web analytics
  

Jualan Face Shield di Bekasi, Untungnya Capai Rp 50 Juta Per Bulan

Selasa, 4 Agustus 2020 16:34 WIB Firda Puri Agustine
Gaya Hidup - Fashion, Jualan Face Shield di Bekasi, Untungnya Capai Rp 50 Juta Per Bulan, Face Shield,umaymart,Bekasi,COVID-19,google news inisiative

Produk dagangan Umaymart (Ayobekasi.net/Firda Puri Agustine)

BEKASI, AYOBANDUNG.COM – Pandemi Covid-19 ternyata tidak selalu berdampak buruk. Ada peluang bisnis menjanjikan yang coba ditangkap segelintir orang. Salah satunya dengan terjun berbisnis alat pelindung diri (APD) jenis face shield atau pelindung wajah.

Di Harapan Indah, Bekasi Utara, Juliana Wijaya mencoba peruntungan itu sejak bulan April 2020. Selain memanfaatkan momentum, dia resah dengan kehadiran produk face shield yang diproduksi secara asal-asalan. Padahal, alat ini punya fungsi penting melindungi diri dari droplet berisi virus.

Berangkat dari sana, wanita asal Surabaya itu lantas menggandeng seorang kawan memproduksi langsung face shield yang diberi nama Predacare. Bermodal kurang dari Rp5 juta, Juliana mampu membuat 500 buah face shield dengan kualitas ketebalan mika 0,5 milimeter.

“Rata-rata yang diproduksi orang lain ketebalan mikanya 0,3 milimeter atau malah ada juga yang di bawah itu. Jadi, sangat tipis dan gampang penyok,” kata Juliana belum lama ini.

Produksi awal yang hanya sebanyak 500 buah itu tak disangka laris manis. Penjualannya terus meningkat hingga ia kewalahan. Itu pun sudah dibantu tiga orang pekerja yang dalam sehari bisa menghasilkan maksimal 200 face shield.

“Itu kami pernah produksi sampai 2000 buah per hari pas di bulan Mei dan Juni. Benar-benar orderan datang terus,” ujarnya.

Ini baru dari satu jenis face shield untuk orang dewasa saja. Belum ditambah face shield khusus anak-anak, juga produk APD lain yang juga ia pasarkan. Dengan harga Rp12.000 hingga Rp15.000 per buah, Juliana bisa meraup untung hingga Rp 50 juta per bulan.

“Iya ada segitu (Rp 50 juta). Tapi, memang saya enggak mau ambil untung banyak-banyak kayak orang jual masker medis yang harganya selangit. Tetap jualan itu sewajarnya aja,” kata Juliana.

Jika disebut pandemi membawa berkah, ibu satu anak tersebut agak tidak setuju. Pasalnya, Covid-19 tetaplah sebuah penyakit yang tidak diharapkan kehadirannya. Kalaupun ia kini menggeluti bisnis APD, utamanya karena ingin juga membantu banyak orang.

“Mungkin tepatnya itu yang disebut ‘berkah’ bukan pandeminya, tapi ‘berkah’ karena bisa bantu orang juga berikhtiar melindungi diri dengan coba menawarkan produk yang harganya terjangkau,” ujarnya.

Niat serupa juga dimiliki Umay, seorang wartawan yang memulai bisnisnya di tengah pandemi. Berawal dari aktivitas kesehariannya yang berisiko terpapar Covid-19, dia mencoba memasarkan produk face shield di kalangan teman-teman sesama jurnalis.

Awalnya, Umay sempat merasa ragu karena memakai face shield terlihat seperti robot. Namun, lama kelamaan barang ini menjadi kebutuhan penting kala liputan. Alhasil, perlahan cuan pun didapat. Dari tadinya cuma laku terjual satu per hari hingga bisa mencapai 100 buah per bulan.

“Sebulan bisa dapat bersihnya Rp2 juta untuk face shield aja,” kata dia.

Dari situ, kepercayaan dirinya muncul. Mulailah ia membuka toko online Umaymart di platform Instagram dan e-commerce lain. Produk yang ia jual sebagian besar merupakan APD mulai dari masker, face shield orang dewasa, face shield bayi dan anak-anak, hingga corfing atau corona finger.

“Itu semacam alat buat kalau kita mencet lift atau ATM, jadi tangan kita enggak sentuhan langsung,” ujarnya.

Saat ini, ia belum bisa memproduksi secara langsung beragam APD yang ia jual di etalasenya. Namun, niat ke arah sana sudah ada dengan menciptakan sejumlah inovasi baru. Tentu dengan modal dana yang juga perlu disiapkan.

“Kepengen sih bisa produksi sendiri, cuma masih lihat-lihat peluang ke depannya kayak gimana karena bisnis kayak gini kan semacam kayak musiman,” kata dia.

Editor: Adi Ginanjar Maulana

artikel terkait

dewanpers