web analytics
  

Studi: Antibodi Minuman Keras Bisa Jadi Obat Covid-19?

Selasa, 4 Agustus 2020 09:28 WIB Icheiko Ramadhanty
Gaya Hidup - Sehat, Studi: Antibodi Minuman Keras Bisa Jadi Obat Covid-19?, Antibodi Covid-19,Minuman Keras,Alkohol

Ilustrasi -- Teliti Daya Tahan Antibodi Covid-19 (Pixabay)

JAKARTA, AYOBANDUNG.COM – Sebuah publikasi tentang ilmu terapi, mengatakan antibodi dalam minuman keras atau beralkohol dapat mencegah pertumbuhan Covid-19. Namun, penelitian itu baru diuji coba pada hewan, yaitu kera dan hamster.

Para peneliti memberikan nama REGN-COV2, pada antibodi tersebut. Antibodi dikembangkan oleh Pusat Penelitian Biomedis di Texas dan perusahaan riset ilmu sains, BIOQUAL. Penelitian ini sudah diuji coba pada 12 kera jenis rhesus yang berasal dari India dan 50 hamster.

“Di sebagian besar hewan yang diuji coba, menunjukkan bahwa REGN-COV2 dapat menghentikan pembentukan infeksi virus dalam tubuh kera,” kata para peneliti dalam keterangannya dilansir dari newsmax.com, Selasa (4/8/2020).

“Dua studi pada hamster dengan jelas menunjukkan bahwa REGN-COV2 dapat mengubah lajur infeksi Covid-19 baik ketika diberikan secara profilaksis atau terapeutik,” tambahnya.

Para peneliti mengklaim bahwa hasil penelitian mereka mengatakan antibodi minuman keras berkhasiat pada kedua model hewan tersebut. Hasil itu dilihat dengan viral load (kalkulasi jumlah virus pada paru-paru dan hidung), berkurangnya patologi yang diinduksi virus dalam kera rhesus, dan penurunan berat badan pada hamster,” tulis para peneliti.

Kendati baru diuji coba pada hewan, namun mereka mengklaim bahwa REGN-COV2 juga dapat memperlambat laju perkembangan Covid-19 dalam tubuh manusia. Studi ini dipublikasikan di BioRxiv, website khusus untuk mmepublikasikan penelitian biologi. REGN-COV2 saat ini sudah melakukan percobaan pada manusia, yaitu tahap uji klinis fase 3 pada 6 Juli lalu.

“Kami ingin mengetahui kemampuan REGN-COV2 pada manusia yang tidak terinfeksi namun berada di dekat orang yang terinfeksi Covid-19 (seperti orang dalam satu rumah dengan pasien). Kami bekerjasama dengan Institut Nasional Alergi dan Penyakit Menular (NIAID) AS,” kata para peneliti.

Editor: Adi Ginanjar Maulana
dewanpers