web analytics
  

Isu Takhta Belum Reda, Putra Mahkota Keraton Kasepuhan Tegaskan Kendalinya

Kamis, 6 Agustus 2020 17:18 WIB Erika Lia
Umum - Regional, Isu Takhta Belum Reda, Putra Mahkota Keraton Kasepuhan Tegaskan Kendalinya, PRA Luqman Zulkaedin,Keraton Cirebon

PRA Luqman Zulkaedin (berdiri, kiri) saat melepas sang ayah, Sultan Sepuh XIV PRA Arief Natadiningrat ke peristirahatan terakhirnya di Astana Gunung Jati, Kabupaten Cirebon. (Ayocirebon.com/Erika Lia)

CIREBON, AYOBANDUNG.COM -- Putra Mahkota Pangeran Raja Adipati (PRA) Luqman Zulkaedin dari Keraton Kasepuhan Cirebon memastikan kendalinya atas situasi keraton, sepeninggal sang ayah pada 22 Juli 2020.

Luqman meyakinkan, Keraton Kasepuhan saat ini kondusif di tengah isu pengambilalihan takhta oleh Rahardjo Djali, yang aksinya sempat menghebohkan jagat maya pada akhir Juni lalu.

"Keraton Kasepuhan saat ini masih dalam kondisi kondusif, wewenang dan kendali tetap pada Putra Mahkota PRA Luqman Zulkaedin," kata Luqman, Kamis (6/8/2020).

Dia menegaskan, sejak ratusan tahun lalu, adat dan tradisi Keraton Kasepuhan Cirebon telah berjalan. Hal itu berlaku pula dalam pergantian/suksesi kepemimpinan sultan, di mana sebelumnya ditetapkan putra mahkota oleh sultan yang masih bertakhta.

Dalam hal ini, dia memastikan kedudukannya sebagai putra mahkota telah ditetapkan Sultan Sepuh XIV PRA Arief Natadiningrat di Keraton Kasepuhan Cirebon pada 30 Desember 2018.

"Dalam tradisi kesultanan, ketika sultan mangkat, secara otomatis putra mahkota yang telah ditetapkan oleh almarhum wajib menggantikan dan meneruskan tugas dan tanggung jawabnya sebagai sultan," tegas Luqman.

Karena itu, imbuhnya, yang dilakukan Rahardjo bertentangan dengan tradisi turun temurun di Kesultanan Kasepuhan. Rahardjo disebutnya tak berhak atas gelar kerajaan.

Rahardjo bahkan disampaikannya bukanlah anak sultan. Ulahnya yang telah membuat video pengambilalihan takhta kesultanan Juni lalu telah dilaporkan kepada aparat berwenang.

"(Saat ini) dalam proses penanganan kepolisian," tandasnya.

Editor: Adi Ginanjar Maulana
dewanpers