web analytics
  

Rajin Olahraga, Mengapa Pelatih Persib Kena Serangan Jantung?

Selasa, 28 Juli 2020 19:29 WIB Eneng Reni Nuraisyah Jamil

Pelatih Persib Bandung Robert Alberts. (Irfan Al-Faritsi)

SUKAJADI, AYOBANDUNG.COM -- Serangan jantung yang menimpa Pelatih Persib Bandung Robert Alberts, Selasa (21/7/2020) dini hari memunculkan tanya. Pelatih asal Belanda itu kini diketahui sudah membaik setelah menjalani tindakan medis dan perawatan di Rumah Sakit Borromeus, Bandung.

Namun yang cukup mengejutkan Robert dikenal sebagai pelatih klub sepak bola kenamaan Indonesia, Persib Bandung. Robert juga merupakan sosok pelatih yang tak segan menjaga pola hidup sehat dengan rutin melakukan aktivitas fisik. 

Buktinya, selama dua pekan sebelum mendapatkan serangan jantung, Robert rutin bersepeda bersama jajaran staf dan karyawan PT Persib Bandung Bermartabat. Akan tetapi Robert masih bisa terkena serangan jantung.

Bahkan melihat kasus serupa, kiper asal Spanyol Iker Casillas juga diketahui sempat terkena serangan Jantung. Beruntung, baik Robert maupun Casillas selamat dari serangan tersebut padahal mereka rajin beraktivitas fisik.

Terkait hal tersebut, Dokter Spesialis Jantung RS Hasan Sadikin, Dr. Badai Tiksnadi menjelaskan, latihan fisik atau olahraga sebenarnya jarang berakibat fatal pada kesehatan seseorang. Termasuk menjadi pemicu terjadinya serangan jantung, kecuali orang itu punya kelainan jantung.

Meski begitu Badai juga menyampaikan, penyakit jantung berkaitan erat dengan usia. Berdasarkan data, laki-laki itu berisiko terkena serangan jantung sejak usia 45 tahun. Sedangkan wanita di atas 55 tahun. Diketahui, Robert tahun ini menginjak usia 65 tahun. Usia yang memang cukup rentan mengalami berbagai keluhan kesehatan.

"Sebenarnya olahraga adalah faktor lain dia faktor protektif. Kan olahraga untuk sehat jadi jangan-jangan kalau pelatih sepak bola ini kalau bukan olahragawan dia kena serangan jantung 5 tahun lalu. Jadi jangan dianggap olahraganya ini sesuatu yang buruk apalagi kalau di dalam konteks sportship semua dilakukan dengan kaidah yang baik. Ada pemanasan dahulu, peregangan, latihan dikondisikan dengan baik tidak ada intens yang tiba-tiba," kata Badai, Selasa (28/7/2020).

Berdasarkan teori medis, Badai menyampaikan, serangan jantung biasanya terjadi ketika aliran darah ke jantung tersumbat. Penyumbatan paling sering karena penumpukan lemak, kolesterol, dan zat-zat lain, yang membentuk plak di arteri (arteri koroneria). Kurangnya melakukan aktivitas fisik dan gaya hidup tak sehat bisa menjadi faktor risiko seseorang mengalami serangan jantung. 

"(Serangan Jantung) paling sering diidentikan dengan arterioperosis yaitu pelemakan dari pembuluh darah di arteri koronaria ini. Itu yang akhirnya kita sebut sebagai penyakit jantung koroner," katanya.

Badai memaparkan, sedianya, sejak usia 20 tahun ini kinerja jantung akan semakim berat seiring bertambahnya usia. Namun biasanya serangan jantung yang terjadi secara signifikan berada di dekade 50 tahun-60 tahun.  

"Sejak usia 20 tahun memang wajar akan terjadi peradangan kemudian akan terjadi penuaan di pembuluh darah hingga akhirnya beberapa zat seperti kolesterol jahat, sel radang, sel otot polos itu akan tergabung. Hingga akhirnya pembuluh darah itu, si dindingnya menebal dan bisa terjadi penyempitan apabila memang penebalan masif," ucap Badai.

Namun, menurut Badai, jika faktor risiko tersebut tak ada, masih ada faktor lainnya yang perlu dipertimbangkan yakni DVT atau deep vein thrombosis. Kondisi ini terjadi akibat vena bagian dalam tungkai dan panggul mengalami pembekuan darah, menghambat, penyumbatan, atau mengganggu aliran darah di vena.

"Apabila serangan jantung terjadi yang proses robek dan akhirnya menutup secara berat dalam waktu singkat. Maka memang harus segera sumbatannya itu diencerkan, dihancurkan, dan kemudian ditembus dengan kawat dan diberikan cincin sehingga dia jangan sampai nanti menyumbat lagi," katanya.

DVT salah satunya bisa dialami pada orang yang duduk terlalu lama saat menjalani perjalanan jauh. Robert diketahui selama 2 minggu terakhir intens bersepeda dengan menjajal rute yang cukup ekstrem yakni bersepeda ke kawasan Tahura hingga Tebing Keraton.

"Pengaruhnya cukup besar sekarang dalam tubuh itu ada yang disebut simpatis, dia akan menaikkan denyut jantung, akan kurang baik untuk kualitas pembuluh darah. jadi sebenernya orang banyak stres walaupun belum kena jantung jangan-jangan kena sakit jantung betulan karena dia faktor risiko," katanya.

Karenanya Menurut Badai, untuk segera stabil setelah mengalami serangan jantung, tata laksana yang utama adalah perbaikan gaya hidup. Hal ini kata dia, untuk menghindari perobekan jantung secara progresif yang menyebabkan adanya penyempitan kembali pada pembuluh darah.

"Intinya jantung itu multifaktor, jadi yang mengendalikan itu tekanan darahnya harus kita kontrol, makanannya harus baik, istirahat harus cukup, stresnya harus dikelola. Jadi banyak hal itu yang harus kita kendalikan. Kita juga tidak bisa mengendalikan usia karena sipembuluh darah jantung secara alamiahnya memang menua," ujarnya.

Editor: Dadi Haryadi
dewanpers