web analytics
  

Wabah Covid-19 Membuat Manusia Tak Pantas Membanggakan Diri

Senin, 3 Agustus 2020 11:10 WIB Netizen Sjarifuddin Hamid
Netizen, Wabah Covid-19 Membuat Manusia Tak Pantas Membanggakan Diri, Dampak Corona,maskapai penerbangan,Airbus,Dreamliner

Virus corona berdampak ke segala bidang, termasuk penerbangan . (Pixabay/Gerd Altmann)

Sjarifuddin Hamid

Lulusan Jurusan Hubungan Internasional, FISIP-UI. Pernah bekerja pada beberapa surat kabar nasional.

AYOBANDUNG.COM -- Baru-baru ini, Airbus mengumumkan akan mem-PHK 15.000 pegawainya dalam waktu setahun mendatang. Alasannya, pemesanan pesawat-pesawat baru anjlok sampai 40%. Lalu, diperkirakan sektor penerbangan baru pulih paling tidak akhir 2025.

Airbus dewasa ini memiliki 134 ribu pegawai di seluruh dunia, dengan fasilitas produksi di Spanyol, Inggris, Prancis dan Jerman. Airbus juga sudah 12 tahun terakhir punya fasilitas perakitan A-330 dan A-320 di Tianjin, China.

Pesaingnya, Boeing Corp. sudah pula kepayahan karena alasan yang sama. Setelah skandal Boeing-737 Max yang antara lain berimbas pembatalan pesanan 150 pesawat sejenis pada Maret lalu. Boeing juga mem-PHK 1.500 karyawan dan menutup pabrik B-787- Dreamliner di Everett, negara bagian Washington, AS serta mengkonsentrasikan pembuatannya di South Carolina.

Dreamliner merupakan produk andalan dengan teknologi tercanggih. Qantas telah mengujinya untuk rute Perth-London dengan lama penerbangan 18 jam nonstop. Pesawat ini sebetulnya diharapkan mampu mengimbangi Airbus-380 yang lebih mahal dan biaya operasi lebih tinggi.

Kesulitan yang dialami Airbus dan Boeing berdampak ke ribuan perusahaan pemasok di berbagai negara. Jepang misalnya, paling banyak membuat komponen untuk Dreamliner.

Kehilangan Penumpang

Maskapai-maskapai pengguna produk Boeing dan Airbus membatalkan pesanan setelah kehilangan penumpang. Singapore Airlines, Emirates, British Airways, dan masih banyak lagi merugi. Garuda mengaku rugi Rp1 triliun pada semester pertama tahun ini.

Kecuali maskapai domestik Indonesia, maskapai asing memarkir pesawat yang masih layak terbang di gurun Moyave, Amerika Serikat atau di Alice Spring, Australia. Singapore Airlines memiliki 131 pesawat berbagai jenis, diperkirakan hanya 10 persen yang operasional. Lainnya ditaruh di padang pasir Australia atau parkir di Bandara Changi.

Kerugian, PHK belasan ribu karyawan dan ratusan pesawat teronggok. Itu adalah gambaran yang terjadi di maskapai penerbangan dan pembuat pesawat. Masalahnya tidak berhenti di sini.

Perusahaan-perusahaan pendukung langsung maupun tidak langsung, seperti catering, lembaga keuangan/perbankan dan bisnis ritel juga terpukul. Malahan ekonomi perorangan juga terdampak. Tak dapat membayar cicilan apartemen karena awak menganggur.

CEO Airbus Guillaume Faury memperkirakan industri penerbangan butuh lima tahun untuk kembali ke situasi sebelum wabah Covid-19. Laba Airbus turun 49% pada kuartal pertama tahun ini yakni Euro 281 juta. Adapun penerimaan merosot Euro 2 miliar menjadi Euro 10.6 miliar.

IATA dan Gambaran Suram

Asosiasi Transportasi Udara Internasional (IATA) pada Juni lalu mengumumkan, dampak Covid-19 terhadap perekonomian global sangat dahsyat. Pertumbuhan GDP dunia pada 2020 akan mengalami kontraksi sebanyak lima persen. Perdagangan internasional turun 13 %, setelah sebelumnya dipengaruhi perang dagang AS-China.

Maskapai-maskapai penerbangan pada 2020 akan mengalami kerugian US$84,3 miliar dan kerugian ini akan berlanjut hingga tahun depan meskipun jumlahnya lebih sedikit. Adapun laba tahun lalu US$ 28 miliar.

Menurut laporan itu, maskapai terpaksa memberi diskon untuk meningkatkan perjalanan udara. Mengurangi biaya operasi. Sejumlah 32 juta karyawan di seluruh dunia terancam di-PHK.

Jumlah penumpang yang menggunakan pesawat udara pada 2019 mencapai 4,543 juta, tahun 2020 turun menjadi 2,246 juta sedangkan tahun depan diperkirakan 3,384 juta penumpang. Di antara para penumpang itu, para turis membelanjakan US$ 843 juta pada tahun lalu. Tahun ini diperkirakan US$902 dan US$968 pada 2021.

Kesulitan Massal

Kesulitan yang dialami maskapai penerbangan juga dialami banyak perusahaan di berbagai industri lainnya. Ironisnya semuanya berpangkal pada virus corona yang dengan cepat menyebar dari Wuhan, Cina Tenggara, ke seluruh dunia.

Wabah virus Corona bermula di pasar hewan liar di Wuhan. Ada banyak dugaan tentang asal mulanya, namun disepakati virus berasal dari kelelawar yang dikonsumsi penduduk lokal, bukan akibat kebocoran di laboratorium virologi Wuhan, pada Desember 2019.

Presiden Donald Trump mengecam karena pemerintah China sengaja merahasiakan apa yang sebenarnya terjadi. Sikap ini menyebabkan dunia tidak siap menghadapi wabah.

Sebulan kemudian, Januari 2020, para ahli mengidentifikasi virus kali ini masih ‘saudara’ dengan virus SARS-CoV, penyebab sindrom pernapasan akut,  yang ditemukan di China pada November 2020. Bentuknya sama yakni mempunyai corona maka virus yang ditemukan di Wuhan itu disebut SARS-CoV-2 tetapi karena ditemukan tahun 2019 dinamakan SARS-Covid-19.

Di Indonesia ditemukan pada 2 Maret lalu, seorang pelatih dansa dan ibunya tertular dari pria berkebangsaan Jepang yang berdomisili di Kuala Lumpur, Malaysia. Kemenkes melaporkan pada 2 Agustus lalu jumlah yang terpapar mencapai 111.455 kasus. Tertinggi di Asia Tenggara, mengungguli Filipina dan Singapura.

Angka itu didapat setelah pemerintah melakukan pengujian terhadap 1.537.413 orang. Diperkirakan jumlahnya terus bertambah seandainya diberlakukan pegujian yang lebih intensif.

Covid-19 melanda 213 negara dan teritori. Menurut Worldometers per 3 Agustus 2020, ditemukan 18.231.535 kasus. Pulih 11.443.844 orang dan yang meninggal dunia 692.694.

Dana Moneter Internasional (IMF) pada Juni 2020 memperingatkan pertumbuhan ekonomi dunia tahun ini minus 4%. Pengaruh Covid-19 pada semester pertama tahun ini. Lebih buruk daripada yang diperkirakan sebelumnya.

IMF memprihatinkan kemungkinan makin banyak penduduk berpendapatan rendah yang terdampak. Padahal upaya mengurangi kemiskinan sudah dilakukan sejak 1990-an.

Bank Dunia memperkirakan pertumbuhan ekonomi dunia minus 5,2 persen pada tahun ini. Wabah Covid-19 akan menyebabkan lebih banyak negara mengalami resesi. Pendapatan per kapita penduduk dunia akan berada di posisi terburuk sejak 1870.

Kebobolan Massal

Sukar dimengerti mengapa wabah Covid-19 mampu menghantam hampir semua aspek kehidupan manusia. Padahal banyak kaum cerdik pandai di Boeing, Airbus, Singapore Airlines, Emirates, IMF, Bank Dunia dan perusahaan-perusahaan terkemuka lainnya. Mereka berpengalaman dan alumni pendidikan tinggi yang hebat. Universitas Princeton, Harvard, Kellog, London School of Economics and Political Science, University of Chicago, National University of Singapore, University of California, Berkeley, Universitas Stanford, Universitas Yale, Oxford, MIT dan masih banyak lagi.

Kenapa bisa begitu ?Apakah ada sengaja? Lalai? Atau menunjukkan satu lagi kelemahan ilmu ekonomi?

Tulisan adalah kiriman netizen, isi tulisan di luar tanggung jawab redaksi.

Ayo Menulis klik di sini

Editor: M. Naufal Hafizh

terbaru

Kultur Overwork Tak Manusiawi dan Tak Bagus untuk Hidup Kita

Netizen Selasa, 18 Mei 2021 | 17:25 WIB

Para pelaku overwork didominasi oleh golongan muda di bawah 40 tahun.

Netizen, Kultur Overwork Tak Manusiawi dan Tak Bagus untuk Hidup Kita, Overwork,Muda-mudi,Bahaya Laten Overwork,Kultur Overwork,Dehumanisasi

Suara dari Surau Kala Pandemi

Netizen Senin, 17 Mei 2021 | 18:25 WIB

Pandemi berdampak pada banyak hal dan berbagai sektor, salah satunya adalah pendidikan agama.

Netizen, Suara dari Surau Kala Pandemi , Pandemi,Pendidikan Agama,Al-Qur'an,Islam

Butuh Stamina dan Kesabaran Sebelum Berfoto di Warung Nasi Mang Ade

Netizen Minggu, 16 Mei 2021 | 13:30 WIB

DI kalangan para goweser, Warung Nasi  Mang Ade bukanlah nama yang asing.

Netizen, Butuh Stamina dan Kesabaran Sebelum Berfoto di Warung Nasi Mang Ade, Warung Nasi Mang Ade,Sepeda,MTB (mountain bike),Liburan,Jalan Raya Puncak,Kabupaten Bogor

Leuwipanjang, di Mana Leuwinya?

Netizen Jumat, 14 Mei 2021 | 08:43 WIB

Leuwipanjang, di Mana Leuwinya?

Netizen, Leuwipanjang, di Mana Leuwinya?, leuwipanjang,Terminal Leuwipanjang,leuwi,sejarah leuwipanjang,leuwipanjang adalah

Menjaga Tradisi, Merawat Ingatan Lebaran

Netizen Kamis, 13 Mei 2021 | 17:30 WIB

Sejatinya, agama (Islam) dan budaya (tradisi) hadir tidak untuk dipertentangkan (dibenturkan).

Netizen, Menjaga Tradisi, Merawat Ingatan Lebaran, Tradisi,Lebaran,Idulfitri,Sejarah,Islam,budaya

Pamali sebagai Pendidikan Karakter Masyarakat Sunda

Netizen Kamis, 13 Mei 2021 | 17:05 WIB

Pamali atau pemali adalah pantangan atau larangan (berdasarkan adat dan kebiasan).

Netizen, Pamali sebagai Pendidikan Karakter Masyarakat Sunda, Pamali,Pemali,Pendidikan Karakter Masyarakat Sunda,Sunda,Budaya,Tradisi,Takhayul

Menjadi Tangan Kanan Pangeran Suriaatmaja

Netizen Rabu, 12 Mei 2021 | 16:53 WIB

Bataviaasch Handelsblad dan Java-Bode edisi 8 Mei 1883 antara lain memuat kabar pelelangan barang-barang milik Raden Kar...

Netizen, Menjadi Tangan Kanan Pangeran Suriaatmaja, raden kartawinata,belanda,suriaatmaja,kabupaten sumedang

Lebaran yang Indonesia Banget dalam Lagu Pop

Netizen Selasa, 11 Mei 2021 | 12:01 WIB

Salah satu lagu yang lumayan utuh mendeskripsikan perayaan Lebaran adalah lagu karya komponis masyhur negeri ini, Ismail...

Netizen, Lebaran yang Indonesia Banget dalam Lagu Pop, Selamat Hari Lebaran,Ismail Marzuki,Lebaran,Lagu Lebaran,Lagu Selamat Hari Lebaran,Jangan Korupsi

artikel terkait

dewanpers