web analytics
  

Hunian Hotel pada Masa Pandemi

Sabtu, 8 Agustus 2020 15:28 WIB Netizen Vira Wahyuningrum
Netizen, Hunian Hotel pada Masa Pandemi , Hunian,BPS,PSBB,Pandemi Covid-19

Perkembangan Tingkat Hunian Kamar Hotel di Jawa Barat 2018-2020. (jabar.bps.go.id )

Vira Wahyuningrum

Statistisi di BPS Provinsi Jawa Barat

AYOBANDUNG.COM -- Pandemi Covid-19 berdampak sangat besar pada seluruh sektor ekonomi, tak terkecuali bisnis jasa akomodasi (hotel). Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) terkait penyebaran virus Corona berimbas pada penurunan Tingkat Penghunian Kamar (TPK) hotel. Tidak sedikit hotel dan usaha akomodasi lainnya terpaksa gulung tikar maupun sementara tidak beroperasi akibat situasi pandemi.

Usaha jasa akomodasi dan transportasi merupakan pendukung sektor pariwisata. Pengembangan sektor pariwisata merupakan salah satu sasaran Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD) Provinsi Jawa Barat 2018-2023. Program pembangunan pariwisata Jawa Barat sedang gencar dilakukan. Namun, penyebaran virus Corona awal tahun ini menyebabkan sektor pariwisata terdampak sangat signifikan. Pertumbuhan hunian hotel dan transportasi sebagai penyokong pariwisata mengalami kemerosotan yang tajam sejak pandemi merebak.

Secara otomatis, PSBB membatasi seluruh aktivitas sosial ekonomi masyarakat. Jangankan untuk berwisata, aktivitas kebutuhan primer pun serba terbatas. Selain anjuran pemerintah, masyarakat juga berinisiatif mengurangi aktivitas di luar rumah untuk mengantisipasi penyebaran virus. Tempat rekreasi dan transportasi terpaksa mandeg beroperasi. Tentunya ini berdampak pada keberlangsungan usaha akomodasi.  

Sebagai gambaran, usaha akomodasi di Jawa Barat secara nasional cukup menonjol. Data statistik tahun 2019 menunjukkan jumlah usaha akomodasi di Jawa Barat mancapai 3.191 usaha (Statistik Indonesia 2020, BPS). Dibandingkan provinsi lain, jumlah usaha akomodasi di Jawa Barat menempati urutan ketiga terbanyak setelah Bali dan Jawa Timur.

Dari total usaha akomodasi di Jawa Barat, sebesar 15,51 persennya merupakan hotel berbintang dan sisanya hotel non bintang. Klasifikasi hotel non bintang mencakup hotel, vila, pondok wisata, penginapan remaja, dan akomodasi lainnya yang digunakan untuk tujuan pariwisata.

Sebaran hotel di Jawa Barat terbanyak di Kota Bandung sebagai destinasi wisata dan kuliner. Di posisi berikutnya Kabupaten Pangandaran, Garut, dan Bogor juga termasuk daerah dengan jumlah usaha jasa akomodasi terbanyak. Daerah potensi wisata menarik investor membuka peluang bisnis penyediaan akomodasi bagi wisatawan. Daya tarik wisata secara tidak langsung akan meningkatkan TPK dalam bisnis jasa akomodasi.

TPK merupakan indikator produktivitas usaha akomodasi/hotel. Indikator ini dihitung dengan membandingkan banyaknya malam kamar terpakai dengan banyaknya malam kamar yang tersedia pada periode tertentu dalam satuan persen (sirusa.bps.go.id). BPS merilis perkembangan TPK secara rutin berdasarkan hasil Survei Usaha/Perusahaan Jasa Akomodasi yang dilakukan bulanan mencakup hotel bintang maupun non bintang.

Pada awal tahun 2020 TPK hotel di Jawa Barat masih terbilang normal, meskipun persentasenya di bawah TPK tahun sebelumnya. Memasuki bulan Maret, dibandingkan bulan sebelumnya, TPK hotel turun drastis dari 46,47 persen menjadi 28,73 persen. Penurunan ini belum seberapa dibandingkan TPK bulan April, yang terjun hingga 20,71 poin di angka 8,02 persen. Hal ini dikarenakan pada dua minggu pertama di bulan Maret aktivitas usaha perhotelan masih berlangsung seperti biasa.

Sementara pada April, pemberlakuan PSBB secara penuh baik level Jawa Barat maupun sebagian wilayah semakin mempengaruhi anjloknya TPK hotel. Tamu asing atau wisatawan mancanegara pun pada masa pandemi ini sama sekali tidak ada, karena akses masuk melalui transportasi internasional sementara di tutup.

Mei dan Juni 2020, TPK hotel di Jawa Barat mulai beranjak naik. Pelonggaran PSBB di beberapa zona aman Covid-19 sedikit mendongkrak TPK hotel di Jawa Barat. TPK hotel pada Mei mengalami kenaikan 5,33 poin dibandingkan April. Demikian pula pada Juni, dibandingkan bulan sebelumnya TPK hotel naik 5,78 poin menjadi sebesar 19,13 persen. Meskipun masih sangat jauh dibandingkan capaian TPK pada periode yang sama di tahun-tahun sebelumnya, setidaknya tren perkembangannya mulai menunjukkan kenaikan.

Beberapa kelompok masyarakat mulai memanfaatkan kesempatan untuk melepas penat dengan hiburan dan rekreasi. Setelah kurang lebih tiga bulan dalam masa pandemi ‘terpaksa’ lebih banyak di rumah dan minim mobilitas, pelonggaran PSBB terasa bagai ‘angin segar’. Namun, tentunya hal ini dilakukan dengan mengindahkan himbauan untuk tetap mematuhi protokol kesehatan. Pada awal Juni, aktivitas usaha, perkantoran dan transportasi juga mulai beroperasi kembali. Perlahan kegiatan ekonomi masyarakat yang sempat terhenti mulai menunjukkan pergerakan.

Tak hanya usaha akomodasi pada sektor pariwisata saja, namun semua sektor secara menyeluruh harus dibangun kembali. Pemulihan ekonomi harus terus diupayakan secara bertahap. Dengan diaktifkannya kembali kegiatan di beberapa sektor, menjadi jalan pembuka langkah perbaikan ekonomi. Kuncinya adalah penyesuaian dengan Adaptasi Kebiasaan Baru (AKB). Masyarakat harus memiliki kesadaran mematuhi protokol kesehatan dalam beraktivitas. Kita semua berharap pandemi segera berakhir dan tetap optimis bahwa kondisi ekonomi akan semakin membaik di masa mendatang.

Tulisan adalah kiriman netizen, isi tulisan di luar tanggung jawab redaksi.

Ayo Menulis klik di sini

Editor: M. Naufal Hafizh

artikel terkait

dewanpers