web analytics
  

Madrasah dan Pesantren Kembali Dibuka, Menag Fachrul Razi Resah

Jumat, 7 Agustus 2020 21:11 WIB Republika.co.id
Umum - Nasional, Madrasah dan Pesantren Kembali Dibuka, Menag Fachrul Razi Resah, Menteri Agama Fachrul Razi,Pesantren Kembali Dibuka,Madrasah

Menteri Agama Fachrul Razi. (Istimewa)

JAKARTA, AYOBANDUNG.COM -- Sebanyak 163 kabupaten/kota yang masuk dalam kategori zona kuning Covid-19 akan diperbolehkan melaksanakan kegiatan belajar mengajar tatap muka secara langsung di sekolah. Pemerintah melalui surat keputusan bersama (SKB) empat menteri yakni Menteri Pendidikan dan Kebudayaan, Menteri Agama, Menteri Kesehatan dan Menteri Dalam Negeri menyepakati untuk memperbolehkan pelaksanaan kegiatan belajar mengajar tatap muka secara langsung di sekolah dan pesantren.

Kementerian Agama (Kemenag) menyampaikan akan ada sekolah di bawah koordinasi Kemenag yang melaksanakan belajar tatap muka dan belajar secara daring. Kemenag juga meminta kepada setiap orang tua murid dan masyarakat ikut berpartisipasi menjaga siswa-siswi agar mematuhi protokol kesehatan untuk mencegah virus corona atau Covid-19.

Menteri Agama (Menag), Fachrul Razi, mengatakan setiap sekolah pasti ada yang melaksanakan pembelajaran tatap muka. Kebijakan itu dilaksanakan kalau kelasnya mencukupi, murid dan orang tua muridnya setuju untuk melakukan pembelajaran tatap muka.

"Tapi ada juga yang melakukan (pembelajaran) daring atau online, karena mungkin zonanya tidak memungkinkan untuk dilakukan (pembelajaran) tatap muka," kata Menag saat pengumuman penyesuaian kebijakan pembelajaran di masa pandemi Covid-19 yang disiarkan di kanal YouTube Kemendikbud RI, Jumat (7/8/2020).

Menag menjelaskan, mungkin akan ada sekolah melakukan pembelajaran tatap muka sekaligus daring. Hal ini bisa terjadi karena kelasnya tidak muat dan hanya muat setengah kapasitas saja. Atau karena sebagian orang tua murid tidak mengizinkan anaknya untuk mengikuti pembelajaran tatap muka.

Kemenag memang memberikan pilihan, semua diserankan ke pertimbangan masing-masing. Menag juga menyampaikan tantangan yang dihadapi bila sekolah melaksanakan pembelajaran tatap muka.

"Murid nanti akan pulang-pergi ke sekolah, mungkin dia (murid) berangkat dari rumah sehat dan sampai sekolah sehat, pulang sekolah dia belanja atau main sama teman-temannya, main bola dulu di lapangan, pulangnya kena virus, mungkin besoknya dia kembali ke sekolah dengan membawa virus, mungkin itu salah satu yang kita khawatirkan," ujarnya.

Kemenag menekankan agar orang tua murid memerintahkan anak-anaknya dari rumah langsung ke sekolah dan dari sekolah langsung pulang ke rumah. Anak diminta tidak mampir ke mana-mana saat berangkat sekolah atau pulang sekolah.

Menurut Menag, masyarakat juga harus berpartisipasi menjaga murid-murid. Misalnya kepada satpam-satpam di pasar atau area yang dilewati murid, kalau ada murid yang sedang main bersama teman-temannya diimbau untuk menyuruh anak pulang ke rumah. Ia mengakui melakukan pembelajaran tatap muka ada risikonya, tapi harus dihadapi karena tidak ada pilihan lain.

"Kita memberikan pilihan, masing-masing ada risikonya, jadi betul-betul kita harus menekankan kepada semua aspek untuk sama-sama mensukseskan ini (penyesuaian kebijakan pembelajaran di masa pandemi Covid-19)," ujarnya.

Menag mengaku situasi saat ini lebih mengkhawatirkan bagi para santri dan siswa madrasah untuk kembali bersekolah. Ia menjelaskan, pada waktu awal pandemi, banyak pesantren yang tidak tutup dan memulangkan para santri karena wilayah mereka dianggap aman. Selain itu mereka juga hanya berada di lokasi tersebut.

"Karena yang penting lokasi aman Covid, ustaz dan guru aman Covid, santri aman Covid, dan lakukan penerapan protokol kesehatan. Ini jadi lebih mudah, karena begitu santri dan guru masuk, tidak ke mana-kemana lagi. Masuk sehat, protokol kesehatan, dan tidak keluar-keluar lagi," jelas Fachrul Razi.

Saat ini, kata Fachrul Razi, hanya sekitar tiga pesantren yang masuk klaster penularan Covid-19. Menurutnya ini bukti bahwa sebagian besar pesantren aman dari Covid-19 pada awal pandemi.

Hal ini menjadi jauh berbeda di saat tahun ajaran baru dimulai saat ini. Para santri dan siswa sudah dipulangkan dari pesantren dan madrasah. Meskipun awalnya sehat, dalam perjalanan mereka dapat terinfeksi virus.

Para siswa yang tidak di asrama juga semakin rentan karena mereka bisa saja mampir ke berbagai tempat sebelum menuju ke rumah. "Makanya kita mohon kerjasamanya dengan orang dewasa, para petugas keamanan, kalau melihat anak-anak sekolah berkerumun segera disuruh pulang," kata Menag.

Editor: Dadi Haryadi
dewanpers