web analytics
  
Banner Kemerdekaan

Kampung Adat Mahmud, Pusat Penyebaran Islam di Bandung

Selasa, 28 Juli 2020 14:06 WIB Mildan Abdalloh

Kampung Adat Mahmud merupakan pusat penyebaran Islam di Bandung. (Ayobandung.com/Mildan Abdalloh)

MARGAASIH, AYOBANDUNG.COM -- Jika ada pertanyaan dari mana Islam mulai berkembang di Bandung? Kampung Mahmud adalah jawabannya. Sebuah kampung yang berada di pinggiran Sungai Citarum, Kecamatan Margaasih, Kabupaten Bandung.

Pemberian status kampung adat tidak terlepas dari beberapa pakem yang dijaga masyarakat di Kampung Mahmud, seperti dilarang membangun rumah permanen, sampai menggali sumur.

Telepas dari itu semua, Kampung Adat Mahmud merupakan pusat penyebaran Islam di Bandung. Pada abad 15 Masehi, Eyang Dalem Abdul Manaf, putra dari Eyang Dalem Nayaderga--keturunan ketujuh Sunan Gunung Djati Cirebon--mendirikan perkampungan di sebuah tempat terpencil yang sekarang dikenal sebagai Kampung Mahmud. Penamaan Mahmud diambil dari sebuah tempat di Makkah.

"Di sinilah Eyang Dalem Abdul Manaf menyebarkan Islam," ujar sesepuh Kampung Adat Mahmud, Nuron, Senin (27/7/2020).

Dari kampung tersebut, Islam disebarkan baik di kawasan Bandung bahkan Priangan.

Menurut Nuron, dalam merintis penyebaran Islam, di Bandung dan Priangan, Eyang Dalem Abdul Manaf didampingi 2 muridnya, Eyang Agung Zainal Arif dan Eyang Abdullah Gedug.

Eyang Agung Zainal Arif adalah putra dari Eyang Asmadin dan keturunan keempat Syeikh Abdul Muhyi dari Pamijahan, Tasikmalaya.

Dalam menjalankan tugasnya, beliau diberi perintah oleh Eyang Dalem Abdul Manaf untuk bertapa di 33 gunung di sekitar Kampung Mahmud selama 33 tahun, dan selanjutnya bersama-sama menyebarkan agama Islam di Jawa Barat.

Sementara itu, Eyang Abdullah Gedug adalah murid yang dididik secara langsung oleh Eyang Dalem Abdul Manaf. Dari ketiga orang tersebut, ajaran Islam meluas di wilayah Bandung.

Hingga saat ini, masyarakat di Kampung Adat Mahmud masih taat menjalankan perintah agama.

Kesederhanaan dan Religius

Masyarakat Kampung Mahmud masih memegang teguh warisan budaya leluhur, yakni kesederhanaan, keramahan, dan masyarakat religius.

Kesederhanaan yang ditampilkan adalah masih mempertahankan bangunan atau rumah tradisional yang sarat akan filosofi hidup sederhana dan religius.

Rumah hanya boleh dibangun dari bahan utama kayu dan bambu bahkan menghindari penggunaan kaca, genteng, juga tembok.

Bukan tanpa sebab, Nuron menjelaskan, rumah di muka bumi hanya sebagai tempat tinggal sementara sebelum menetap di akhirat nanti. Dari rumah yang sederhana ini, tercermin masyarakat yang religius.

"Dengan rumah panggung yang mencerminkan kesederhanaan, rasa iri dengki dan sombong tidak akan muncul dalam masyarakat," ujarnya.

Sejumlah masyarakat Kampung Adat Mahmud memang sudah tidak menjalankan pakem-pakem adat, namun sebagian masih tetap mematuhinya. Kampung Mahmud masih dianggap sebagai awal peradaban islam di Bandung.

Editor: M. Naufal Hafizh
dewanpers