web analytics
  

Kasepuhan Ciptagelar Enggan Jadi Destinasi Wisata

Kamis, 6 Agustus 2020 21:28 WIB Tri Junari
Gaya Hidup - Wisata, Kasepuhan Ciptagelar Enggan Jadi Destinasi Wisata, Kampung Adat Kasepuhan Ciptagelar,Destinasi Wisata

Kampung Adat Kasepuhan Ciptagelar. (Tri Junari)

SUKABUMI, AYOBANDUNG.COM -- Kampung Adat Kasepuhan Ciptagelar di Cisolok, Sukabumi, Jawa Barat menolak tempat tinggal mereka dijadikan destinasi pariwisata. Mereka menilai konsep pariwisata kurang tepat menjaga nilai budaya dan tradisi yang kini diemban Ciptagelar.

Juru wicara Kasepuhan Ciptagelar, Yoyo Yogasmana mengatakan, wisatawan mulai datang tahun 2001, dimana saat itulah nama Kasepuhan Ciptagelar dipakai dengan mengemban misi atau tugas menyebarluaskan ajaran leluhur soal kehidupan dan keseimbangan alam.

"Ngagelarkeun tatanan karuhun nyaeta nu teu nyaho ngamimitian nyaho, nu poho inget deui, nu teu saimbang dilengkepan deui tinas sisi tatanan ka tradisian atawa kaadatan ngarah dina teu nyaho jadi teu nyaho, nu teu boga jadi boga, dina teu bisa jadi bisa. Naon anu digelarkeun, menginformasikan kasaimbangan kahirupan, apal kana ngeusian tugas kamanusaan dina ngisian kahirupan di alam," terangnya saat Ayobandung.com menyambanginya pekan lalu.

Meski tidak memiliki data tertulis, Yoyo mengatakan secara kasat mata tiap pekan ratusan orang luar datang ke Kampung Gede Kasepuhan Ciptagelar dan 10.000 orang lebih saat acara adat Seren Taun.

Tujuan datang mereka beragam, ada yang sekedar ingin bersilaturahmi, menimba ilmu dan penelitian bahkan ada pula menganggap Kampung Gede sebagai objek wisata. 

Konsep wisata yang digaungkan pemerintah ini kemudian membawa kekhawatiran warga Kasepuhan Ciptagelar hingga mereka tidak ingin masuk dalam salah satu destinasi wisata unggulan. 

Bagi warga adat Kasepuhan Ciptagelar, kilau ekonomi sektor pariwisata bukan menjadi tujuan utama tugas mereka. Mereka khawatir konsep wisata ini merusak tatanan sosial masyarakat yang menganggap bisa segala dibeli oleh uang.

Belum lagi persoalan sampah plastik yang dibawa wisatawan nyaris sama dirasakan dengan masyarakat adat Kanekes, Baduy. Selama ini penanganan sampah masih sebatas dibakar karena belum ada upaya pemerintah untuk memberikan sistem penanganan sampah yang tepat bagi Ciptagelar.

"Sampah plastik ini kan dibawa wisatawan, cara sementara ya dibakar. Pemerintah belum memberikan sistem pengolahan sampah yang tepat,"ujarnya.

Sejatinya, warga Kasepuhan Ciptagelar sedang menjalankan tugas leluhur memelihara keseimbangan manusia dalam mengisi kehidupan di alam.

"Sebelum pemerintah menetapkan Lockdown, Kasepuhan Ciptagelar sudah menerapkan Blockdown akhir Februari 2020. Tetamu tidak boleh masuk karena kami tidak kemana-mana, yang dikhawatirkan paparan dari luar,"ucap Yoyo disinggung masa pandemi Coronavirus Disease (Covid-) di Ciptagelar.

Editor: Dadi Haryadi
dewanpers