web analytics
  
Banner Kemerdekaan

Perjuangan Mama Djana Mempertahankan Eksistensi Tarling Klasik

Selasa, 28 Juli 2020 13:29 WIB Netizen Melly Yustin Aulia

Mama Djana, Maestro Tarling Klasik. (Melly Yustin Aulia)

Melly Yustin Aulia

Mahasiswi Jurnalistik, Universitas Padjadjaran.

AYOBANDUNG.COM -- Sudjana Partanain (84) atau yang terkenalnya dengan panggilan Mama Jana, sudah lama menggeluti dunia tarling klasik. Ia merupakan maestro Tarling Klasik di Kota Cirebon. Meski sekarang tubuhnya sudah tidak bugar seperti dahulu, ia mendedikasikan hidupnya untuk mempertahankan tarling klasik dari kepunahan.

Saat itu, Kamis pagi (16/7/2020), beberapa anggota Kelompok KKN Virtual Universitas Padjadjaran bertemu Djana bersama cucunya, Arif Muarif (25) sedang duduk santai di pelataran halaman rumahnya dengan ditemani cuitan burung yang bersahutan. Rumahnya terletak di Gang Melati VII Nomer 28, Jalan Kapten Samadikun, Kelurahan Kebon Baru, Kecamatan Kejaksan, Kota Cirebon. Rumahnya cukup tersembunyi karena memasuki gang-gang yang berkelok dari jalan besar.

Di tempat sederhana ini ia membangun Sanggar Tarling Klasik Candra Kirana, sebuah grup yang ia dirikan pada tahun 2008. Sanggar tarling klasik itu biasa melakukan latihan seminggu sekali dengan total ada 17 anggota.

Umurnya yang sudah memasuki usia senja, Djana masih aktif memetik gitar dengan alunan tarling klasik, mengingat Sanggarnya sering mengadakan latihan mingguan. Kecintaannya pada tarling dimulai pada tahun 1946, dia mengeksplorasi tarling hingga menemukan melodi dalam lantunan lagu khas Cirebon, yaitu Kiser.

tarling-candra-kirana.jpg" />
Sanggar Tarling Candra Kirana. (Melly Yustin Aulia)

 

Masa Keemasan Tarling

Dari ciptaannya tersebut, Djana banyak mentorehkan karya musik tarling klasik. Namun seiring dengan perkembangan zaman, musik Tarling berevolusi menjadi tarling dangdut dan orang tunggal. Menurut Mama Djana, masyarakat pada tahu Tarling itu Tarling Dangdut. Hal itu membuat seolah ekesistensi Mama Djana memudar.

“Bagi saya sih, Tarling sedang tidur. Dahulu banyak penggemarnya, ramai,” ujar Mama Djana saat menceritakan masa emas Tarling.

Djana merupakan generasi ke-2 Tarling Klasik setelah Sugra dan Barang. Secara tak langsung, ia belajar Tarling dari Barang. Kecintaanya pada tarling terjadi lantaran banyak waktu dihabiskan untuk bermain tarling bersama rekan seniman dulu.

Tahun 1940 hingga 1970-an, Djana banyak sekali mendapatkan tawaran manggung. Bahkan, ia mengaku, tak ingat lagi berapa kali telah manggung.

Selain manggung, ia pernah menjadi pemimpin sekaligus pelatih di kelompok tarling Bhayangkara binaan Polres Kota Cirebon. Ia juga pernah membawahi kelompok tarling yang dibina Komando Rayon Militer Gunung Jati, Cirebon. Djana memang kerap mengganti tempat melatih agar banyak yang mahir melodi Tarling dengan harapan daerah penyebaran Tarling pun meningkat.

“(menyebarkan tarling) sampai daerah Brebes, Purwokerto, Lampung,” tutur Djana.

Meski waktu itu sedang tren lagu dari penyanyi luar, eksistensi tarling tetaplah tak terkalahkan. Para pemuda pada zaman itu berlomba-lomba untuk dapat mahir tarling khususnya gitar agar dianggap keren.

“Jadi memang seperti yang pernah Mang Djana ceritakan ke saya, saya ngebayangin di tahun segitu, khususnya di daerah Cirebon, anak mudanya memang menggemari musik justru tarling. Padahal menurut saya di tahun segitu juga mungkin sedang jaya-jayanya musik Metallica, Elvis Presley,jelas Arif.

Hal itu berbanding terbalik dengan keadaan sekarang. Tawaran manggung pun tidak ada, apalagi ketika pandemi Covid-19 ini—hampir seluruh seniman terdampak. Biasanya mendapat panggilan untuk meriahkan hajatan, sekarang sama sekali nihil. Dibalik itu semua, semangat Djana dalam menyebarkan tarling klasik tak akan pernah luntur, meski terhimpit dengan kebutuhan ekonomi. 

Karya Djana sebenarnya ada beberapa yang teah dipublikasikan, namun Sanggar Candra Kirana tidak sama sekali mendapat royalti dari itu. Arif sendiri memiliki itikat untuk mendigitalisasi seluruh karya kakeknya agar orang-orang dapat menikmati tarling. Sayangnya di Sanggar Candra Kirana belum ada yang mengerti mengenai publikasi karya di internet.

Membawa nama Sanggar Candra Kirana ke internet adalah salah satu tugas dari kelompok KKN Virtual Universitas Padjadjaran. Kelompok KKN dengan topik Pemetaan profil Objek Pemajuan kebudayaan di Kota Cirebon ini dibimbing oleh Prof. Dr. Reiza D. Dienaputra M.Hum., secara virtual. Kemudian dengan segala cara mencoba untuk memunculkan nama Sanggar Candra Kirana ke media sosial, dengan harapan untuk menyebarkan informasi tentang tarling klasik dan Sanggar Candra Kirana.

Sementara itu, Djana memberikan tongkat kepenurusannya kepada cucunya, Arif. Pemuda tersebut menempati posisi gitar, sama seperti kakeknya. Arif banyak menjelaskan tentang tarling dan masa lalu Djana saat masih aktif manggung dulu. Ia pun sangat berharap Sanggar Candra Kirana agar dapat eksis lagi, salah satu caranya dengan membangkitkan sosial media.

Keluarga Djana sebenarnya tidak menginginkan maestro tarling itu untuk melakukan kegiatan berat, kini ia banyak menghabiskan waktu di rumah dengan berlatih gitar dengan alunan tarling klasik sembari mengajar ilmunya.

Kurangnya Perhatian Pemerintah Kota

Dedikasi Djana terhadap tarling memang tidak terkalahkan, seperti kata-kata yang dibuat pecinta musik tarling, “Tarling Never Die”. Namun sayang sekali pemerintah kota tidak melakukan hal yang sama. Padahal tarling adalah produk asli aliran musik daerah Cirebon.

“Ya sayangnya pemerintah sini kurang mendukung,” ungkap Djana.

Beberapa tahun lalu Djana mendapatkan bantuan dan penghargaan dari Pemprov Jawa Barat untuk merenovasi rumahnya dan membeli peralatan musik baru. Namun sampai saat ini, Sanggar Candra Kirana berusaha membangun Tarling kembali tanpa ada campur tangan dari pemerintah Kota Cirebon.

Mereka sangat berharap apabila tarling dimasukan ke dalam kurikulum pendidikan daerah. Karena Djana fokusnya terhadap keberlanjutan tarling dan menaikkan minat generasi muda terhadap tarling.

“Sebenarnya enggak salah juga mempelajari musik yang lain, bahkan alangkah lebih baiknya mempelajari musik daerah kita sendiri. Jadi kalau ditanya orang kita kan gak malu,” pungkas Arif.

Arif kemudian menjelaskan, di sektor pariwisata Kota Cirebon juga hal yang penting untuk meningkatkan eksistensi seniman di Kota Cirebon. Misalnya tarling dimasukkan sebagai lagu penerima tamu di hotel. Meski hanya seminggu sekali, itupun dapat membantu seniman tarling untuk tetap berkarya.

Terakhir, Djana menitipkan pesan untuk generasi muda agar mau untuk melestarikan budaya dan seni daerah sendiri. Tarling baginya memiliki pesan hidup yang baik, sehingga jangan sampai hilang. “Ayo hidupkan kembali seperti sedia kala, seperti tahun-tahun sebelumnya, tarling itu pesat. Hidupkan kembali budaya kita sendiri. Kalau bukan kita kan siapa yang akan mengangkat budaya kita,” tutur Djana.

Tulisan adalah kiriman netizen, isi tulisan di luar tanggung jawab redaksi.

Ayo Menulis klik di sini

Editor: M. Naufal Hafizh
dewanpers