web analytics
  
Banner Kemerdekaan

Gedung Mapolrestabes Bandung, Dulunya Sekolah Guru Kaum Pribumi

Senin, 20 Juli 2020 12:41 WIB Nur Khansa Ranawati

Gedung Mapolrestabes Bandung di Jalan Merdeka (Dok. Humas Polrestabes Bandung)

LENGKONG, AYOBANDUNG.COM -- Gedung Mapolrestabes Bandung yang terletak di persimpangan Jalan Merdeka dan Jalan Jawa memiliki sejarah yang cukup panjang. Sebelum digunakan sebagai markas kepolisian,  bangunan yang masih mempertahankan fasad aslinya tersebut awalnya merupakan sekolah bagi calon guru di era kolonial Belanda.

Sekolah tersebut dinamai Kweekschool voor Inlandsche Onderwijzers atau Sekolah Guru bagi Kaum Pribumi. Kweekschool di Kota Bandung didirikan pada 1864-1866, setelah sejumlah Kweekschool lain dimulai di beberapa daerah di Indonesia.

Sekolah pendidikan bagi para calon guru ini merupakan tindak lanjut dari keputusan Raja Belanda pada 30 September 1848 tentang pembukaan sekolah dasar negeri. Dibukanya sekolah negeri di Hindia Belanda tentu memerlukan tenaga pengajar, dan oleh karenanya kweekschool didirikan berdasarkan keputusan pemerintah Hindia Belanda pada 1851.

Berdasarkan keterangan komunitas pegiat sejarah Bandung, yakni Komunitas Aleut di laman blog-nya, sekolah guru yang pertama dibuka terletak di Solo pada 1852. Disusul oleh daerah lain seperti Bukittinggi, Tapanuli, termasuk Kota Bandung.

Sekolah berbasis asrama ini dapat diikuti tidak hanya oleh kaum elit, melainkan golongan yang lebih luas dari kalangan pribumi. Meski dapat diikuti oleh kalangan non-elit, namun jebolan sekolah ini memiliki sejumlah privilese di masyarakat karena guru dipandang sebagai sosok yang dihormati.

Para peserta didik kweekschool juga menjalani praktik mengajar atau serupa magang di sejumlah sekolah. Nantinya, para lulusan kweekschool akan diberi gelar 'mantri guru' dengan gaji sangat tinggi.

Salah Kaprah Sekolah Raja

Banyak cerita dan anggapan yang beredar bahwa kweekschool di Jalan Merdeka ini disebut sebagai "Sekolah Raja". Salah satunya karena siswa yang bersekolah di sana merupakan anak para pejabat.

Hal tersebut juga menjadikan taman yang terletak di seberang sekolah tersebut dinamai sebagai "Kebon Raja" oleh masyarakat Bandung. Taman tersebut sekarang bernama Taman Dewi Sartika yang berada satu komplek dengan Balai Kota Bandung.

Padahal, sekolah raja sebenarnya merujuk pada sekolah OSVIA (Opleiding voor Inlandsche Ambtenaren), yakni sekolah untuk pendidikan pegawai bumiputera. Para siswanya mayoritas merupakan anak-anak bupati ataupun pegawai pemerintahan Hindia Belanda dari berbagai daerah.

Sejarawan Universitas Pendidikan Indonesia, Agus Mulyana menyebutkan bahwa OSVIA juga merupakan sekolah bagi calon pegawai pemerintah atau sekolah Pamong Praja. Nantinya, para lulusan diarahkan untuk berkarir menjadi pegawai pemerintahan hingga menjadi bupat.

"Kalau sekarang mungkin bentuknya seperti IPDN di Jatinangor," ungkapnya beberapa waktu lalu. Bupati Bandung Wiranatakusumah juga sempat mengenyam pendidikan di OSVIA meskipun tidak diselesaikan.

Lokasi OSVIA di Bandung pun simpang siur. Sebagian menyebut OSVIA adalah sekolah yang berada di Jalan Merdeka, namun ada pula yang menyebut bahwa OSVIA terletak di wilayah Tegallega.

Bergaya Neo Klasik

Berdasarkan penuturan Sudarsono Katam dalam Album Bandoeng Tempo Doeloe, gedung kweekschool ini didirikan dengan gaya arsitektur neo-klasik. Salah satu cirinya adalah penggunaan tiang-tiang kolom yang mengadopsi desain dari era Ionic Order--salah satu dari tiga ordo dalam arsitektur klasik.

"Gaya arsitektur ini berkembang pada 1800-an, amat digemari oleh tuan-tuan tanah kaya," tulisnya.

Kesan utama yang disiratkan dari gaya arsitektur tersebut adalah perlambang kekuasaan, sehingga gaya bangunan ini juga dikenal dengan istilah Indische Empire Stijl. Terdapat sejumlah bangunan lain di Kota Bandung dengan gaya arsitektur serupa.

Salah satunya adalah Gedung Pakuan Bandung. Ciri khasnya yang menonjol adalah kolom-kolom tiang pada fasad bangunan yang memberikan memberikan kesan megah.

Seiring dengan berjalannya waktu dan diraihnya kemerdekaan Indonesia, gedung ini beralih fungsi menjadi markas kepolisian pada 1966. Kala itu, polsek jajaran seperti saat ini belum terbentuk, dan kepolisian di Kota Bandung masih dikenal dengan nama "Komtabes 86 Bandung".

Nama tersebut terus mengalami pergantian menjadi "Poltabes Bandung", "Polwiltabes Bandung" hingga berubah menjadi "Polrestabes Bandung" hingga saat ini. Fasad bangunan yang bergaya Indische Empire Stijl masih diadopsi sampai sekarang.

 

Editor: Rizma Riyandi

artikel lainnya

dewanpers