web analytics
  

Mengubah Mental Mengemis dengan 'Pesantren Jalanan' Sunan Ambu

Kamis, 23 Juli 2020 18:04 WIB Eneng Reni Nuraisyah Jamil
Umum - Pendidikan, Mengubah Mental Mengemis dengan 'Pesantren Jalanan' Sunan Ambu, Berita Bandung,Pengemis,Kampung Pengemis Bandung,Universitas Islam Negeri (UIN) Sunan Gunung Djati (SGD) Bandung

Heny bersama peserta pembinaan kaum marjinal. (Ayobandung.com/Dok. Pesantren Sunan Ambu)

LENGKONG, AYO BANDUNG.COM -- Masyarakat mempunyai cara pandang tersendiri dengan fenomena pengemis. Umumnya pengemis dianggap sebagai pekerjaan yang hina. Maka tak jarang titel sosial "sampah masyarakat" disandang pengemis.

Di sisi lain, kelompok marginal ini menganggap mengemis sebagai solusi untuk keluar dari masalah pengangguran dan kemiskinan. Malah, tak jarang di antara mereka ada yang menjadi kaya dengan memiliki rumah mentereng hingga tabungan melimpah, gara-gara kedok mengemis.

Mental mengemis ini pernah terungkap pada 2019 usai ditemukannya sosok pengemis tajir dengan kekayaan Rp1 miliar di Pati, Jawa Tengah. Legiman, kakek yang mengemis di Pati, memanfaatkan simbol kemiskinan untuk meraup untung. Dia tidak perlu bekerja keras untuk mendapat banyak uang.

Dari sini, revolusi mental dan keagamaan menjadi kunci mengubah mental mengemis. Temuan pengemis tajir ini pun adalah bagian dari anomali masyarakat.

Secara historis kaum yang merepresentasikan dirinya miskin dan menderita itu sudah ada dan menjadi kebiasaan raja Jawa yang memberi sedekah pada hari Kamis. Itu pula menjadi akar kata mengemis dari bahasa Jawa yakni Kemis yang berarti hari Kamis.

Konsep penolakan masyarakat terhadap mental ini sejalan dengan pemikiran Karl Marx, seorang filsuf, ekonom, sejarawan, pembuat teori politik, sosiolog, jurnalis dan sosialis revolusioner asal Jerman. Dia menyebut bahwa manusia merealisasikan diri hanya dalam khayalan agama. Karena struktur masyarakat nyata tidak mengizinkan manusia merealisasikan diri dengan sungguh-sungguh.

Dari kegelisahan inilah yang membuat dosen Fakultas Dakwah dan Komunikasi UIN Sunan Gunung Djati, Bandung, Heny Gustini Nuraeni membuat sebuah 'pesantren' khusus untuk mengubah mental kelompok marginal. Pesantren itu dinamainya, Yayasan Siti Hajar atau yang kerap disebut Pesantren Sunan Ambu. Pesantren ini kini ditujukan untuk memberikan pendidikan dan pembentukan karakter demi menghilangkan mental mengemis dan berusaha membantu memperbaiki keadaan sosial dari kelompok marginal.

Jangan bayangkan Pesantren Sunan Ambu berdiri dengan bangunan besar serta ratusan santri. Pesantren ini memiliki sistem tak menginap atau menetap. Bahkan tempat untuk mengajar hanya memanfaatkan halaman rumah dari sang pendiri yayasan. Para tenaga pengajarnya pun biasanya dari relawan mahasiswa hingga rekan Heny yang konsen dalam urusan edukasi dan sosial.

Singkat cerita, pada 2 September 2000, Heny mendirikan Yayasan Siti Hajar. Pada awal pembentukan, yayasan ini masih diperuntukan untuk anak-anak dari keluarga tidak mampu untuk mendapatkan pendidikan agama.

Namun pada 2013, jalan Heny untuk mendalami kehidupan sosial masyarakat marginal kian terbuka. Untuk kebutuhan disertasinya, Heny melakukan studi dengan memetakan pengemis di Kota Bandung. Dalam risetnya kala itu, Heny mencari tahu bagaimana pengemis memanfaatkan agama sebagai komoditi. Dalam penelitiannya, pengemis mempunyai gaya hidup hedonis serba materi, agama hanyalah belaka.

Awalnya penelitian terbatas hanya di Kelurahan Sukabungah. Daerah ini sering disebut pula sebagai “Kampung Pengemis”. Tepatnya terdapat di RW 04 dan di RW 11 (Cibarengkok).

"Saat itu, saya keukeuh dari awal hanya berpikir saya ingin menulis tentang keberagamaan pengemis. Kita memotret tentang bagaimana cara beragama para pengemis ini, pelaksanaannya sebagian seorang muslim, karena rata-rata mereka muslim, mengaku beragama Islam," kata Heny kepada Ayobandung.com, Rabu (22/7/2020).

Dari riset ini keinginan Heni untuk semakin mendalami keberagamaan pengemis kian tinggi. Dia terus menjalin komunikasi dengan para pengemis. Yang tadinya hanya sekadar informan, kemudian berubah menjadi kawan.

Bukan hanya untuk sekadar berkawan, rupanya Heny memiliki misi terpendam. Dia semakin tergerak untuk memberikan pembinaan secara mendalam bagi para pengemis ini dengan kehadiran Pesantren Sunan Ambu. Alhasil, dia menyebut, pesantrennya 'Pesantren Jalanan'.

"Seringkali saya hanya datang dari satu tempat ke tempat yang lain. Face to face aja gak sistem kumpul, karena mereka sangat sulit (dikumpulkan) jadi kita bidik satu demi satu. Saya juga melihat kehidupan anak jalanan maka akhirnya terinisiasi aja dari situ bahwa saya harus mendirikan sebuah pesantren jalanan,"

Heny menyakini, dengan cara ini dia bisa melakukan pengabdian manusia kepada Tuhan. Dia ingin memanfaatkan ilmu pengetahuan dan idenya demi mengabdikan diri kepada masyarakat. Dia meyakini, berdakwah bisa dengan cara apapun dan di mana pun. Dengan 'Pesantren Jalanan' ini juga dia bisa mengabdi kepada masyarakat dan membuat perubahan di lingkungan.

"Pesantren Sunan Ambu ini awalnya ingin bisa memberikan pendidikan kepada mereka. Baik kepada pengemis, mantan pengemis, anak jalanan sehingga saya memfokuskan ke marginal, ke orang-orang terpinggirkan secara sosial," katanya.

Akhirnya, pada 2016 Pesantren Sunan Ambu dibentuk untuk fokus melakukan pembinaan bagi kelompok marginal ini. Namun perjalanannya tidak selalu mulus. Sunan Ambu masih terkendala biaya operasional hingga kini. Maklum, Heny hanya mengandalkan biaya pribadi atau swadaya dari rekan atau donatur yang jumlahnya sangat terbatas.

Karenanya, Heny mengakui, hingga kini Pesantren Sunan Ambu belum sampai pada tahap membantu permodalan para mantan pengemis. Padahal tujuan pemberian modal itu tak lain untuk memberikan bantuan modal usaha agar para mantan pengemis ini tak turun kembali ke jalan.

"Setidaknya bila mulai usaha, mereka bisa menghidupi keluarga dengan cara baik. Kalaupun di antara mereka ada yang kaya minimal mereka berhenti dan memanfaatkan kekayaan mereka yang sudah dapatkan. Jangan terus berbohong, berdusta," katanya.

Heny juga mengungkapkan, risetnya untuk Pesantren Sunan Ambu cukup panjang dan tak akan berhenti. Dia bahkan melakukan riset ke berbagai tempat, mulai dari kawasan pengemis hingga pelacuran. Dia sadar, hasil pembinaannya tak akan langsung berbuah manis. Karenanya, dirinya mengikuti naluri kelompok marginal ini.

"Kita kalau sampai sekarang untuk mengubah satu orang saja sulit, dan bagaimana acaranya kita mengubah tanpa mereka merasakan bahwa saya sedang mengubah mereka. Kita kan tidak bisa maksa mereka, dan saya tidak mau memaksakan mereka untuk berhenti. Tapi saya ingin mereka berhenti karena keinginannya pribadi," ungkap sosok yang karib disapa Ambu ini.

Dari risetnya pula, dia tahu, para pengemis tidak benar-benar menghayati keagamaan yang mereka anut. Ritual keagamaan tidak mengubah pola pikir dan cara hidup mereka yang tetap memilih menjadi pengemis. Bahkan sesudah kaya pun mereka tetap saja mengemis, bahkan aktivitas itu ditularkan kepada keturunannya hingga empat generasi

Bahkan dalam risetnya, dia menemukan di kalangan pengemis, mereka melakukan modifikasi terhadap ajaran-ajaran agama sehingga mampu menghasilkan keuntungan secara ekonomi sesuai dengan keinginan dan harapan mereka.

"Sebenarnya kan mengemis ini bukan lagi kemiskinan persoalannya ya, saya menyebutnya bahwa mengemis itu sudah menjadi kebudayaan. Karena mereka ada dalam satu keluarga itu sudah 4 generasi itu sudah menjadi sebuah kebiasaan. Dari satu keluarga di situ, turun-temurun," katanya.

Karenanya, pesantrennya pun tidak membidik persoalannya dari segi kemiskinan. Menurutnya, mental mengemis dari para pengemis ini adalah mental minta-minta yang mesti diubah dan diberantas.

Dia ingin menanamkan pada kelompok marginal ini agar bangkit dan sadar, tangan di atas lebih baik daripada tangan di bawah. Menjaga harga diri lebih baik daripada menjatuhkan kehormatan hanya demi sesuap nasi.

"Kan kalau dari segi kemiskinan, harusnya saat orang itu baik sebagai pelacur, pengemis, ketika sudah kaya harus berhentikan. Ini kan gak berhenti, malah diturunkan karena merasa bahwa menjadi pengemis itu merasa sudah nyaman, sudah enak, modalnya hanya sedikit, rasa malunya mungkin juga hilang dan lain sebagainya," ucap Ambu.

Karenanya dia, berharap bisa terus memberikan pengabdian yang terbaik kepada mereka yang membutuhkan uluran tangan untuk berubah menjadi lebih baik. Dia juga berharap masih banyak orang yang mau bekerja sama dan ingin membantu menciptakan kehidupan yang layak bagi masyarakat kecil.

"Saya hanya berpikir sederhana saja bahwa membuat pesantren tidak perlu ada masjidnya. Dan Pesantren Sunan Ambu itu harus menjadi pesantren yang berbeda. Artinya di dalamnya itu nanti ada pelatihan khusus anak jalanan, pelatihan khusus untuk mereka yang sudah tidak mengemis, memberikan pendidikan keagamaan secara khusus. Mudah-mudahan ke depan kita bisa kerja sama dengan pemerintah, kelembagaan agama, dari pihak usaha juga untuk pembinaan," ucapnya.

"Dan program yang dijalankan tetap saya masih fokus di keberagamaannya. Jadi jangan sampai mereka itu hanya mengerti ekonomi, hanya mengerti makan, hanya mengerti cari duit, tapi bagaimana mereka itu melakukan sesuatu itu sebagai bentuk ibadah. Kalau mereka sudah kuat keagamaannya, alhamdulillah, menurut mereka merasa lebih nyaman gak takut sama satpol PP. Dan Insya Allah juga kita akan membentuk koperasi nanti di Sunan Ambu ini," ujarnya.

Editor: Ananda Muhammad Firdaus

artikel terkait

dewanpers