web analytics
  

5 Tradisi Unik Perayaan HUT RI dari Berbagai Daerah

Jumat, 7 Agustus 2020 06:18 WIB M. Naufal Hafizh
Umum - Unik, 5 Tradisi Unik Perayaan HUT RI dari Berbagai Daerah, 17 Agustus,Perayaan HUT RI,HUT RI

Perayaan HUT RI di seluruh daerah Indonesia identik dengan upacara bendera dan berbagai perlombaan khas agustusan. Namun, ternyata beberapa daerah di Indonesia memiliki tradisi dan budaya yang unik dan sarat makna untuk memeringati HUT RI ini. (Unsplash.com/Anggit Rizkianto)

LENGKONG, AYOBANDUNG.COM -- Memasuki Agustus, artinya peringatan HUT RI sudah semakin dekat. Peringatan yang lumrah disebut agustusan ini biasanya dimeriahkan berbagai kegiatan.

Pada 17 Agustus, seluruh daerah di Indonesia serentak melaksanakan upacara bendera, mulai dari tingkat kecamatan, kabupaten, provinsi, bahkan upacara di Istana Negara. Selain upacara bendera, agustusan juga identik dengan pelaksanaan perlombaan khas agustusan.

Kita semua pasti mengenal lomba panjat pinang, balap karung, makan kerupuk, dan masih banyak lagi. Masyarakat umumnya sangat antusias merayakan HUT RI ini dengan caranya masing-masing.

Ternyata tidak hanya perlombaan agustusan saja yang ramai diikuti oleh masyarakat, sejumlah daerah memiliki tradisi yang berbeda-beda untuk merayakan hari kemerdekaan ini. Berikut 5 tradisi unik dan sarat makna dari sejumlah daerah di Indonesia untuk memeriahkan HUT RI.

Sampan Layar, Batam

Lomba sampan layar ini digelar di Kepulauan Riau (Kepri), tepatnya di Kecamatan Belakangpadang, Batam, setiap peringatan HUT RI. Masyarakat yang mengikuti lomba tersebut diharuskan menyusuri rute lomba sampan sepanjang kurang lebih 5 kilometer.

Selain mengarungi rute, peserta juga menghias sampannya masing-masing menggunakan layar warna-warni. Sampan tersebut berkapasitas 9 orang.

Dilansir dari Gatra (17/08/2019), Camat Belakangpadang Yudi Admajianto mengatakan, sampan layar ini sudah menjadi moda transportasi utama masyarakat pesisir Kepri sejak dulu. Tapi seiring berkembangnya teknologi transportasi laut, sampan layar mulai ditinggal. Masyarakat perlahan beralih menggunakan mesin.

Lari Obor Estafet, Semarang

Tradisi unik peringatan HUT RI di Semarang ini dilakukan pada malam 16 Agustus. Masyarakat Semarang telah melakukan perlombaan tersebut selama 32 tahun, khususnya di Kecamatan Gajahmungkur. Tidak tanggung-tanggung, peserta lari estafet ini biasanya merupakan atlet lari.

Perlombaan tersebut memiliki filosofi tersendiri, yaitu obor dianggap sebagai semangat para pahlawan ketika memperjuangkan kemerdekaan.

Pawai Jampana, Bandung

Kegiatan ini dilakukan oleh masyarakat Bandung setiap perayaan HUT RI, dengan cara masyarakat membawa tandu besar berisi hasil bumi, hidangan makanan, dan kerajinan masyarakat. Jampana sendiri berarti sebuah miniatur hasil produksi warga, terkadang dilengkapi dengan tumpeng yang nantinya dimakan oleh para peserta pawai.

Pawai Jampana dilakukan oleh 4 orang peserta yang memikul tandu. Biasanya setiap kegiatan, jumlah tandu bisa mencapai 60 buah. Tradisi ini diharapkan bisa menjadi penarik wisatawan untuk datang ke Bandung.

Pacu Kude, Aceh

Tradisi pacuan kuda atau pacu kude ini dilakukan masyarakat Gayo untuk memperingati momen-momen tertentu, salah satunya HUT RI. Tradisi ini diketahui telah muncul di Aceh sejak ekspansi militer Belanda, sekitar tahun 1850.

Seiring berjalannya waktu, pacu kude menjadi permainan dan kebiasaan masyarakat Aceh. Dilansir dari Tribunnews Aceh, baru setelah Indonesia merdeka, tepatnya pada tahun 1956, tradisi ini diambil alih oleh pemerintah setempat, bersamaan dengan mekarnya pemerintah daerah Kabupaten Aceh Tengah. Tradisi ini menjadi simbol perjuangan rakyat sehingga dilakukan setiap memperingati HUT RI.

Peresean, Lombok

Budaya suku Sasak yang unik kini masih dilestarikan oleh masyarakat setempat. Peresean atau tradisi bertarung dengan senjata yang terbuat dari rotan ini adalah budaya dari Suku Sasak, warisan kekayaan budaya di Gumi Lombok Sileparang.

Setelah lewat masa penjajahan, pertarungan ini terus dilakukan secara turun-temurun hingga menjadi sebuah tradisi. Tradisi ini juga diyakini masyarakat sebagai ritual meminta hujan saat musim kemarau panjang tiba. Tidak hanya sebuah pertarungan, tradisi ini memiliki nilai patriotisme yang berkaitan dengan sejarah Suku Sasak Lombok. (Fariza Rizky Ananda)

Editor: M. Naufal Hafizh

artikel terkait

dewanpers