web analytics
  

Kondisi Atlet Paracycling di Tengah Pandemi dan Keterbatasan

Jumat, 24 Juli 2020 06:24 WIB M. Naufal Hafizh
Olahraga - Sport, Kondisi Atlet Paracycling di Tengah Pandemi dan Keterbatasan, Atlet,Dampak Corona,PSBB,Paracycling,Sepeda

Atlet Paracycling asal Bandung, Sufyan Saori, menjelaskan kekhawatirannya karena wabah Covid-19 membatasi intensitas latihannya. Pembatalan berbagai ajang pertandingan juga memengaruhi performa dan mentalnya. (Dokumentasi pribadi/Sufyan Saori)

LENGKONG, AYOBANDUNG.COM -- Dibatalkannya sejumlah ajang olahraga, nasional maupun internasional, dirasakan  hampir semua cabang olahraga. Tidak terkecuali cabor Paracycling atau balap sepeda untuk atlet disabilitas.

Paracycling merupakan cabang olahraga bersepeda yang disesuaikan untuk pengendara sepeda yang memiliki berbagai jenis kedisabilitasan. Cabor tersebut dibawah naungan Union Cycliste Internationale (UCI).

Olahraga ini terdiri dari tujuh acara berbeda yang meliputi balap jalan dan trek. Para pesepeda elite dunia bersaing di Kejuaraan Track and Road Worlds (sejak 1994), Paralympic Games, dan Piala Dunia (sejak 2010).

Sufyan Saori, atlet pelatnas Indonesia untuk cabor Paracyling asal Bandung, mengungkapkan kekhawatirannya karena pandemi Covid-19 ini. Dia seharusnya mengikuti sejumlah ajang pertandingan, salah satunya adalah ASEAN Para Games 2020.

“Tahun lalu saya sudah masuk training center untuk ajang ini di Filipina. Seharusnya sudah terlaksana November lalu dan khusus disabilitas di bulan Januari kemarin. Tapi mungkin karena pihak negaranya belum siap, alhasil diundur. Rencananya Maret, eh ternyata keburu ada Covid-19 ini jadi diundur lagi,” tuturnya.

Walaupun kondisi tidak terduga yang membuat pembatalan pertandingan tersebut, para atlet dituntut harus tetap menjaga produktivitas latihannya. Sufyan mengatakan, dia tetap latihan walaupun banyak keterbatasan yang menghadangnya.

“Secara fisik latihannya jadi terbatas, biasanya kalau sepeda itu enaknya latihan outdoor, jadi agak terhambat soalnya setiap kota atau tempat tertentu ditutup ya jadi tidak bisa berlatih dengan maksimal. Paling alternatifnya ya latihan di rumah,” ucapnya.

Selain itu, dia kerap merasakan beban mental yang cukup berat. Karena pembatalan pertandingan dan tidak ada kepastian kapan keadaan akan menjadi normal kembali, Sufyan merasa tidak ada saluran bagi hasil latihan yang selalu dia jalani.

“Karena buat apa kita latihan kalau tidak ada pertandingan, percuma saja gitu. Jadi sekarang latihan untuk menjaga fisik saja biar tidak terlalu drop, biar nanti kalo ada event bisa lebih cepat pemulihannya,” ujarnya.

Pada keadaan normal, Sufyan mengaku memiliki porsi latihan yang sangat padat dan intensif. Bersepeda identik dengan kegiatan outdoor, maka Sufyan pun sering berlatih di jalanan. Setiap harinya ia bisa bersepeda dengan jarak mulai dari 70-200 km.

Selain latihan bersepeda outdoor, Sufyan juga tetap menjaga kebugaran tubuhnya dengan rutin melakukan recovery setiap hari kamis, stretching, istirahat yang cukup, dan makan dengan teratur.

Namun setelah ada wabah Covid-19, intensitas latihan Sufyan menurun drastis. Terutama ketika ada kebijakan PSBB yang membatasi masyarakat untuk berkendara dan ada pengecekan oleh Satgas di beberapa titik daerah, hal tersebut pun menghambat latihan outdoor Sufyan.

“Program latihannya jadi maksa, intensitasnya rendah, jadi terbatas pastinya untuk kegiatan latihannya, ke mana-mana jadi susah karena takut tertular virus, takut nularin ke orang di rumah, dan yang pasti banyak jalanan ditutup,” kata Sufyan.

Sufyan bersyukur karena masih memiliki fasilitas pribadi untuk latihan di rumah. Walaupun terbatas, setidaknya dia bisa tetap menjaga performa dan kebugarannya.

“Alhamdulillah punya fasilitas latihan di rumah, punya dua sepeda, training wahoo, dan roller. Itu semua peralatan pribadi soalnya tidak ada bantuan dari pemerintah pusat atau daerah untuk menunjang latihan di rumah dan fasilitas olahraga umum juga ditutup,” ucapnya.

Selain latihan menggunakan fasilitas pribadi, Sufyan tetap berolahraga dalam pantauan pelatih. Biasanya dia meminta program latihan kepada pelatihnya, namun tidak jarang juga ia menggunakan program pribadi. Tergantung kondisi tubuhnya sendiri.

Mengenai kualitas performa selama latihan indoor ini, Sufyan merasakan kekhawatiran jika nanti kembali bertanding di ajang nasional maupun internasional.

“Sudah pasti ada kekhawatiran performa menurun, hanya saja pintar-pintar kita untuk menaikkannya lagi. Setelah wabah ini kita rencanain lagi periodisasi latihannya untuk menata program-program yang terhambat,” jelas Sufyan.

Sufyan juga khawatir jika kondisi seperti ini akan berkepanjangan, terutama jika PSBB terus diperpanjang, ia tidak bisa kembali berlatih normal dalam waktu yang panjang, “Apalagi takutnya kalau di Indonesia masih parah kondisi wabahnya tapi di luar negeri sudah mulai membaik, otomatis kita benar-benar harus maksa latihan dari sekarang.” (Fariza Rizky Ananda)

Editor: M. Naufal Hafizh

artikel terkait

dewanpers