web analytics
  

Kasihan Polri!

Kamis, 23 Juli 2020 05:18 WIB Netizen Sjarifuddin Hamid

Ilustrasi (Pixabay)

Sjarifuddin Hamid

Lulusan Jurusan Hubungan Internasional, FISIP-UI. Pernah bekerja pada beberapa surat kabar nasional.

AYOBANDUNG.COM -- Nama baik lembaga penegak hukum, terutama Polri, terpuruk ke titik yang belum pernah terjadi sebelumnya. Tiga penyandang bintang satu dikaitkan dengan kemudahan Djoko Tjandra wira-wiri di Tanah Air. Padahal Djoko merupakan terpidana kasus hak tagih (cessie) Bank Bali yang berstatus buron Kejaksaan Agung sejak 11 tahun lalu.

Ketiganya melakukan pelanggaran kode etik dan lalai dalam mengawasi staf, kata Karopenmas Divisi Humas Polri Brigjen Awi Setijono pada Jumat, 17 Juli 2020.

Dua Pati dimutasi berdasarkan surat telegram nomor ST/2076/VII/KEP/2020 yang ditandatangani oleh Asisten Sumber Daya Manusia (SDM) Polri Irjen Sutrisno Yudi Hermawan atas nama Kapolri tertanggal 17 Juli 2020.

Seorang Pati lagi yang memberi surat jalan kepada Djoko Tjandra juga dimutasi. Bukan hanya itu, Kabareskrim Polri Komjen Listyo Sigit Prabowo menegaskan akan melakukan pemidanaan.

Tak Betah di Negeri Orang?

Djoko Tjandra disebut memiliki kewarganegaraan Papua Nugini yang merupakan negara anggota Persemakmuran. Kemungkinan pemilikan paspor negara tetangga itu membuat Djoktjan leluasa ke anggota Persemakmuran yang lain, termasuk Malaysia. Uniknya, ia masih juga ingin kembali ke Indonesia. Awalnya adalah melakukan Peninjauan Kembali (PK).

Djoktjan datang ke Indonesia pada 8 Juni lalu untuk mengurus PK atas kasus cessie (hak tagih) Bank Bali sebesar Rp546 miliar di Pengadilan Jakarta Selatan. Bagaimana ia bisa leluasa masuk ke Indonesia dan wira-wiri, tentu banyak memerlukan jawaban?

Sejauh ini, Djoktjan leluasa masuk dan wira-wiri, termasuk ke Balikpapan, (1) berkat surat jalan, (2) surat sehat bebas Covid-19 dan (3) red notice Interpol yang terhapus berdasarkan sistem. Ia juga dapat memperoleh Kartu Tanda Penduduk di Kelurahan Grogol, Jakarta Barat, dan mengurus paspor di kantor Imigrasi, Jakarta-Utara.

Tiga yang pertama bermuara di Polri, yang akhirnya berhulu pada mutasi ketiga Pati. Ketiga perwira tinggi sebenarnya punya prospek menyandang bintang dua. Sayang prospek itu meredup. Djoktjan sendiri nyaman di Malaysia dan negara lain.

Meredakan

Tindakan tegas Kapolri Jenderal Pol. Idham Azis dan Kabareskrim Komjen Pol. Listyo Sigit terhadap ketiga Pati yang memfasilitasi Djoktjan memperoleh simpati dari berbagai pihak. Tindakan ini akan menolong citra Polri yang sempat menurun.

Dalam kaitan kasus ini, perlu disimak pernyataan, anggota Komisi III DPR RI, Komjen Pol. (Purn.) Adang Daradjatun. Ia menyatakan jika kasus ini merupakan perbuatan perorangan maka permasalahan yang dihadapi saat ini adalah tentang moral. Tetapi bila ini merupakan kegiatan yang terorganisasi maka telah terjadi quo vadis atau mau dibawa ke mana penegakan hukum ini.

Polisi Teladan

Satu demi satu kasus yang merusak nama baik Polri, selaku institusi, terkuak hingga merusak citra. Penyebab kerusakan citra itu bisa berasal dari individu oknum polisi, tetapi juga berkat kolaborasi. Pihak luar menggandeng oknum yang memegang supremasi hukum.

Oknum tidak berdaya lantaran bertoleransi dan makin tidak berdaya saat pihak luar itu membawa politisi atau orang lain yang berpengaruh. Bila kolaborasi kotor itu tercium, maka inisiator pergi meninggalkan mitranya. Pola seperti ini tampaknya berulang kali terjadi.

Bila terjadi kasus yang mencoreng nama Polri, ingatan melayang kepada mantan Kapolri Hoegeng Iman Santoso (HIS). Sosok yang jujur dan sederhana. Ketika disingkirkan pemerintah Orde Baru, HIS angkrem genjrang genjrung dengan Hawaiian Seniors.

Di berbagai laman disebutkan, ketika dilantik menjadi Kepala Jawatan Imigrasi ia meminta istrinya menutup toko bunga. Padahal omzet toko cukup untuk menambah penghasilan seorang suami yang tidak seberapa.

Saat ditempatkan di Medan, Sumatera Utara, HIS menyuruh para pekerja bangunan mengeluarkan barang-barang yang diberikan pihak tertentu. Barang yang disinyalirkan sebagai sogokan itu dibiarkan teronggok di luar rumahnya.

Masih banyak lagi teladan yang diperlihatkan oleh mantan Kapolri itu, yang boleh jadi dinilai berlebihan, namun membuatnya tak tercela sepanjang masa.

Di mata wartawan, Hoegeng Iman Santoso ditakuti. Tak ada yang berani bersalaman. Genggaman tangannya sangat keras. Kemudian jari-jari lawan bicara diremas-remasnya. Siapa tak meringis!

Tegas dan Jujur

Inspektur Jenderal Ursinus Ellias Meddelu, pernah menjabat Direktur Lalu Lintas Markas Besar Angkatan Kepolisian dan Kadapol Sumut, juga dikenang sebagai jenderal yang jujur. Tak bisa membayar kuliah anak-anaknya dan baru bisa mencicil rumahnya setelah pensiun.

Dirlantas merupakan lahan basah. Penggagas Buku Pemilik Kendaraan Bermotor (BPKB) pada 1968 ini tak mau mengambil uang sedikitpun dari proyeknya itu. Uang masuk pembuatan BPKB dipakai membayar utang Direktorat Lalulintas ke Bank Indonesia, membangun perumahan perwira dan bintara, poliklinik dan pusat pendidikan lalu lintas.

Mantan pengawal Presiden Soekarno tersebut wafat dalam usia 90 tahun pada 6 Januari 2012. Relatif tak ada aset atau uang kas, deposito atau setara kas yang ditinggalkan. Kepada istri dan kedelapan anaknya, almarhum mewariskan nama baik yang dikenang sepanjang zaman!

Koban

Tak banyak yang menyadari, sejak 2004 dan kabarnya akan diperpanjang hingga 2023, Polri bekerja sama dengan Badan Kepolisian Nasional (Keisatsu-cho) Jepang. Tujuannya antara lain mempelajari sistem kepolisian serta mewujudkan keamanan lingkungan dan masyarakat.

Sejumlah aparat Polri dikirim ke Jepang. Sebaliknya, polisi-polisi Jepang berkunjung pula ke Indonesia untuk memberi pelatihan.

Salah satu wujud kerja sama itu adalah berdirinya Koban atau kantor polisi kecil, yang menampung satu sampai sepuluh anggota. Kesitulah warga masyarakat mengadukan kecopetan, kemalingan, dirampok dan sebagainya.

Polisi akan melayani segala keluhan dan pengaduan warga dengan sabar dan takzim. Seraya mencari pemecahannya.

Polisi juga sering keliling, termasuk dengan menggunakan sepeda, untuk menemui warga. Kedekatan polisi dengan anggota masyarakat terwujud. Polisi berperilaku sebagai orang sipil.

Koban sangat efektif menurunkan tingkat kejahatan. Penjahat takut karena polisi hadir di banyak tempat walaupun cuma seorang. Proyek percontohan pertama kali didirikan di Bekasi dan Medan. Hasilnya, tingkat kejahatan menurun.

Partisipasi warga lokal juga luar biasa. Seorang pengusaha di Medan, rela menyerahkan rukonya untuk dijadikan kantor polisi.

Jadi bila melihat kantor polisi ukuran kecil di seberang Bundaran Hotel Indonesia, Taman Suropati, perempatan Pasar Rebo atau tempat lain maka sebutlah itu Koban. Kehadirannya untuk menjaga Kamtibmas. Tugas mulia yang sering disaput nila.

Tulisan adalah kiriman netizen, isi tulisan di luar tanggung jawab redaksi.

Ayo Menulis klik di sini

Editor: M. Naufal Hafizh

artikel lainnya

dewanpers