web analytics
  

Daya Tarik Kopi di Pangandaran, Kolaborasi Wisata dan Kuliner

Rabu, 29 Juli 2020 13:39 WIB M. Naufal Hafizh
Gaya Hidup - Kuliner, Daya Tarik Kopi di Pangandaran, Kolaborasi Wisata dan Kuliner, Kopi Pangandaran,Petani kopi Pangandaran,Ekonomi & Bisnis

Pangandaran memiliki potensi komoditas kopi yang menjanjikan. Kopi ini bisa menjadi daya tarik wisata yang ampuh jika dikolaborasikan dengan paket pariwisata dan potensi kuliner Pangandaran lainnya. (Pixabay.com/jklugiewicz)

PANGANDARAN, AYOBANDUNG.COM -- Potensi komoditas kopi yang melimpah di Pangandaran membuat usaha kopi cukup menjanjikan. Sejak 2018, usaha kopi di Pangandaran mulai terlihat perkembangannya. Berbagai usaha kopi pun bermunculan, seperti beberapa kedai kopi yang berdiri di sekitar daerah wisata.

Komoditas kopi di Pangandaran tersebar di beberapa kecamatan, dengan estimasi luas perkebunan yaitu 350 hektare dan hasil panen kopi sekitar 250 ton per tahunnya. Kopi pun akhirnya menjadi salah satu daya tarik potensial untuk menarik wisatawan sekaligus meningkatkan pertumbuhan ekonomi masyarakat Pangandaran.

Tarli Sutarli (42), petani sekaligus pelaku usaha kopi di Pangandaran mengatakan demikian. Kopi bisa menjadi potensi wisata yang cukup menjanjikan di Pangandaran, “Potensi wisata dari kopi itu kalau dikolaborasikan sangat potensial, tinggal bagaimana mengemas dan membuat konsep yang jitu.”

Pemilik merek kopi Cap Bueuk ini menambahkan, butuh konsep pemasaran dan pengemasan produk kopi yang baik untuk menjadi daya tarik wisata tersebut. Salah satu konsepnya adalah dengan berkolaborasi dengan potensi kuliner di Pangandaran yang juga sangat menjanjikan.

Pangandaran merupakan destinasi wisata pantai yang sangat terkenal di Jawa Barat, bahkan wisatawan juga datang dari seluruh daerah di Indonesia maupun mancanegara. Kuliner menjadi salah satu faktor pendukung yang berpengaruh bagi daya tarik wisata tersebut. Jika kopi bisa dikolaborasikan dengan potensi kuliner yang besar tersebut, usaha kopi di Pangandaran akan terus berkembang.

“Jika kopi dikolaborasikan dengan kuliner lainnya, itu menjadi seksi. Contohnya paket wisata di Pangandaran bisa menyuguhkan coffee break atau menyediakan oleh-oleh kopi bubuk kemasan. Selain itu bisa juga bikin kedai-kedai kopi yang kreatif, misalnya bikin kopi perahu dan kegiatan ngopi di kebun kopi,” terang Tarli.

Hal yang sama juga dikemukakan Heru Darmaji, Kepala Kantor Perwakilan BI Tasikmalaya, ketika penyelenggaraan Festival Kopi Pangandaran dalam rangka memeriahkan hari jadi ke-7 Kabupaten Pangandaran, Jumat (25/10/2019).

Dilansir dari Republika.co.id, Heru menilai komoditas kopi masih satu kesatuan dalam pengembangan pariwisata. Artinya, kopi dapat disatukan dalam sebuah paket wisata. Saat ini, Kantor Perwakilan BI Tasikmalaya sedang mengembangkan paket wisata terintegrasi untuk wilayah Priangan Timur.

Dia menambahkan, dengan begitu produksi kopi dan kunjungan wisata ke Kabupaten Pangandaran akan saling melengkapi dan berkembang bersama. Ke depannya wisatawan datang bukan hanya untuk menikmati keindahan alam, tapi juga dapat disuguhkan kopi Pangandaran.

Saat ini Tarli beserta petani dan pelaku usaha kopi lain di Pangandaran berharap kualitas kopi di Pangandaran bisa bersaing dengan kopi dari daerah lain, terutama dari sisi citarasanya.

“Cita rasa kopi Pangandaran masih terus dikembangkan, karena membutuhkan proses laboratorium. Sekarang masih kurang jika dibandingkan dengan daerah lain seperti Bandung atau Garut,” ujar Tarli. (Fariza Rizky Ananda)

Editor: M. Naufal Hafizh
dewanpers