web analytics
  

Mengulik Deflasi Kota Bandung

Selasa, 4 Agustus 2020 09:18 WIB Netizen Vira Wahyuningrum
Netizen, Mengulik Deflasi Kota Bandung, Deflasi,Kota Bandung,Ekonomi & Bisnis

Ilustrasi. (Pixabay/Markus Winkler)

Vira Wahyuningrum

Statistisi di BPS Provinsi Jawa Barat

AYOBANDUNG.COM -- Kota Bandung mengalami deflasi pada Juli 2020. Sebanyak 6 dari 7 kota penghitungan Indeks Harga Konsumen (IHK) di Jawa Barat mengalami deflasi. Deflasi atau sering disebut juga sebagai disinflasi yang merupakan kebalikan dari inflasi. Pada kondisi deflasi, tingkat harga barang maupun jasa secara umum mengalami penurunan.

Secara rutin setiap awal bulan Badan Pusat Statistik (BPS) merilis perkembangan IHK/inflasi. Di Jawa Barat, perkembangan IHK dihitung di 7 kota yaitu Bogor, Sukabumi, Bandung, Cirebon, Bekasi, Depok dan Tasikmalaya.

Awal Agustus ini dirilis perkembangan IHK kondisi Juli yakni terjadi deflasi pada gabungan 7 kota IHK Jawa Barat. Kota Bandung yang merupakan ibu kota provinsi mengalami deflasi sebesar 0,14 persen. Angka ini lebih tinggi dibandingkan gabungan 7 kota IHK Jawa Barat yang mengalami deflasi 0,07 persen. Berdasarkan series data bulanan, selama Januari-Juli 2020 Kota Bandung selalu mengalami deflasi, kecuali pada bulan Juni.

Penghitungan IHK/inflasi dilakukan pada 11 kelompok pengeluaran yang mencakup perkembangan harga berbagai barang dan jasa. Kelompok pengeluaran tersebut meliputi Makanan, Minuman dan Tembakau; Pakaian dan Alas Kaki; Perumahan, Air, Listrik dan Bahan Bakar Rumah Tangga; Perlengkapan, Peralatan dan Pemeliharaan Rutin Rumah Tangga; Kesehatan; Transportasi; Informasi, Komunikasi dan Jasa Keuangan; Rekreasi, Olahraga  dan Budaya; Pendidikan; Penyediaan Makanan dan Minuman/Restoran; serta Perawatan Pribadi dan Jasa Lainnya. Sebelas kelompok pengeluaran ini terbagi menjadi 43 subkelompok yang mencakup berbagai komoditas barang maupun jasa.

Apa saja komoditas yang mengalami deflasi pada Juli 2020? Menurut kelompok pengeluaran, hanya kelompok Makanan, Minuman dan Tembakau saja yang mengalami deflasi. Deflasi kelompok pengeluaran ini sebesar 0,81 persen dengan andil deflasi Kota Bandung sebesar 0,22 persen. Subkelompok makanan menjadi penyumbang andil deflasi terbesar Kota Bandung. Komoditas penyebab deflasi terbesar pada subkelompok makanan adalah Bawang Merah, Daging Ayam Ras, Bawang Putih, dan Cabai Merah.

Andil deflasi komoditas Bawang Merah dan Daging Ayam ras masing-masing sebesar 0,13 persen dan 0,12 persen. Komoditas Bawang Putih memberikan andil deflasi sebesar 0,03 persen dan Cabai Merah sebesar 0,02 persen. Sebaliknya komoditas yang mengalami inflasi pada subkelompok makanan adalah Telur Ayam Ras dengan andil sebesar 0,06 persen. Pada bulan sebelumnya, komoditas Telur Ayam Ras juga termasuk 3 besar komoditas dengan andil inflasi tertinggi.

Sementara itu, 10 kelompok pengeluaran lainnya secara umum mengalami inflasi namun tidak terlalu tinggi. Inflasi yang paling dominan terjadi pada kelompok perawatan pribadi dan jasa lainnya dengan andil 0,06 persen. Komoditas yang mengalami kenaikan harga dan menjadi penahan deflasi selain Telur Ayam Ras adalah Emas Perhiasan. Andil inflasi Emas Perhiasan di Kota Bandung sebesar 0,05 persen.

Tarif parkir pada kelompok pengeluaran Transportasi juga menyumbang inflasi sebesar 0,01 persen. Pada subkelompok pengeluaran lainnya, inflasi lebih lemah dibandingkan penurunan harga pada komoditas subkelompok makanan.

Deflasi komoditas barang dan jasa umumnya akan menyebabkan pergeseran pola pengeluaran masyarakat. Dalam jangka panjang, konsumsi dan pengeluaran masyarakat akan lambat laun menurun. Deflasi yang terus menerus juga mempengaruhi siklus perekonomian dari sisi produsen, investor maupun lembaga keuangan. Ditambah lagi situasi pandemi Covid-19 saat ini yang sangat berimbas pada kondisi ekonomi masyarakat. Diperlukan pengendalian deflasi dan upaya meningkatkan daya beli masyarakat untuk mencegah terjadinya permasalahan ekonomi yang berkelanjutan.

Tulisan adalah kiriman netizen, isi tulisan di luar tanggung jawab redaksi.

Ayo Menulis klik di sini

Editor: M. Naufal Hafizh

artikel terkait

dewanpers