web analytics
  

Facebook Bayar Influencer TikTok agar Pindah Main Reels

Kamis, 30 Juli 2020 10:39 WIB
Bisnis - Gadget, Facebook Bayar Influencer TikTok agar Pindah Main Reels, facebook,Instagram,Reels,TikTok,Donald Trump

Aplikasi Instagram milik Facebook telah meluncurkan aplikasi video pendek bernama Reels yang dinilai mirip dengan TikTok. Perusahaan tersebut juga telah menggaet para influencer TikTok dengan jutaan pengikut untuk pindah ke Reels. (Pixabay/Gerd Altmann)

NEW YORK, AYOBANDUNG.COM -- Aplikasi Instagram milik Facebook telah meluncurkan aplikasi video pendek bernama Reels yang dinilai mirip dengan TikTok. Perusahaan tersebut juga telah menggaet para influencer TikTok dengan jutaan pengikut untuk pindah ke Reels.

Aplikasi itu diharapkan bisa menggeser kepopuleran TikTok di Amerika Serikat seiring adanya pertimbangan dari pemerintah federal untuk melarang TikTok.

Dilansir di Forbes, Kamis (30/7/2020) dilaporkan bahwa Facebook telah meminta kreator TikTok untuk membuat konten eksklusif di Reels, dan meminta mereka mengunggah konten mereka terlebih dahulu di Reels.

Sebagai imbalan, setiap konten akan dihargai ratusan ribu dolar AS dan para kreator TikTok harus menandatangi surat kontrak atau perjanjian. Menurut seorang kreator, Facebook akan membayar lebih banyak untuk setiap konten yang diunggah eksklusif di Reels.

Seorang juru bicara Facebook mengatakan, ini menjadi salah satu jalan untuk membuat bintang baru di Reels.

"Kami memiliki riwayat panjang dalam menjangkau kreator baru, dan berusaha menghadirkan bintang-bintang baru," kata juru bicara tersebut.

Sadar posisinya terancam, sebelumnya TikTok juga telah menyiapkan 200 juta dolar AS atau setara Rp2,9 triliun untuk membayar para kreator TikTok. Dana ini dianggarkan di tengah masalah privasi, guna mempertahankan para kreator dan menggaet pengguna baru.

TikTok telah berulang kali membantah klaim telah membocorkan data penggunanya kepada pemerintah Cina. Pihak TikTok menegaskan bahwa melindungi privasi data penggunanya adalah prioritas utama.

Penasihat perdagangan Gedung Putih Peter Navarro mengatakan, Presiden Donald Trump akan mengambil tindakan keras terhadap TikTok dan aplikasi Cina lainnya karena dituduh telah membagikan data pengguna kepada otoritas Cina.

"Semua data pengguna yang dikumpulkan dari Amerika oleh TikTok, langsung tersambung ke server militer Cina. Partai Komunis Tiongkok dan perusahaan hanya ingin mencuri kekayaan intelektual kami," kata Navarro belum lama ini.

Pada awal Juli, Menteri Luar Negeri AS Mike Pompeo juga mengatakan, Pemerintah Federal AS akan membatasi TikTok dan aplikasi media sosial Cina lainnya. Pernyataan Pompeo itu seiring dengan keprihatinan dari senator Republik dan Demokrat yang menganggap TikTok sebagai ancaman bagi keamanan nasional AS.

Menurut Statista, hingga saat ini jumlah pengguna TikTok di AS mencapai 4,5 juta. Perusahaan statistik itu memperkirakan jumlahnya dapat terus tumbuh menjadi 60,3 juta pada tahun 2024.

Berita ini merupakan hasil kerja sama antara Ayo Media Network dan Republika.co.id.

Isi tulisan di luar tanggung jawab Ayo Media Network.

Editor: M. Naufal Hafizh

artikel terkait

dewanpers