web analytics
  

Ini Instrumen Investasi Syariah untuk Investor Pemula

Jumat, 7 Agustus 2020 13:08 WIB Eneng Reni Nuraisyah Jamil
Bisnis - Finansial,  Ini Instrumen Investasi Syariah untuk Investor Pemula, Investasi,Investasi syariah,Instrumen syariah,ekonomi syariah,Ekonomi & Bisnis

Ilustrasi (Pixabay)

LENGKONG, AYOBANDUNG.COM -- Investasi merupakan salah satu cara bagi masyarakat untuk mengontrol pendapatan. Dengan berinvestasi, jumlah uang yang dikumpulkan bisa bertambah gemuk. Ibarat pepatah, sedikit demi sedikit lama-lama menjadi bukit.

Ada berbagai macam investasi yang marak beredar di masyarakat, mulai dari reksa dana, saham, obligasi, hingga deposito. Masing-masing instrumen tersebut memiliki risiko yang berbeda-beda.

Investasi penting bagi siapapun, terutama bagi mereka yang memiliki rencana masa depan. Namun, perlu diketahui, ada kalanya pilihan investasi yang ada saat ini belum sesuai dengan syariat Islam.

Namun dewasa ini semakin banyak alternatif investasi ditawarkan, tak hanya produknya saja, tetapi juga ada jenis investasi syariah. Saat ini, produk investasi syariah terdiri dari saham syariah, obligasi syariah, reksa dana syariah, dan tabungan syariah.

Prinsipnya, memilih instrumen investasi syariah sama saja dengan instrumen konvensional. Masyarakat tentu perlu tahu terlebih dulu mengenai tujuan berinvestasi.

Praktisi dan dosen pasar modal dari Universitas Islam Nusantara (Uninus), Dr.Yoyok Prasetyo mengatakan, untuk investor pemula lebih disarankan untuk menempatkan dananya di reksa dana syariah.

Sebenarnya reksa dana termasuk salah satu instrumen investasi yang sesuai syariat islam. Hanya saja perlu ditekankan, jangan sampai ada riba dalam praktiknya. Untuk itu, beberapa aset manajemen sengaja membuat produk investasi reksa dana syariah.

Reksa dana syariah juga salah satu jenis investasi syariah yang difavoritkan oleh para investor pemula. Bagaimana tidak? Dananya tinggal diserahkan untuk dikelola oleh mereka yang lebih ahli, lalu diinvestasikan ke produk-produk investasi yang dikelola secara Syariah.

"Investasi ini lebih kita saran untuk masyarakat yang tidak punya waktu yang luas, tidak punya pengetahuan yang bagus mengenai investasi maupun dari aspek investasi umum maupun syariahnya. Ini juga lebih kita sarankan untuk masyarakat mungkin yang belum well educated mengenai investasi secara umum maupun investasi syariah," kata Yoyok kepada Ayobandung.com, Kamis (6/8/2020) malam.

Sementara itu, Yoyok mengatakan, bagi mereka yang telah well educated mengenai investasi secara umum maupun investasi syariah bisa menempatkan dananya pada instrumen saham syariah secara langsung. Dalam posisi ini masyarakat diyakini telah mengetahui mengenai masalah analisa, risiko, return dan seterusnya.

Menurut OJK, saham syariah adalah efek atau surat berharga yang memiliki konsep penyertaan modal dengan hak bagi hasil usaha yang produk dan pengelolaannya tidak bertentangan dengan prinsip syariah misalnya perusahaan rokok, judi, atau minuman keras.

"Kalau sudah well educated boleh lah dia naik kelas, tidak menempatkan dananya di reksadana syariah tapi lebih dari itu ke saham syariah," lanjut Yoyok.

Berdasarkan uji statistik dan uji beda, Yoyok menyebut, sama seperti saham konvensional atau non syariah, imbal hasil (return) dan risiko saham syariah tak menunjukkan perbedaan yang signifikan. Imbalnya bisa jadi lebih besar, seiring risiko yang juga lebih besar.

"Di beberapa periode itu memang menunjukkan bahwa tidak ada perbedaan antara perbedaan return maupun risiko antara instrumen syariah dan non syariah di Indonesia. Ini juga hal yang harus dikampanyekan kepada masyarakat untuk membalikkan persepsi masyarakat umum yang menilai syariah itu lebih jelek. Atau yang non syariah itu superior dibandingkan dengan syariah. Dalam penelitian uji beda, instrumen syariah ini kompetitif dengan nonsyariah," katanya.

Dalam periode jangka panjang, Yoyok optimistis, instrumen investasi syariah ini bisa bersaing walaupun secara umum butuh waktu hingga dibutuhkan pula edukasi masif kepada masyarakat muslim terkait keunggulan dari prinsip investasi syariah.

"Dari sisi instrumennya harus lebih bagus. Kita dorong manajer investasi yang mengelola reksadana syariah itu bisa mengelola portofolionya dengan lebih baik sehingga hasilnya nanti bisa kompetitif," katanya.

Pasalnya menurut Yoyok, dalam beberapa penelitian menunjukkan ada pengaruh yang signifikan antara tingkat return reksa dana dengan Assets under management (AUM). Semakin tinggi tingkat return reksa dana tersebut maka cenderung AUM-nya semakin besar, semakin tdiminati oleh masyarakat untuk menempatkan dananya ke reksadana tersebut.

"Tapi semakin kecil return nya ya masyarakat semakin tidak tertarik menempatkan dananya disitu. Faktor-faktor itu yang harus dibangun secara simultan, tidak bisa sendiri-sendiri," ujarnya.

 

Editor: Rizma Riyandi

artikel terkait

dewanpers