web analytics
  

Pandemi Corona, Toko Bunga Tetap Buka Meski Tak Ada Pembeli

Rabu, 22 Juli 2020 13:16 WIB M. Naufal Hafizh
Bandung Raya - Bandung, Pandemi Corona, Toko Bunga Tetap Buka Meski Tak Ada Pembeli , Toko Bunga Lembang,Penjual Bunga Lembang,Sentra bunga Cihideung,Wisata Lembang,Dampak Covid-19,Pandemi Covid-19,Virus Corona

Warga saat menyiram tanaman bunga teratai di sentra penjualan tanaman hias Cihideung, Kabupaten Bandung Barat, Sabtu (3/11/2018). (Ayobandung.com/Irfan Alfaritsi)

PARONGPONG, AYOBANDUNG.COM -- Desa Agrowisata Cihideung, Kecamatan Parongpong, Kabupaten Bandung Barat, tak seramai akhir pekan biasanya, Sabtu (18/7/2020). 

“Sudah berbulan-bulan seperti ini,” kata Ahmad (20), salah seorang pedagang tanaman hias di desa tersebut.
Menurutnya, sejak virus corona diumumkan pertama kali masuk Indonesia pada 2 Maret, pengunjung perlahan berkurang. Terlebih saat Bandung Raya menerapkan PSBB pada 22 April 2020. 

Sebelum pandemi corona, kata Ahmad, tiap akhir pekan jalanan di Cihideung padat. Mobil berjejer meski jalur Jalan Kolonel Masturi tersebut cukup sempit dan menanjak. Puluhan pembeli mendatangi kiosnya saat akhir pekan. “Tak terhitung,” katanya. Namun kini beda cerita, pembeli bisa dihitung jari. Pendapatannya terjun drastis.

Dagangan Ahmad pernah tak laku sebulan. Selama itu, dia datang ke tiap pagi, menjaga sambil merawat tanaman, lalu menutupnya tanpa ada satupun pengunjung.

Meski pengunjung terus berkurang bahkan tak ada, Ahmad tetap membuka kiosnya. “Saya bergantung dari sini,” katanya.

cihideung-2Ayobandung.com/M. Naufal Hafizh

Namun, Ahmad mengaku terbilang beruntung daripada pedagang lainnya. Ahmad mendapatkan penghasilan di luar berjualan. Sebulan terakhir, setiap pagi sebelum membuka toko, Ahmad merawat taman di perumahan wilayah Cihideung.

Sekira 80% warga Desa Cihideung merupakan petani bunga. Sebanyak 30% merupakan petani bunga potong yang umumnya digunakan untuk dekorasi pesta, sementara 50% lainnya sebagai petani bunga hias, umumnya dijadikan dekorasi luar dan dalam rumah.

Biaya perawatan bunga hias atau tanaman pot tak terlalu tinggi. Usianya cukup lama. Ahmad pun tidak terlalu rugi soal biaya perawatan karena jarang ada tanaman yang mati.

Selain itu, tanaman bunga hias, jika semakin besar, harganya semakin mahal. Berbeda dengan bunga potong yang usianya relatif singkat, panennya cepat, dan harus segera disalurkan kepada konsumen. Jika tidak, bunga akan layu dan tak menghasilkan pundi-pundi rupiah.

Sebelum pandemi, Ahmad biasa melayani pembeli dari luar kota. Paling banyak dari Jakarta. Namun kini, pembeli umumnya berasal dari Bandung. “Itupun sehari hanya 1-2 pembeli saja,” ujarnya.

Selain menjual tanaman hias, Ahmad melayani pembuatan taman. Sebulan dia bisa melayani 5 klien dari berbagai daerah, mulai dari Bandung Raya, Sumedang, Garut, hingga Indramayu. Namun dalam 5 bulan terakhir, tak ada satupun pesanan. “Ayeuna mah kieu weh. Paling di toko aja nunggu pembeli.”

Setelah Lebaran, pembeli mulai berdatangan. “Ada peningkatan pendapatan sedikit. Tapi masih jauh sekali dari sebelum corona.”

Dia pun berharap corona segera berlalu karena sangat berdampak pada perekonomiannya dan pedagang bunga lain. “Kami bergantung dari jualan bunga dan tanaman. Sulit sekali secara ekonomi.”

Tanpa Protokol Kesehatan Ketat

Ahmad terus bekerja setiap hari. Virus corona masih mewabah. Hingga Selasa (21/7/2020) terjadi 89.869 kasus positif Covid-19 di Indonesia. Namun, sebelum corona hingga masa adaptasi kebiasaan baru, tidak ada perubahan signifikan dalam cara berdagang Ahmad, kecuali penggunaan masker dan kesadaran jaga jarak.

cihideung-3Ayobandung.com/M. Naufal Hafizh

“Tak ada protokol kesehatan (tempat cuci tangan dan pengecekan suhu). Biasa aja, normal,” kata Ahmad.
Sejauh ini pun, kata dia, belum ada penyuluhan dari pemerintah soal protokol kesehatan berjualan saat pandemi corona. Di sisi lain, Ahmad tetap menerapkan jaga jarak dan yakin tokonya tidak rawan corona seperti tempat yang mengundang keramaian.

Salah seorang pembeli bunga hias asal Depok, Nabilah (25), Sabtu (18/7/2020), mengaku tidak khawatir saat belanja ke Cihideung. Meski tidak ada protokol kesehatan yang ketat, seperti tempat cuci tangan dan pengecekan suhu, dia merasa nyaman karena tempatnya tidak terlalu ramai.

Pedagang bunga hias lainnya, Wati (32), juga hanya memakai masker saat pandemi corona. Dia mengaku banyak kendala jika harus menerapkan protokol tersebut. “Tapi sepertinya orang-orang sudah sadar soal itu mah (mencuci tangan dan cek suhu tubuh). Jadi tidak terlalu khawatir.”

Sama seperti Ahmad, Wati menggantungkan hidup dari berjualan bunga hias dan tanaman pot. “Sebelum corona banyak pembeli, hampir tiap hari ada terus dari Jakarta. Tapi setelah PSBB jadi sepi,” katanya.

Ketika banyak penjual mulai memasarkan barangnya secara daring, Ahmad maupun Wati belum berencana ke arah sana. Mereka masih akan berdagang secara tradisional sembari berharap corona pergi dan pembeli datang kembali.

 

Editor: Rizma Riyandi

artikel terkait

dewanpers