oleh arsitek Ir.J.Sippel pada 1928-1930. Tipologi bangunannya disebut memiliki kemiripan dengan banguan ST. Angela maupun SMAN 3 dan SMAN 5, yakni pintu masuk yang hanya terletak di sisi depan bangunan.

4. SMPN 5 dan SMPN 2 Bandung

Bangunan SMPN 5 Bandung yang terletak di persimpangan Jalan Sumatera dan Jalan Jawa ini awalnya merupakan bangunan Gouvernements MULO. Didirikan pada 1917, gaya arsitektur yang diadopsi oleh sekolah ini adalah gabungan gaya Indonesia dan Eropa.

"Bangunan ini (SMPN 5) dirancang cukup baik dengan sepasang menara kembarnya yang menjadi vocal point bangunan, menghadap ke arah perempatan jalan," tulis Sudarsono.

Selain itu,ia menilai adanya koridor di bangunan depan sekolah merupakan penyesuaian yang baik dengan iklim tropis karena memberi keleluasaan sirkulasi udara.

Sementara SMPN 2 Bandung yang terletak tepat di sebelah SMPN 5 Bandung didirikan pada 1948 dengan nama awal Indofuropese Vereneging Kubbk School. Sebelum berlokasi di Jalan Sumatera, sekolah ini terletak di Jalan Kalipah Apo dan mengalami beberapa kali perpindahan lokasi hingga ke tempat yang, dan berubah nama menjadi SMPN 2 Bandung pada 1950.

Gedungnya menempati bekas sekolah ELS Belanda yang dibangun pada 1913, dan diambil alih oleh pemerintah Indonesia hingga saat ini.

5. Insitut Teknologi Bandung (ITB)

Gedung kampus ITB, yang dulu bernama Technise Hoogeschool (TH) didirikan pada 1918 dan diresmikan pada 1920. Perancangnya adalah arsitek Ir. Henri Maclaine Pont.

Karel Albert Rudolf Bosscha, yang dikenal sebagai "Raja Teh Malabar" juga merupakan salah satu pendiri TH. Sudarsono menilai pemilihan lokasi kampus TH di Jalan Ganesha (dahulu Hoogeschoolweg) adalah hal yang tepat bila ditinjau dari kesejukan suasana Bandung Utara-nya.

"Arsitektur bangunan ini juga merupakan contoh yang sangat baik dari penerapan unsur lokal, baik dalam gaya arsitektur maupun dalam penggunaan bahan material lokalnya," tulisnya.

Ia mengatakan, perpaduan gaya lokal dan Eropa di gedung ITB menghasilkan suatu gaya arsitektur vernakular yang dinilai cocok dibangun di wilayah Kota Bandung.

Editor: Adi Ginanjar Maulana

artikel terkait

dewanpers