web analytics
  
Banner Kemerdekaan

Krisis Air Baku di Cekungan Bandung

Jumat, 31 Juli 2020 06:53 WIB Netizen T Bachtiar

Tanah pucuk yang subur terbawa air sungai (T Bachtiar)

T Bachtiar

Anggota Kelompok Riset Cekungan Bandung.

AYOBANDUNG.COM -- Krisis air bersih akan semakin berat di kota-kota besar di Jawa Barat, tak terkecuali di Cekungan Bandung.

Hal ini disebabkan karena upaya pemulihannya tidak menyentuh akar permasalahan, sehingga bukannya semakin membaik, yang terjadi justru sebaliknya, kehancuran ekologi semakin parah.

Masalah air bersih sudah menjadi masalah di perkotaan, dan akan semakin menjadi masalah yang sangat berat ke depan. Upaya penyelesaian permasalah air yang menjadi kebutuhan utama, akan merembet ke persoalan lain yang lebih rumit, bahkan bisa menjadi isu sosial-ekonomi-politik.

Krisis air yang setiap tahun berulang, akan semakin memberatkan sebagian besar warga kota. Mereka terpaksa harus membeli air bersih untuk kebutuhan utamanya, yang harga per satu jerikennya Rp4.000.

Ketika memasuki musim kemarau, krisis air akan semakin nyata. Semula, warga yang memenuhi kebutuhan air bakunya dari sungai, kini sudah tidak mungkin lagi, karena kualitas airnya sudah tidak memenuhi standar baku mutu air yang layak dipergunakan oleh warga.

Pemenuhan kebutuhan air yang bersumber dari mata air pun kini tinggal kenangan, hanya tinggal namanya yang diabadikan dalam toponim, seperti Sekelola, Sekelimus, Sekebirus, dan lainnya.

Saat ini, kehancuran lingkungan sudah berada pada tahap yang sangat kritis, gunung-gunung sudah kehilangan hutan. Lereng-lereng gunung yang curam, hutan sudah digantikan kentang dan bawang. Ketika masih berupa hutan, air hujan ditangkap hutan, air hujan tidak langsung memercik di permukaan tanah, tapi membasahi daun, ranting, dahan, pohon, kemudian diresapkan akar menembus tanah sampai akar mampu menembusnya.

Akar pohon memeluk tanah dengan sangat kuat, menahan air tanah dengan sangat baik, sehingga dalam satu pohon menyimpan beberapa kubik butir-butir air dalam tanah, kemudian dikeluarkan secara teratur di mata air.

Kini, hutan berganti berganti wujud menjadi kebun sayur. Tak ada lagi pohon yang menangkap hujan, tak ada lagi akar pohon yang dapat memeluk tanah, dan tak ada lagi akar yang dapat meresapkan air ke dalam tanah. Air hujan mengalir deras di permukaan sambil menggerus tanah pucuk yang paling subur.

Kekayaan lahan subur itu hanyut ke lembah-lembah, mengendap di dasar sungai, di dasar danau, dan di muara sungai. Pada musim penghujan, air berlimpah melebihi daya tampungnya, meluap, banjir, dan longsor di mana-mana. Sebaliknya, pada musim kemarau, sungai-sungai kehilangan air, sumur-sumur terlihat dasarnya.

Gunung yang tak berhutan tak mampu lagi mengisi air tanah dalam yang akan bergerak puluhan ribu tahun melalui lapisan-lapisan batuan jauh di bawah permukaan tempat warga kota bermukim.

Sementara di perkotaan, hotel, apartemen, dan industri yang rakus air, menyedot air tanah dalam di luar ketentuan dan sering di luar kendali otoritas negara.

Ketidakseimbangan antara pasokan air dari gunung sebagai daerah tangkapan hujan, dengan penyedotan air tanah dan air tanah dalam di perkotaan yang berlebihan, telah menyebabkan kawasan perkotaan ada yang mengalami ambles.

Ketika butir-butir air masih terjaga keberadaannya di dalam tanah, mampu menopang lapisan batuan di atasnya, yang keadaanya semakin berat oleh berbagai bangunan. Akibatnya, karena terjadi penurunan muka air tanah dalam, maka akan terjadi penurunan muka tanah, yang berdampak pada konstruksi rumah, gedung, jalan raya, dan lain-lain.

Secara cepat, untuk melihat kerusakan ekologis di suatu kawasan, secara kasat mata dapat dilihat bagaimana keadaan sungainya. Karena sungai merupakan cerminan dari keadaan Daerah Aliran Sungai (DAS). Ci Tarum itu mempunyai potensi air baku sebanyak 13 miliar meter kubik per tahunnya. Tapi, ketika DAS itu hancur, maka perubahan akan nyata terlihat di aliran sungainya.

Jumlah air Ci Tarum pada musim penghujan sangat berlebih, sampai 81,4 miliar meter kubik. Sebaliknya, pada musim kemarau, air Ci Tarum tinggal 8,1 milyar meter kubik. Dan, air permukaan Ci Tarum menjadi sia-sia, menjadi tidak terpakai oleh warga karena sudah tercemari sejak hulu.

Kehancuran lingkungan dapat juga dilihat dengan nyata di situ-situ yang ada, seperti Situ Cileunca yang berada 45 km di selatan Kota Bandung. Situ Cileunca terdiri dari dua situ, yaitu Situ Cipanunjang dengan luas 210 ha dan Situ Cileunca yang luasnya 180 ha.

Situ ini membendung aliran Ci Leunca dengan tujuan utama sebagai sumber pembangkit tenaga listrik dan sumber air baku bagi warga Kota Bandung, dengan kapasitas air 9.89 juta m3.

Air di kedua situ itu menjadi sumber air baku bagi dua PDAM Kota Bandung dan PDAM Kabupaten Bandung.

Bila paras situnya turun sampai 5-6 meter, misalnya, apalagi lebih turun dari itu, sudah dapat dipastikan pasokan air baku bagi pelanggan PDAM akan sangat berkurang, atau sudah tidak mengalir lagi.

Krisis air bersih sangat erat hubungannya dengan keadaan lingkungan, khususnya keadaan hutan. Nampaknya krisi air di Cekungan Bandung akan semakin berat, karena lingkungan hutan yang semakin memburuk.

Rentetan dampaknya bukan hanya akan semakin menyulitkan warga untuk mendapatkan air, baik untuk pertanian, perikanan, dan kebutuhan sehari-hari.

Namun juga krisis air ini ini dapat berdampak pada masalah sosial-ekonomi-politik dengan rentetan dampak yang panjang. P

emulihan hutan merupakan langkah terbaik dalam upaya penyelesaian akar krisis air di Cekungan Bandung

Tulisan adalah kiriman netizen, isi tulisan di luar tanggung jawab redaksi.

Ayo Menulis klik di sini

Editor: Adi Ginanjar Maulana

artikel lainnya

dewanpers