web analytics
  
Banner Kemerdekaan

Kapan Kita Merdeka dari Covid-19?

Sabtu, 1 Agustus 2020 09:24 WIB Netizen Mohamad Ully Purwasatria, M.Pd

Ilustrasi (Pixabay)

Mohamad Ully Purwasatria, M.Pd

Pengajar di Temasek Independent School Bandung

AYOBANDUNG.COM--Perkembangan pandemi Corona Virus Desease-19 (Covid-19) di Indonesia semakin mengkhawatirkan. Statistik pertambahan orang yang positif dari hari ke hari selalu di atas 1.000 orang, bahkan sejak tanggal 27 Juli 2020 jumlah angka yang positif tembus di angka 100.000 dengan jumlah sebanyak 100.303 orang. 

Total jumlah kasus Covid-19 per tanggal 31 Juli 2020 yaitu 108.376 orang terkonfirmasi positif, 65.907 orang yang sembuh, dan 5.131 orang yang meninggal. Jumlah provinsi yang terkonfirmasi positif tertinggi yaitu Jawa Timur yaitu 22.089 orang terkonfirmasi positif, 14.415 orang yang sembuh, dan 1.698 orang. Kemudian Provinsi DKI Jakarta dengan jumlah yaitu 21.399 orang terkonfirmasi positif, 13.208 orang yang sembuh, dan 831 orang (covid19.go.id).

Jumlah di atas hanya bersifat sementara. Karena proses pemeriksaan melalui rapid test dan swab test terus berjalan, sehingga pelaporan hasil perkembangan Covid-19 setiap harinya terus mengalami perubahan. 

Dalam menekan angka pertambahan yang terjangkit covid-19, pemerintah membuat kebijakan seperti pembatasan sosial skala besar (PSBB) secara nasional, secara lokal, dan proporsional.

Kemudian pemberlakuan adaptasi kebiasaan baru (AKB)/new normal dengan mulai melonggarkan aktivitas di luar rumah seperti: pembukaan mal, pembukaan tempat wisata, hingga pembukaan sekolah (bagi daerah yang telah memasuki zona hijau).

Imbas dari pandemi Covid-19 ini tidak hanya dengan bertambahnya jumlah korban yang meninggal, tapi telah mempengaruhi hampir semua sektor dari perekonomian hingga pendidikan, seperti: banyak pengangguran akibat pemutusan hubungan kerja (PHK) secara besar-besaran karena bisnis dari perusahaan merosot tajam

Usaha ekonomi menengah ke bawah pun menjadi sepi peminat karena penerapan PSBB, dunia pendidikan pun terkena dampaknya juga dengan menghentikan ujian nasional lebih cepat dan pemberlakuan belajar di rumah (BDR) yang menuai permasalahan, dan lain-lain.

Dinamika Covid-19 di Indonesia

Perjalanan pandemi Covid-19 di Indonesia dari awal hingga saat ini menarik untuk dibahas. Mulai dari langkanya masker, hand sanitizer, hingga alat pelindung diri (APD) bagi tenaga medis mewarnai perjuangan masyarakat Indonesia dalam melawan pandemi.

Kelangkaan ini dimanfaatkan oleh beberapa oknum untuk menarik keuntungan, yaitu dengan menaikkan harga secara tidak wajar. 

Kelangkaan tersebut menyebabkan tenaga medis menjadi korban meninggal karena terpapar Covid-19 saat bertugas di Rumah Sakit. Seiring berjalannya waktu kelangkaan masker, hand sanitizer, APD ini mulai teratasi dengan peningkatan produksi dan juga ada peran relawan yang berjuang untuk melawan Covid-19, salah satunya dr Tirta.

Penanganan Covid-19 oleh pemerintah pun mulai diberlakukan, seperti diwajibkannya orang berjaga jarak (Social Distancing/Physical Distancing), ditutupnya pusat perbelanjaan (kecuali obat dan makanan), restoran, dilarang mudik saat lebaran, disediakan tempat untuk cuci tangan, diwajibkan menggunakan masker, hingga aktifitas pekerjaan pun dilakukan di rumah termasuk aktivitas dalam dunia pendidikan.

Memasuki masa transisi dari PSBB ke AKB, secara perlahan aktivitas di luar rumah mulai berjalan normal walaupun harus tetap pada protokol kesehatan. Dengan pertimbangan, jika tetap seperti ini, perekonomian di Indonesia akan terhambat dan dapat memicu gejolak sosial yang besar. 

Namun upaya yang pemerintah lakukan hingga saat ini tidak dibarengi oleh sikap masyarakat Indonesia yang kadang mengabaikan protokol kesehatan.

Memaknai masa new normal yang menjadi seolah-olah normal, telah menambah statistik pertambahan yang terkonfirmasi positif dari hari ke hari semakin meningkat.

Bahkan orang tidak takut dalam menghadapi pandemi Covid-19, walaupun sampai saat ini vaksin masih dalam proses pembuatan.

Adanya pandemi Covid-19 telah mengubah kehidupan masyarakat, baik di Indonesia maupun dunia. Tidak terfikirkan bahwa semua aktivitas kehidupan dilakukan bergantung pada teknologi digital yaitu salah satunya dengan memanfaatkan internet. Wacana tentang revolusi 4.0 yang hanya sebuah diskursus, hanya sebuah ide gagasan menjadi hal nyata untuk diimplementaskan. Sehingga perubahan tersebut mau tidak mau harus dilakukan. Sebagai upaya untuk mengurangi penyebaran wabah pandemi Covid-19.

Merdeka dari Pandemi Covid-19

Tidak mudah dalam menghadapi wabah penyakit baru seperti Covid-19. Penyebaran penyakit yang cepat membuat penanganannya mengalami kesulitan. Terlebih lagi hingga saat ini belum tersedianya vaksin/obat yang dapat menyembuhkan dari penyakit Covid-19.

Hal yang dapat dilakukan untuk merdeka dari Pandemi ini adalah melakukan hidup sehat, seperti rajin mencuci tangan, makan makanan yang bergizi, menggunakan masker/face shield ketika beraktivitas di luar rumah, meminimalisir berkumpul atau berada di tengah kerumunan.

Penanganan dari pemerintah pun perlu ditingkatkan lagi agar dapat menekan angka positif dan mempercepat angka kesembuhan Covid-19.

Apabila belajar dari sejarah, sebenarnya adanya pandemi di Indonesia terjadi tidak hanya saat ini saja. Namun kita pernah mengalami pandemi yang mirip seperti ini sekitar tahun 1918, saat Indonesia dilanda pandemi Flu Spanyol

Flu yang menimbulkan banyak korban ini fenomenanya mirip dengan yang kita alami saat ini. Hal yang kita dapat pelajari adalah, bagaimana upaya pemerintah dengan membuat kebijakan dalam menghadapi Flu Spanyol, dan bagaimana Flu Spanyol bisa menyebar luas menjangkiti masyarakat Indonesia.

Satu hal yang menjadi sebuah titik poin penyebaran luas itu adalah terjadinya gelombang kedua yang tidak terprediksi. Saat virus tersebut seolah-olah hilang dan masyarakat Indonesia merayakan dengan suka cita atas hilangnya virus tersebut. Masuknya gelombang kedua yang menyebabkan peningkatan orang yang terkena Flu Spanyol secara signifikan.

Hal ini pun dapat terjadi saat ini. Pelaksanaan AKB dengan mengabaikan protokol kesehatan dapat menjadi potensi adanya peningkatan jumlah yang positif Covid-19. Karena kita tidak dapat memprediksi kapan akan terjadi gelombang kedua dari virus Covid-19 ini. Maka momentum menjelang memperingati hari kemerdekaan ini, untuk memperjuangkan kemerdekaan dari adanya pandemi Covid-19 tersebut.

Perjuangan yang dapat dilakukan adalah terus mengingatkan agar hidup sesuai dengan protokol kesehatan. Patuh terhadap peraturan yang telah dibuat pemerintah dalam menangani wabah pandemi. Membantu tenaga medis yang sedang berjuang menangani pasien yang terkena covid-19 dengan hidup sehat dan terus berdoa agar pandemi Covid-19 segera berakhir.

Tulisan adalah kiriman netizen, isi tulisan di luar tanggung jawab redaksi.

Ayo Menulis klik di sini

Editor: Adi Ginanjar Maulana

artikel lainnya

dewanpers