web analytics
  

Indigo Film Lab dan Eksistensi Fotografi Analog di Zaman Modern

Jumat, 24 Juli 2020 11:00 WIB M. Naufal Hafizh
Bandung Raya - Bandung, Indigo Film Lab dan Eksistensi Fotografi Analog di Zaman Modern, Indigo Film Lab Bandung,Kamera Analog,Fotografi,Pasar Cikapundung,Kokoreh Analog

Ahong dan suasana kios Indigo Film Lab yang terletak di Pasar Cikapundung, Bandung. Indigo Film Lab merupakan jasa develop dan scan film analog yang saat ini sedang menjadi tren di kalangan generasi muda. (Fariza Rizky Ananda)

SUMUR BANDUNG, AYOBANDUNG.COM -- Foto analog mulai banyak digandrungi masyarakat. Kamu mungkin suka melihat teman, kerabat, atau kenalanmu mengunggah hasil jepretannya menggunakan kamera analog di media sosial, atau mungkin kamu salah satunya pengguna kamera analog ini.

Walaupun zaman semakin modern, dengan perkembangan gadget yang terus menerus melakukan pembaharuan. Smartphone, laptop, bahkan alat rumah tangga pun semakin canggih dari waktu ke waktu. Namun hal tersebut tidak menghentikan tren fotografi analog di kalangan generasi muda.

Terutama di kalangan generasi milenial dan z, fotografi analog ini sudah menjadi semacam gaya hidup baru yang menentukan gaul atau tidaknya orang tersebut. Hal ini dikatakan oleh Ahong, praktisi fotografi analog sekaligus pemilik Indigo Film Lab Bandung.

“Berbicara analog untuk sekarang sih sudah kayak fashion sebenarnya. Jadi mungkin terpengaruh media sosial, semacam gaya hidup baru,” ujarnya.

Ahong mengatakan, para pengguna baru kamera analog tersebut bermacam-macam latar belakangnya, ada yang benar-benar menekuni fotografi, ada juga yang sekedar penasaran dan main-main saja. Tapi dia mengakui bahwa perkembangannya cukup pesat dan kompleks.

Untuk siklus perkembangannya, Ahong yang memang sangat memerhatikan karena memiliki jasa cuci foto analog, terdapat tiga gelombang perkembangan fotografi analog ini. Gelombang pertama merupakan pengguna pertama yang menggunakan kamera analog zaman dahulu.

Gelombang kedua adalah angkatan seumuran Ahong, yang menekuni fotografi analog sudah lumayan lama dan termasuk generasi milenial. Lalu para pengguna baru saat ini termasuk gelombang tiga, generasi z yang akrab dengan media sosial.

Walaupun semakin banyak penggunanya, tidak bisa dipungkiri bahwa banyak pengguna yang hanya ikut-ikutan saja dan tidak terlalu mendalami fotografi analog ini. Menurut Ahong, fotografi analog tidak hanya sekedar jepret dan scan saja, namun banyak tahapan lain yang tidak banyak orang mengetahuinya.

“Kalau yang sekarang sedang terjadi, saya bisa bilang analog setengah, karena terhenti sampai scan saja dan masuk ranah digital. Kalau benar-benar murni analog, itu tahapannya sampai dark room dan develop. Kayak proses di kamar gelap itu baru pure analog,” tuturnya.

Ahong dan temannya, Jay, mendirikan Indigo Film Lab berangkat dari hobi dan keinginannya untuk mempertahankan eksistensi analog di kalangan generasi muda. Jasa cuci cetak film (develop) yang terletak di Pasar Cikapundung ini lahir dari sebuah komunitas bernama Kokoreh Analog.

Karena mereka melihat jasa develop dan scan untuk film hitam putih sangat jarang dan prosesnya masih sangat lama, mereka pun awalnya mendirikan Indigo Film Lab ini dikhususkan untuk film hitam-putih. Namun seiring waktu, mereka pun menerima film color atau berwarna.

“Tapi niatnya memang tidak cari keuntungan, cuma ingin sharing agar nyawa analog ini ada terus, meskipun susah tantangannya dan butuh proses sedangkan saat ini kan ibaratnya milenial, serba cepat, ekstra cepat,” ucap Ahong.

Konsumen Indigo Film Lab pun beragam, dari mulai praktisi profesional, generasi tua atau senior, sampai pelanggan dari generasi muda. Bahkan ia pernah menerima permintaan dari anak berumur 5 tahun. Mereka biasanya mendapatkan sekitar 10 pelanggan tiap harinya, dan 50-60 pelanggan per minggu. Mereka juga rutin mengadakan sharing dan pelatihan mengenai fotografi analog.

Karena basis mereka bukan mencari keuntungan, Ahong pun mengatakan tidak ada keuntungan yang besar dari bisnis ini, “Karena awalnya kami bukan ingin berbisnis yang menguntungkan, namun kami selalu all out service. Ada sih untung-untung sedikit, cuma untung berlebih dari operasionalnya itu hampir tidak ada.”

Tentunya Ahong memiliki harapan untuk perkembangan fotografi analog ini. Dia menegaskan, dalam fotografi tidak ada yang dinamakan foto jelek atau bagus, namun karena analog tidak seperti foto digital yang mudah dihapus, penggunanya harus lebih menghargai proses.

“Sebenarnya harapan saya tidak muluk, untuk pengguna analog coba lebih menghargai proses karena dari situ bisa belajar apa arti fotografi sesungguhnya. Kalau dibanding dengan digital ya mungkin lebih hati-hati lagi atau lebih peka lagi sama lingkungan sekitar,” tuturnya. (Fariza Rizky Ananda)

Editor: M. Naufal Hafizh

artikel terkait

dewanpers