web analytics
  

Kisah Getir Pemandu Lagu Karaoke Diterpa Pandemi Covid-19

Rabu, 5 Agustus 2020 17:16 WIB Fichri Hakiim
Bandung Raya - Bandung, Kisah Getir Pemandu Lagu Karaoke Diterpa Pandemi Covid-19, pemandu lagu,Karaoke,PL,Pekerja Hiburan malam,Berita Bandung

Ratusan pekerja tempat hiburan malam se-Kota Bandung melakukan unjukrasa di Balai Kota Bandung, Jalan Wastukancana, Senin (3/8/2020). (Ayobandung.com/Irfan Alfaritsi)

SUMUR BANDUNG, AYOBANDUNG.COM -- Ratusan pekerja hiburan malam melakukan aksi damai di depan Kantor Balai Kota Bandung, Senin (3/8/2020). Mereka mengeluh karena sudah 4 bulan tidak mendapatkan penghasilan.

Ayobandung.com sempat berbincang dengan salah satu peserta aksi bernama Rani--nama samarannya--. Dia mengaku berprofesi sebagai pemandu lagu alias PL di sebuah tempat karaoke di Kota Bandung.

Dari perbincangan itu, Rani pun sempat memberikan ponsel jika suatu saat melakukan wawancara lebih mendalam.

Akhirnya, Ayobandung.com mencoba kontak dengan Rani, Selasa (4/8/2020). Alhasil, dia memberikan kesempatan untuk diwawancarai di kontrakannya di wilayah Cibeureum Kota Bandung, Rabu (5/8/2020).

"Aku sudah 4 bulan tidak bekerja, anak aku pun butuh makan. Kondisi saat ini sangat merugikan bagi aku," ujarnya membuka perbincangan.

Rani pun berkisah sebelum menjadi PL di salah satu tempat karaoke, sempat menjadi model foto produk. 

"Dulu itu sempat jadi model foto produk seperti baju, jaket, dan tas. Tapi sekarang malah terjun di dunia malam," katanya.

Dia mengaku sudah memiliki 2 orang anak. Anak pertama seorang perempuan berusia 7 tahun dan anak kedua laki-laki berusia 5 tahun.

"Anak pertama usianya 7 tahun, lalu yang kedua usianya 5 tahun. Jadi yang pertama itu sudah sekolah kelas 1 SD dan kedua belum. Sekarang mereka tinggalnya sama neneknya," ujarnya.

Jika kondisi pandemi Covid-19 terus terjadi, Rani akan kembali ke pangkuan orangtua dan meninggalkan kontrakan bahkan profesi PL yang selama ini digelutinya.

Dia sudah tidak sanggup bayar duit kontrakan yang jumlahnya cukup besar per bulan. Bahkan, sebelum mengontrak rumah mungil di kawasan Cibeureum, Rani hidup cukup enak. Dia tinggal di sebuah apartemen Jalan Cihampelas dengan biasa sewa Rp3,5 juta per bulan.

"Awalnya aku tinggal di apartemen. Baru 3 bulan aku di Cibeureum karena pemasukan kurang. Mungkin bulan depan aku sudah enggak ngontrak lagi. Aku rencananya tinggal dengan ibu dan anak-anak di Jalan Cikutra," jelasnya.

Wanita yang sudah bekerja sebagai PL selama 3 tahun itu, berharap pemerintah kembali membuka tempat dia mencari nafkah. 

Dia berdalih karena membutuhkan biaya makan dan keperluan anaknya membayar uang sekolah.

"Kondisi ini susah banget untuk diterima seperti aku. Aku sudah pisah dengan suami saat usia 25 tahun. Aku yang mengurus anak-anak sendiri," ujar wanita berusia 29 tahun itu.

Hanya Bisa Gigit Jari

Dia mengaku selama pandemi dirinya hanya bisa gigit jari.

"Sebelum pandemi, biasanya aku dapat Rp8 juta per bulan. Kalau saat ini aku cuman bisa gigit jari," katanya.

Selama bekerja, dia mengaku sering mendapatkan uang tip dari para pelanggannya. Uang tersebut dia kumpulkan untuk keperluan pribadi dan keluarganya.

"Pokoknya sebulan itu bisa di angka Rp8 juta udah termasuk tip dari pelanggan. Kalau uang tip itu biasanya untuk keperluan jajan, kalau untuk keluarga aku pakai uang gaji," jelasnya.

Dia bercerita, selama 4 bulan hanya berdiam diri di kontrakan.  

"Paling aku dagang makeup, kosmetik gitu, ini juga diajak teman untuk dagang. Lumayan daripada enggak pegang uang sama sekali," ujarnya.

Butuh Solusi Konkret

Ketua Pegiat Pariwisata Kota Bandung, Rully Panggabean mengungkapkan di beberapa kota seperti Cirebon dan Bekasi, tempat hiburan malam sudah dibuka. Selain itu, terdapat tempat hiburan di Kota Bandung yang sudah dibuka namun tidak ditindak oleh pemerintah.

Oleh karena itu, pihaknya meminta agar pemerintah segera mencari solusi yang tepat bagi para pelaku industri hiburan malam.

"Kalau memang tidak bisa dibuka kasih bansos atuh (para pekerja), saya juga enggak tahan pegawai minta kasbon. Mohon dimengerti. Tuntutannya buka dan kapan dibuka," katanya.

Segera Merelaksasi

Wali Kota Bandung, Oded M Danial memastikan telah memberikan relaksasi kepada sejumlah sektor usaha termasuk tempat hiburan. 

Namun relaksasi akan dibarengi dengan pengoperasian atau pembukaan kembali jika telah memenuhi persyaratan.

"Saya sudah memberikan relaksasi ke sektor usaha. Termasuk juga tempat hiburan. Tetapi ada sejumlah persyaratan yang harus dipenuhi agar bisa kembali beroperasi," tegas Oded di Pendopo Kota Bandung, Selasa (4/8/2020).

Dia mengaku telah berkoordinasi dengan Sekretaris Daerah Kota Bandung, Ema Sumarna, Asisten Perekonomian dan Pembangunan Kota Bandung, Eric M. Attauriq, dan Kepala Dinas Pariwisata dan Kebudayaan, Kenny Dewi Kaniasari. 

Dia juga telah meminta agar segera dikaji tentang peluang tempat hiburan kembali beroperasi. 

"Pesan saya, setiap tempat hiburan harus memiliki kesiapan yang sama," kata Oded.

Menurutnya, untuk bisa kembali beroperasi, pengusaha hiburan harus mengajukan permohonan kepada Pemkot Bandung. Lokasi tempat hiburan juga harus menerapkan protokol kesehatan dengan ketat. 

"Pengusaha juga harus menandatangani pakta integritas. Mereka harus mau bertanggung jawab jika terjadi sesuatu. Baru akan dikasih izin kembali beroperasi," terang Oded.

Editor: Adi Ginanjar Maulana

artikel terkait

dewanpers