web analytics
  

Ini Penjelasan Dokter soal Wanita Tasik Hamil 1 Jam Lalu Melahirkan

Senin, 20 Juli 2020 13:04 WIB Irpan Wahab Muslim
Umum - Regional, Ini Penjelasan Dokter soal Wanita Tasik Hamil 1 Jam Lalu Melahirkan, Cryptic Pregnancy,hamil 1 jam,Heni Nuraeni,Berita Tasik,hamil

Dokter Kebidanan dan Penyakit Kandungan Rumah Sakit Singaparna Medika Citrautama, Asep Taslim (Irpan Wahab/Ayotasik.com)

TASIK, AYOBANDUNG.COM -- Proses kehamilan hingga melahirkan seorang ibu di Kampung Mandalasari, Desa Mandalasari, Kecamatan Puspahiang, Kabupaten Tasikmalaya hanya berjarak 1 jam bukan hal aneh.

Dokter Kebidanan dan Penyakit Kandungan Rumah Sakit Singaparna Medika Citrautama, Asep Taslim mengatakan, kasus serupa, kemungkinan terjadi dalam sekala 400 kasus berbanding 1 kasus kejadian. 

Dari sudut pandang ilmu kedokteran kandungan, kata dia, memang proses kehamilan membutuhkan waktu sekitar 9 bulan, yang diawali dari bertemunya sperma dengan indung telur.

"Proses kehamilan itu kan dimulai dari proses bertemunya sperma dengan indung telur. Proses menghadirkan segumpal darah dan daging sampai dihembuskan detak jantung pertama  6 minggu, jadi tidak mungkin dalam rentan waktu 1 jam hamil dan melahirkan, " ucap Asep, Senin (20/7/2020).

Pada kasus yang terjadi di Mandalasari, kata Asep, pasien atau ibu bernama Heni Nuraeni (28) karena tidak menyadari hamil atau dalam dunia medis disebut Cryptic Pregnancy

Cryptic Pregnancy terjadi pada seorang perempuan hamil, tetapi tidak menyadari kehamilannya karena gejala kehamilan yang sangat halus.

"Bisa saja karena ketidaksiapan secara psikologis, si ibu tidak menyadari bahwa dirinya hamil. Di sini juga banyak kasus yang seperti itu, saat kontrol tahunya sudah usia kandungan 9 bulan dan siap melahirkan," ucap Asep.

Sementara untuk gerakan dan gejala kehamilan, lanjut Asep, dimungkinkan tidak terasa adanya gerakan-gerakan bayi di dalam kandungan. Kondisi itu, bisa dipengaruhi oleh faktor berat badan ibu yang berlebihan.

"Kenapa tidak ada mual, muntah atau bertambahnya bentuk perut, kemungkijan karena berat badan si ibunya berlebih jadi tidak terjadi gejala semacam orang hamil lainnya," ujar Asep.

Sementara terkait proses menstruasi yang diakui Heni selalu terjadi tiap bulan, Asep memperkirakan, darah yang keluar tiap bulan yang dialami Heni bukan menstruasi. Karena saat kehamilan tidak semuanya berjalan lancar, artinya ada kasus di mana terjadinya pendarahan saat kehamilan yang itu berbeda beda sesuai dengan status kehamilan.

"Selama hamil, menstruasi itu berhenti. Kalaupun ada darah, itu bukan darah menstruasi. Karena saat kehamilan, ada juga pendarahan dan itu tergantung dari usia kehamilannya," ujar Asep.

Editor: Adi Ginanjar Maulana

artikel terkait

dewanpers