web analytics
  

Masyarakat Indonesia Masih Minim Literasi Keuangan Syariah

Jumat, 7 Agustus 2020 12:39 WIB Eneng Reni Nuraisyah Jamil
Bisnis - Finansial, Masyarakat Indonesia Masih Minim Literasi Keuangan Syariah, Keuangan Syariah,ekonomi syariah,UIN SGD,Doktor UIN SGD,Ekonomi & Bisnis

Ilustrasi (Pixabay)

LENGKONG, AYOBANDUNG.COM -- Beberapa tahun belakangan ini, berinvestasi pada instrumen keuangan atau financial assets menjadi sebuah cara yang banyak digemari para pemilik modal untuk mengembangkan dana yang mereka miliki.

Masyarakat yang semakin paham dengan pengelolaan keuangan dan invenstasi, akan semakin pandai dalam menilai dan mengendalikan risiko investasi yang mereka lakukan. 

Masyarakat saat ini pun banyak yang memilih untuk berinvestasi pada beberapa produk investasi pasar modal yang dianggap ideal karena tingkat keuntungan yang ditawarkan relatif cukup tinggi.

Bangkitnya ekonomi Islam menjadi fenomena yang menarik dan menggembirakan terutama bagi penduduk Indonesia yang mayoritas beragama Islam. Pengembangan produk pasar modal yang berbasis syariah perlu ditingkatkan. Tahun 1990-an Indonesia baru mengenal kegiatan perbankan syariah. Produk syariah di pasar modal pun mulai diperkenalkan dengan ditandai munculnya produk reksa dana syariah.

Praktisi dan dosen pasar modal dari Universitas Islam Nusantara (Uninus), Dr.Yoyok Prasetyo menemukan, gambaran secara umum instrumen berbasis syariah (saham syariah dan reksa dana syariah), secara umum risikonya lebih tinggi. Tetapi imbas hasil (return) instrumen ini lebih rendah dibandingkan dengan yang non syariah.

Yoyok melanjutkan, hal ini sekaligus memberikan temuan bahwa ternyata meski 87% masyarakat Indonesia mayoritas beragama Islam, namun pada kenyataannya, jumlah investor saham syariah hanya sekitar 4,8%, sementara Assets under management (AUM) reksa dana syariahnya pun hanya berkisar 9%.

"Mestinya itu, instrumen berbasis syariah mestinya tinggi juga porsinya dibandingkan dengan non syariah. Tapi
artinya kan ini belum proporsional terhadap potensi jumlah penduduk Indonesia yang mayoritas 87% muslim," kata Yoyok kepada ayobandung.com, Kamis (6/8/2020) malam.

Yoyok menemukan hal ini berdasarkan penelitian disertasi untuk sidang promosi Doktor pada Rabu (5/8/2020) dengan judul 'Perbandingan Risiko Imbal Hasil (Return) serta Pengukuran Kinerja antara Instrumen Investasi Syariah dan Non Syariah'. Dia melakukan perbandingan dari variabel risiko dan return antara instrumen syariah dan non syariah.

Dalam perbandingan dua variabel itu, Yoyok menemukan, secara rasional, instrumen berbasis syariah memang belum kompetitif dibandingkan dengan yang non syariah. Sehingga walaupun masyarkat Indonesia mayoritas beragama Islam tapi mereka belum mengikatkan diri dalam aspek muamalah. Artinya dalam menentukan pilihan investasi, umat Islam Indonesai belum mengikatkan diri dengan syariah Islam, dengan mayoritas memilih instrumen yang non syariah.

"Mestinya kalau mereka mengikatkan diri kan pilihnya yang syariah kan? Apapun yang terjadi, apakah risikonya tinggi, atau lainnya. Nah ternyata kenyataannya demikian. Jadi memang belum mengikatkan diri," katanya.

Karenanya, Yoyok menyebut, hal ini menjadi tugas dari para peneliti, akademisi, maupun praktisi, bagaimana memberikan 'dakwah' muamalah agar umat Islam tidak hanya mengikatkan diri dengan hukum Islam dalam aspek ibadah saja. Akan tetapi pada saat mereka berkecimpung dalam aspek muamalah serta saat berinvestasi pun mereka bisa tetap mengikatkan diri dengan hukum Islam.

Yoyok juga mengakui, secara market share industri keuangan syariah dalam kurun waktu lima tahun terakhir masih  dalam kisaran tak lebih dari 5%. Karenanya, untuk mengerek potensi market share di masyarakat dia menilai perlu adanya edukasi yang simultan. Lantaran berdasarkan indikasi awal, hal ini dipengaruhi tingkat literasi keuangan syariah di Indonesia yang masih sangat rendah yakni hanya di kisaran 9%. Sementara tinggat inklusinya tinggi sekitar 14%.

Dia pun menilai hal ini menjadi problem dan tantangan tersendiri. Padahal lanjut Yoyok, idealnya, dengan tingkat literasi atau pemahaman masyarakat terhadap keuangan syariah yang tinggi, otomatis diikuti dengan tingkat inklusi atau penempatan dana ke keuangan syariah yang tinggi. Oleh sebab itu, Yoyok menilai, kunci meningkatkan tingkat literasi dengan edukasi yang masif kepada masyarakat.

"Idealnya seperti itu tapi menurut survei ternyata kebalikannya, inklusinya tinggi, literasi rendah. Artinya apa? Artinya masyarakat itu menempatkan dana ke keuangan syariah itu tanpa diikuti dengan pemahaman yang baik dulu. Bisa jadi mereka hanya ikut-ikutan saja, tren-tren saja," ujarnya.

 

Editor: Rizma Riyandi

terbaru

Konsumsi Nasional Selama Kuartal II Diperkirakan Terus Meningkat

Finansial Jumat, 23 April 2021 | 13:23 WIB

Konsumsi masyarakat diperkirakan akan terus meningkat pada kuartal kedua tahun 2021. Peningkatan konsumsi ini disebabkan...

Bisnis - Finansial, Konsumsi Nasional Selama Kuartal II Diperkirakan Terus Meningkat, konsumsi nasional,ekonomi nasional,Ramadan 2021,Ekonomi & Bisnis,Ekonomi Indonesia,Pemulihan Ekonomi

Harga Emas Antam 23 April Turun Rp5.000 per Gram

Finansial Jumat, 23 April 2021 | 11:35 WIB

Harga emas batangan PT Aneka Tambang (Antam) berada di angka Rp935.000 per gram pada Jumat, 23 April 2021, atau turun Rp...

Bisnis - Finansial, Harga Emas Antam 23 April Turun Rp5.000 per Gram, Harga emas Antam,Harga emas Antam hari ini,Harga emas Antam Bandung,Harga Emas Hari ini,Emas

Bertabur Hadiah, bjb Amazing Sureprize Berikan Mobil Bagi Nasabah

Finansial Jumat, 23 April 2021 | 08:37 WIB

Bertabur Hadiah, bjb Amazing Sureprize Berikan Mobil Bagi Nasabah

Bisnis - Finansial, Bertabur Hadiah, bjb Amazing Sureprize Berikan Mobil Bagi Nasabah, bjb Amazing Sureprize,bank bjb,Pemimpin Divisi Corporate Secretary bank bjb Widi Hartoto,Nasabah bank bjb

Pakar Keuangan: Jangan Habiskan THR

Finansial Jumat, 23 April 2021 | 01:45 WIB

Mike Sutikno, perencana keuangan dari Mitra Rencana Edukasi menyarankan kepada masyarakat supaya tidak menghabiskan uang...

Bisnis - Finansial, Pakar Keuangan: Jangan Habiskan THR, Pakar Keuangan,Perencanaan Keuangan,Tunjangan Hari Raya (THR),Mengelola THR

Melesat Naik, Harga Emas Antam Kini Rp940.000 per Gram

Finansial Kamis, 22 April 2021 | 10:00 WIB

Harga emas Antam tersebut berlaku di Butik Emas Logam Mulia Antam di Jalan Ir. H. Juanda, Kota Bandung.

Bisnis - Finansial, Melesat Naik, Harga Emas Antam Kini Rp940.000 per Gram, Harga emas Antam,Harga emas Antam hari ini,Harga Emas Hari ini,Harga emas Antam Bandung,Emas

DJP dan 84 Pemda Sepakat Dalam Pemungutan Pajak

Finansial Rabu, 21 April 2021 | 22:44 WIB

Direktorat Jenderal Pajak (DJP) secara resmi telah menandatangani perjanjian kerja sama dengan Direktorat Jenderal Perim...

Bisnis - Finansial, DJP dan 84 Pemda Sepakat Dalam Pemungutan Pajak, Direktorat Jenderal Pajak (DJP),Pemungutan Pajak,Pemerintah Daerah (Pemda)

Resilien Sepanjang 2020, bank bjb Targetkan Tumbuh Positif di 2021

Finansial Rabu, 21 April 2021 | 19:13 WIB

bank bjb merupakan salah satu Bank Pembangunan Daerah (BPD) di Indonesia yang mencatatkan performa baik di masa pandemi...

Bisnis - Finansial, Resilien Sepanjang 2020, bank bjb Targetkan Tumbuh Positif di 2021, bank bjb,Direktur Keungan bank bjb Nia Kania,bank bjb Tumbuh Positif,bank bjb Target Pertumbuhan 2021,Resilience Bank

DJP Tata Ulang Tempat Terdaftar dan Pelaporan Usaha Wajib Pajak

Finansial Rabu, 21 April 2021 | 19:09 WIB

Direktorat Jenderal Pajak (DJP) akan melakukan reorganisasi beberapa kantor pajak di Indonesia. Agenda ini tertuang dala...

Bisnis - Finansial, DJP Tata Ulang Tempat Terdaftar dan Pelaporan Usaha Wajib Pajak, Direktorat Jenderal Pajak (DJP),Reorganisasi Kantor Pajak,Perdirjen Pajak,KPP Pratama,KPP Madya
dewanpers